Pola Baru Perekrutan Anggota Jaringan Teror

Pola Baru Perekrutan Anggota Jaringan Teror

LADUNI.ID, Jakarta -  Sosial media seperti aplikasi Facebook, Telegram dan WhatsApp menjadi media pintu masuk  yang jitu untuk proses perekrutan anggota jaringan teror baru yang awalnya menggunakan pola lama yaitu dilakukan secara offline melalui pengajian-pengajian atau melalui tatap muka secara langsung.

Proses perekrutan dalam metode baru ini cenderung singkat dan tidak memakan waktu lama. Hanya saja, metode seperti ini sangat rentan adanya upaya infiltrasi dan tidak sepenuhnya aman.

Dengan perkembangan informasi yang semakin pesat sehingga media informasi tidak hanya berfungsi sebagai penyampain pesan, sebagai alat komunikasi untuk merekrut massa atau anggota baru dan sebagai tujuan komersil tetapi juga berfungsi untuk membentuk opini masyarakat dan sebagai media doktrinasi.

Salah satu dampak yang ditimbulkan oleh kemajuan media informasi adalah pemberitaan mengenai tindak kriminalitas atau perilaku terorisme yang selalu dikaitkan pada narasi agama selain itu juga dapat berakibat negatif terhadap jaringan sosial, yaitu dengan merebaknya kejahatan dan kekerasan bahkan terorisme menggunnakan internet sebagai media utama. Selain itu, teknologi digital dapat mengakibatkan munculnya jaringan individu sebagai struktur sosial dan evolusi sejarah.

Dan tentu, ini akan menjadi tantangan bagi pemerintah kedepannya dalam upaya menggerus berbagai propaganda yang mendorong individu untuk terlibat dalam aksi teror. Di satu sisi, media sosial juga ibarat pisau bermata dua, bisa berperan positif namun terkadang juga negatif bergantung siapa penggunanya dan untuk tujuan apa.

Sebagai contoh nyata dampak negatif dari sosial media. Pada kasus Azhar Basir, seorang pemuda asal Lamongan, Jawa Timur dan Robi Rubiansyah. Keduanya terjebak dalam lingkaran terorisme justru bermula dari media sosial, adanya kesamaan prinsip dan sudut pandang membuat mereka saling berjejaring dan membentuk kelompok ‘bayangan’. Yakni, melakukan konsolidasi dan perencanaan aksi dengan tanpa harus bertatap muka melainkan hanya lewat sosial media. Bahkan media sosial juga bisa menjadi sarana untuk melakukan prosesi sumpah bai’at, tanpa harus bertemu secara langsung.

Manuel Castells dan Gustavo Cardosa dalam bukunya yang berjudul The Network Society: From Knowledge to Policy (dalam Purwadidada, 2014) menjelaskan bahwa perkembangan jaringan sosial (network society) saat ini dan di masa depan sangat bergantung, serta dipengaruhi oleh perkembangan teknologi media. Teknologi media membuat jaringan sosial lebih luas, menembus batas-batas lingkungan sosial itu sendiri. Jaringan merupakan domain kehidupan pribadi.

Komunikasi digital adalah tulang punggung jaringan sosial. Teknologi digital memungkinkan jaringan untuk mengatasi batasan ruang. Mereka bisa pada saat bersamaan menjadi fleksibel dan adaptif berkat kapasitas untuk mendesentralisasi kerja, tapi masih mampu mengkoordinasi semua kegiatan desentralisasi tersebut  pada tujuan bersama dalam pengambilan keputusan.

 

Sumber: ruangobrol.id