Biografi KH Abdul Halim Leuwimunding

Biografi KH Abdul Halim Leuwimunding

Abdul Halim atau yang dikenal sebagai KH Abdul Halim Leuwimunding ((1898-1972), lahir pada 1898. Saat kecil ia menuntut ilmu di Pesantren Trajaya (Majalengka), Pesantren Kedungwuni (Kadipaten) dan Pesantren Kempek (Cirebon). Pada tahun 1914 ketika usianya baru menginjak enam belas tahun, ia berkesempatan untuk menuntut menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu ke tanah Hijaz. Di sanalah ia sempat menimba ilmu secara langsung dari Abu Abdul Mu’thi, Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani yang lebih tersohor dengan sebutan Imam Nawawi Banten.

Sebelumnya dua pamannya telah berada di sana, yaitu H. Ali dan H. Jen. Di Makkah Abdul Halim bertemu dan berkawan baik dengan KH. Abdul Wahab sebagai teman sekaligus gurunya. Ia kemudian pulang ke tanah asalnya pada 1917, dan satu tahun kemudian ia mencari ilmu di pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. 

Saat itu Abdul Halim adalah anggota sekaligus pengurus Sarekat Islam (SI), termuda di Hijaz. Di mana SI adalah organisasi para ulama Nusantara yang berkonsentrasi untuk menentang kebijakan-kebijakan pemerintah penjajahan Hindia Belanda di Nusaantara. Melalui SI, kebijakan-kebijakan pemerintah jajahan yang tidak sesuai dengan syariat Islam dan sangat merugikan rakyat, ditentang secara konstitusional. Hingga pada gilirannya, para ulama pengurus SI kemudian menggabungkan diri ke NU setelah organisasi yang terakhir ini didirikan pada tahun 1926.

Selama menuntut ilmu di Mekkah inilah sifat moderat dan kompromi sebagi ulama yang berjiwa besar ditunjukkan oleh Abdul Halim. KH Abdul Hhalimlah yang mendamaikan KH Wahab Chasbullah Jombang dan KHR Asnawi Kudus, ketika keduanya terlibat sebuah persengketaan. Pada waktu itu kedua ulama yang sedang bersengketa ini merupakan senior sekaligus guru dari Abdul Halim. Sementara itu Abdul Halim juga patuh ketika KH Wahab Hasbullah menegurnya karena sering memperdengarkan kidung bergaya Pasundan ketika mereka sedang mengulang-ulang pelajaran.

Kelahirannya sebagai putra tunggal seorang kuwu di Majalengka menjadikan KH Abdul Halim tidak cangung lagi ketika dilibatkan dalam berbagai kepengurusan di SI Hijaz. Demikian pun ketika ia kembali ke Tanah Air pada 1917. Sepulangnya dari tanah Suci, KH Abdul Halim membantu orang tuanya di kampung untuk meringankan penderitaan rakyatnya akibat penjajahan Belanda.

Abdul Halim kemudian mengembara ke Surabaya untuk bergabung dengan teman-teman seperjuangannya. Di Surabaya, atas jasa Kyai Amin Peraban, Abdul Halim bertemu kembali dengan KH Wahab Hasbullah senior sekaligus gurunya selama di Hijaz. Karena hubungan baiknya, KH Abdul Halim kemudian dipercaya sebagai pengajar di Nahdlatul Wathan di kampung Kawatan VI Surabaya. Selain mengajar KH Abdul Halim juga dipercaya sebagai pengatur administrasi dan inisiator kegiatan belajar mengajar seta pembukaan forum-forum diskusi.

Sebagai seorang santri Pasundan yang pandai berkidung dan menguasai ilmu Balaghoh (sastra Arab) maka KH Abdul Halim kemudian banyak sekali menciptakan syair-syair berbahasa Arab untuk memompa semangat perjuangan santri-santri yang tergabung di dalam Nahdlatul Wathan.

Kedekatan KH Abdul Halim dengan KH Wahab Hasbullah menjadikan yang pertama sebagai pengikut setia sekaligus semacam asisten bagi nama kedua. Melalui aktivitasnya di Nahdlatul Wathan inilah KH Abdul Halim menerapkan gagasan-gagasan keagamannya tentang interaksi sosial dan solidaritas politik dan kebangsaan dalam masyarakat. Selain nahdlatul Wathan, KH Abdul Halim juga tercatat sebagai pengajar di Tashwirul Afkar Surabaya.

Selama mengabdi di Surabaya, berkali-kali KH Abdul Halim pulang ke Majalengka untuk menyampaikan kabar-kabar terbaru dari Surabaya yang kala itu merupakan pusat perjuangan kaum santri dalam membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan dan kebodohan umat. Setiap pulang ke Majalengka, KH Abdul Halim selalu mendatangi rumah-rumah penduduk untuk mengajarkan dan memperkenalkan faham Ahlussunnah Waljamaah. KH Abdul Halim selalu membagi-bagikan gambar-gambar dan surat kabar Soeara Nahdlatoel Oelama kepada masyarakat di daerah Majalengka dan sekitarnya.

Tahun 1942 ketika ormas-ormas Islam dibekukan oleh pemerintah penjajahan Jepang, KH Abdul Halim mendapat dua tantangan besar di daerahnya. Intervensi Jepang kepada para pemuda untuk bergabung dalam pasukan militer Jepang dan kebanggan para pemuda untuk menjadi komunis merupakan dilema yang sangat sulit dihadapi.

Dalam situasi inilah KH Abdul Halim membentuk Hizbullah cabang majalengka bersama KH Abbas Buntet Cirebon. Hizbullah Majalengka kemudian bahu membahu bersama dengan kelompok-kelompok pejuang lainnya, baik dari laskar-laskar santri maupun laskar-laskar pemuda lainnya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada tahun 1955 KH Abdul Halim menjadi anggota DPR dari partai NU dari perwakilan Jawa Barat. Sejak saat ini perjuangan KH Abdul Chalim lebih dititikberatkan pada pemberdayaan warga NU Jawa Barat dengan membentuk berbagai wadah pemberdayaan masyarakat seperti PERTANU (Perkumpulan Petani NU), PERGUNU (Perkumpulan Guru NU) dan pendirian lembaga-lembaga pendidikan NU di Jawa Barat lainnya.

Pada suatu hari tanggal 11 April 1972 M., selepas menunaikan ibadah salat, KH Abdul Chalim menghadap Ilahi dengan tenang. Beliau dimakamkan di kompleks pesantren Sabilul Chalim Leuwimunding, Majalengka.

Pelopor Koperasi NU

Pelopor pendiri (CKM) ini adalah KH Abdul Halim, salah seorang pengurus Hofdbestuur NU. Barang-barang yang mulai diperjual-belikan ketika itu berupa kebutuhan primer (kebutuhan sehari-han) seperti: beras, gula, kopi, rokok, pasta gigi, sabun, kacang, minyak dan sebagainya. 
 
Namun yang menarik dari usaha ini adalah peraturan dasar CKM yang, kala itu, sudah disahkan sebagai model koperasi NU di tempat-tempat lain. Ini pertanda langkah awal menuju sosial ekonomi sudah mulai telihat di tahun 1929 itu. 
 
Peraturan CKM mengenai pembagian keuntungan, misalnya, dibagi lima bagian: 40 persen untuk pegawai (penjual), 15 persen untuk pemilik modal, 25 persen untuk menambah kapital (berarti pemilik modal mendapat bagian 4O persen), 5 persen untuk juru komisi (iuru tulis) dan 15 persen untuk jam’iyyah Nahdlatul Ulama. 
 
Apa yang terurai di atas, baik mengenai pendidikan, masalah sosial maupun dakwah, adalah sekedar contoh bagi usaha-usaha yang ditempuh NU di masa perintisannya. 
 
Dengan kata lain, pada awal sejarah pertumbuhannya, NU telah membuktikan pengabdiannya kepada agama dan masyarakat baik di bidang pendidikan, sosial maupun dakwah. Selain juga berhasil mengemban tugas sebagai pemeljhara kelestatian paham Ahlussunah wal jama’ah ‘ala Imdzabibil anhaab.
 

Kitab Nadham ‘Sejarah Besar NU’ Karya KH Abdul Halim Leuwimunding

Ini adalah naskah kitab yang berjudul “Sejarah Perjuangan Kiyahi Haji Abdul Wahhab” karangan salah satu pendiri organisasi Nahdtalul Ulama (NU) yang berasal dari Pasundan (Jawa Barat), tepatnya dari Leuwimunding, Majalengka, yaitu KH. Abdul Halim (1898-1972 M).

Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu-Indonesia beraksara Arab (Jawi-Pegon) dalam bentuk nadhaman (puisi Arab). Meski berjudul “Sejarah Perjuangan Kiyahi Haji Abdul Wahhab” (KH. Abdul Wahhab Hasbullah), namun kandungan kitab ini mengungkapkan sejarah besar pendirian dan perjuangan NU dari masa ke masa.

KH. Abdul Halim Leuwimunding adalah salah satu murid terdekat dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Tambak Beras Jombang), sekalus kader andalan beliau. Ketika ikut sama-sama membidani kelahiran NU pada tahun 1926 M di Surabaya, KH. Abdul Halim Leuwimunding menjadi salah satu pendiri termuda (selain KH. As’ad Syamsul Arifin, Asembagus Situbondo), sekaligus satu-satunya pendiri yang berasal dari Pasundan. Pada saat itu, KH. Abdul Wahhab Hasbullah menunjuk KH. Abdul Halim Leuwimunding sebagai katib tsani.

Melalui kitab ini, sejarah organisasi Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah itu didedahkan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding dalam bentuk puisi secara runut, ringkas, dan kaya akan data serta informasi. Karena itu, keberadaan kitab ini menjadi sangat penting sebagai salah satu sumber utama sejarah besar NU yang langsung ditulis oleh salah satu pendirinya.

Saya mendapatkan salinan naskah ini dari sahabat saya al-Fadhil Agus H. Muhammad al-Barra putra KH. Asep Saifuddin Chalim, yang merupakan cucu dari pengarang kitab ini. Rencananya kitab ini akan dijadikan beliau sebagai bahan utama kajian disertasi doktoral beliau pada Departemen Filologi Universitas Padjadjaran Bandung.

Pada kolofon, disebutkan penulisan kitab ini diselesaikan pada 12 September 1970 M (bertepatan dengan 11 Rajab 1390 Hijri). Kitab ini kemudian dicetak oleh Percetakan “Baru” yang terletak di Jalan Pajagalan 3, Bandung (Jawa Barat), dengan tebal 31 halaman. Tertulis di sana;
 
دافت إذن دي جيتاك ايني رواية # ياله تغكال دوابلاس ايتو تفات
سفتيمبر سمبيلان بلس توجوه فولوه # سيا مغهادف كجومباغ دغن سغكوه
مودهمودهان توهن ممبري منفعة # فدا رواية ايني يغ سيا سيغكات
 
(Dapat izin dicetak ini riwayat # ialah tanggal dua belas itu tepat
September Sembilan belas tujuh puluh # saya menghadap ke Jombang dengan sungguh
Mudah-mudahan Tuhan memberi manfaat # pada riwayat ini yang saya singkat)

Melihat tanggal penulisan kitab ini dalam tahun Hijriah, yaitu 11 Rajab 1390 H), tampaknya kitab ini ditulis untuk menyambut peringatan hari lahir NU yang ke-46. Organisasi NU sendiri diresmikan pada 16 Rajab 1344 Hijri (bertepatan 31 Januari 1926 Masehi).

Dalam kata pengantarnya, KH. Abdul Halim Leuwimunding mengatakan jika banyak koleganya yang hendak mengetahui sejarah besar NU dari awal mula berdirinya, peran serta kiprahnya dalam perjuangan keagamaan Islam, kebangsaan Indonesia, serta kemanusiaan, hingga sampai pada tahun 1970 ketika karya ini ditulis dan NU sudah menjadi sebuah organisasi keislaman terbesar di Nusantara. Beliau menulis;
 
سيا بكين رواية فدا فوكويا # بياق تمان ايغين مغتاهوئييا
ايغين تاؤ اسال () برديرييا # هيغكا جدي فرتي بسارله ياتيا
ميلوروه سوده دي كنال ناميا # تيدأ اسيغ دونيا مغتاهوئييا
مكا يغ تيمفو برديري فرتاميا # هيا تيغكال يغ ميسيه امفات اوراغيا
 
(Saya bikin riwayat pada poko[k]nya # banyak teman ingin mengetahuinya
Ingin tau asal NU berdirinya # hingga jadi [se]perti besarlah nyatanya
Menyeluruh sudah dikenal namanya # tidak asing dunia mengetahuinya
Maka yang tempo berdiri pertamanya # hanya tinggal yang masih empat orangnya).

KH. Abdul Halim Leuwimunding kemudian melanjutkan;
 
سيا يويون اياله دغن سعيران # بييار اناك2 تاؤ بركمبيرأن
مغتاهوئي علماء جارا برفيكير # مغتاهوئي تراديسي بهان فميكير
مورني تيدأ ترجامفور ايدي فنجاجه # سباب غرتي صفة منوسيا حرية
 
(Saya susun ialah dengan si’iran # biar anak-anak tau bergembiraan
Mengetahui ulama cara berpikir # mengetahui tradisi bahan pemikir
Murni tidak tercampuri ide penjajah # sebab ngerti sifat manusia huriah [merdeka]).

Dalam menulis kitab nadham sejarah besar NU ini, KH. Abdul Halim terlebih dahulu meminta izin dan restu dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (w. 1971 M) dan KH. Ahmad Syaikhu, dan KH. Idham Cholid (yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU). KH. Abdul Halim Leuwimunding menulis;
 
سيا مينتا اذن فا كياهي وهاب # سباب ايتو كورو سيا وقتو طلب
مينتا اذن فا شيخو ياله سبابيا # سباب سورابيا مولائي برديرييا
جوكا مينتا اذن ككتوا عموم # فا كياهي إدهام فيمفنان هارس معلوم
 
(Saya minta izin Pak Kiyai Wahhab # sebab itu guru saya waktu tholab (belajar)
Minta izin Pak Syaikhu ialah sebabnya # sebab Surabaya mulai berdirinya (NU)
Juga minta izin ke ketua umum # Pak Kiyai Idham (Cholid) pemimpin harus maklum).

Dikatakan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding, bahwa dalam menyusun kitab nadham sejarah besar NU ini, dirinya bersandar pada muktamar-muktamar NU yang hingga pada masa itu sudah berlangsung 24 kali. Kesemua (24) muktamar itu selalu dihadiri oleh beliau. Karena itu, sebaga macam perkembangan, perubahan, dan keputusan NU dari masa ke masa dapat diketahui dengan sangat baik oleh beliau.

 

Lebih Dikenal Berkat Gus Dur

KH Abdul Halim (1898-1972) memang kurang dikenal. Namanya sering pula dikelirukan dengan tokoh NU lain dari Majalengka, Jawa Barat, yang bernama Abdul Halim. Dua-duanya tokoh NU, namun Abdul Halim yang ditulis ini adalah salah satu pendiri NU dan berasal dari Desa Leuwimunding. Untuk membedakan keduanya, di belakang nama tokoh pendiri NU ini ditambahkan Leuwimunding.

Nama KH Abdul Halim baru lebih dikenal setelah mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berziarah ke makam Kiai Halim di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat pada Maret 2003. Kiai Halim juga tersorot saat rombongan Kirab Santri Nasional 2015 Surabaya-Jakarta singgah dan berdoa di makam kiai tersebut.

Mengapa Gus Dur berziarah ke makam KH Abdul Halim Leuwimunding? Alkisah pada awal 2003, sejumlah pengurus dan anggota Banser NU Majalengka sowan pada Gus Dur di kediamannya di Ciganjur. Saat tiba di Ciganjur, Gus Dur ternyata masih belum datang dari kunjungan ke Prancis. “Ya, para anggota Banser memutuskan menunggu beberapa hari,” kata Ustadz Arifin Muslim, mantan Ketua Banser Majalengka.

Menurut Arifin, setelah Gus Dur datang dari kunjungannya di luar negeri, para aktivis Banser itu diterima di kediamannya. Dalam perbincangan tersebut, Gus Dur bertanya dari mana para tamunya.
Saat diberitahu bahwa para Banser itu dari Leuwimunding, Majalengka, sontak Gus Dur kaget.

“Leuwimunding? Saya punya guru di sana, sudah wafat memang. Namanya Kiai Abdul Halim,” kata Gus Dur seperti ditirukan Ustadz Arifin.

Segera saja, kata Arifin, Gus Dur memanggil stafnya untuk mengagendakan ziarah ke makam Kiai Abdul Halim, dalam rangkaian acara kunjungannya ke Cirebon dan sekitarnya. Dalam sambutannya sekitar 45 menit di depan warga Leuwimunding di area makam Kiai Halim, Gus Dur mengemukakan peran besar Kiai Halim di masa sebelum berdirinya NU, saat pendirian, dan dalam perkembangan NU. “Banyak yang hadir saat kunjungan ziarah Gus Dur di makam Kiai Halim. Ada ratusan orang warga Nahdliyin,” tutur Ustadz Arifin.

Kunjungan Gus Dur tersebut menunjukkan betapa besarnya perhatian pemimpin terkemuka NU dan mantan Presiden RI tersebut. Pertanyaannya sekarang, bagaimana perhatian warga masyarakat, terutama kalangan NU sendiri?  Tidak mudah memang merangkai cerita tentang seorang tokoh yang selalu “bekerja dalam diam”.

Tokoh ini sungguh rendah hati. Untungnya, ada sejumlah tulisan karya Kiai Halim yang ditinggalkan, khususnya tentang berdirinya NU, tokoh-tokohnya, serta perkembangan NU hingga tahun 1970. Tahun itulah buku karya Kiai Halim, Sejarah Perjuangan KH Wahab Chasbullah, yang ditulis dengan huruf Arab Pegon diterbitkan. Sebuah buku kecil memang, yang dilampirkan di bagian belakang buku ini. Tetapi itulah satu di antara sedikit buku yang membahas sejarah NU saat itu. Amat langka penulis yang menulis buku tentang NU, termasuk dari kalangan NU sendiri.

Tetapi sejarah telah menunjukkan bahwa Kiai Halim sangat dekat dengan KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah. Dengan kata lain, Kiai Halim adalah orang kepercayaan kedua ulama terkemuka tersebut. Lewat  Kiai Halim, dua kiai tersebut merancang komunikasi lewat surat-surat dengan para ulama terkemuka se Jawa dan Madura.