Kisah Almarhum Sutopo Hadapi Ujian Hidup Hingga Jadi Orang Berpengaruh di Asia

Kisah Almarhum Sutopo Hadapi Ujian Hidup Hingga Jadi Orang Berpengaruh di Asia

LADUNI.ID, Mengisnpirasi Dunia, kisah Pak Topo panggilan akrab dari Sutopo Purwo Nugroho adalah seorang Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB. Pria kelahiran Boyolali ini begitu mengispirasi terutama dalam ketegarannya mengahadapi penyakit kanker yang dideritanya.

"Ketegaran Pak Topo ini sampek mana-mana loh, misalnya masuk nominasi orang paling berpengaruh di Asia tahun 2018" ujar Najwa Shihab di salah satu acaranya.

The Straits Times newspaper in Singapore named Mr. Sutopo an “Asian of the Year 2018” yang artinya Dalam Surat kabar The Straits Times di Singapura menyebut Mr. Sutopo sebagai "Orang Asia Tahun 2018".

Beliau juga pernah diwawancarai secara khusus oleh New York Times dengan judul "He Helped Indonesia Through a ‘Year of Disasters,’ While Facing His Own" yang artinya " Dia Menolong Indonesia Menghadapi Tahun Bencana Sambil Menghadapi Miliknya Sendiri"

"Saya ingin tahu, kekuatan Pak Toppo dalam mengahadapi semua itu dari mana?" Tanya Najwa. 

"Pertama saya dalam kondisi seperti itu, dunia itu runtuh, tetapi begitu ada bencana semua masyarakat Media selalu mencari saya, sehingga saya selalu tampil, sakit itu saya abaikan" Jawab Pak Topo. 

"Dan pekerjaan itu justru menjadi penguat Bapak Sutopo?" Najwa kembali bertanya.

"Iya, karena Faktanya semua menunggu informasi yang saya sampaikan, harus cepat, tepat, update dan lain sebagainya, itu yang saya lakukan" Jawabnya. 

"Jadi sebenarnya kita hidup itu semua sudah tertulis kan, sudah diatur semua, kita tinggal menjalani, sukses tidaknya itu semua tergantung dari diri kita, selama kita bisa mengalahkan diri kita sendiri, maka kita akan berhasil. Kesulitan yang terbesar adalah bagaimana mengarahkan diri kita sendiri" Ujar Pak Topo.

"Apa sih yang menjadi motivasi Pak Toppo bisa semangat dan masih bisa bekerja keras Walaupun Bapak sedang menderita penyakit kanker, Apalagi sudah stadium 4 Apakah tidak berpengaruh terhadap kesehatan Bapak" Tanya Najwa disela-sela perbincangannya itu.

"Setelah saya memaknai bahwa semua sudah garis tangan saya, semua sudah ditentukan, jadi saya menerima dengan ikhlas, tapi nyaman rasanya, tidak ada beban dan saya selalu berpegang "Makna hidup itu bukan ditentukan panjang pendeknya usia, tapi seberapa besar kita memberikan manfaat untuk sesama" Ungkap pria tangguh dari Boyolali ini.

"Setelah terjadi bencana semua menunggu informasi saya, sehingga dalam kondisi apapun selalu saya sampaikan".

"Saya rasa semua manusia takut dengan kematian, saya mengalami masa-masa itu. Tapi ketika saya menerima ikhlas ya udahlah saya mendekatkan diri saya perbanyak amal perbuatan".

"Dalam kondisi seperti itu saya siap, saya juga mengatakaan kepada keluarga kalau saya udah siap, yang menguatkan saya sebenarnya adalah anak-anak jadi kadang anak-anak telepon "Pah gimana kondisinya?" saya jawab "Baik", "Papah sakit ya?" kadang melihat pemberitaan saya sakit itu, kepikiran, kadang pengen pulang, satu minggu pulang hanya pengen ketemu dengan saya, yang kecil juga sama, karena, saya kalau cerita anak selalu nangis jadinya, setelah sakit itu kan susah tidur karena rasa nyeri".

"Papah Sakit ya?" saya jawab "Iya papa jarang tidur" jadi saya berusaha untuk tetap semangat dan memang yang menguatkan saya itu adalah anak, nggak ada keinginan-keinginan yang lain karir bagi saya sudah cukup, udah saya nikmati, pangkat saya mentok, pendidikan saya sudah mentok, dan ya saya nikmati aja. Yang penting saya bisa sembuh bisa mendampingi anak-anak membesarkan anak-anak dan dan pda masyarakat bisa lebih bermanfaat". Tutup Pak Topo.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari Bapak Sutopo yang selalu ikhlas dalam menjalani kehidupannya itu, walapun maut sedang mengintai nyawa Pak Topo.