'Tol Langit' = Jaringan Fiber Optik + HTS

'Tol Langit' = Jaringan Fiber Optik + HTS

LADUNI.ID, Bandung - Agustus ini proyek keseluruhan paket Palapa Ring diharapkan rampung. Paket Barat dan Tengah sudah beroperasi sejak 2018. Terakhir, Paket Timur pembangunannya sudah 96% dan ditargetkan selesai bulan ini.

Meskipun demikian, paket Palapa Ring belum menyelesaikan masalah ketersediaan sambungan internet di seluruh Indonesia. Jaringan fiber optik yang dibangun belum bisa menjamin tersedianya akses internet untuk 10 ribu kantor kecamatan, 75 ribu kantor desa, 10 ribu Puskesmas, 214 ribu sekolah, belum terhitung kantor Polres dan Koramil.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah tengah mempersiapkan solusi dengan menyediakan High Throughput Satellite (HTS). Berbeda dengan satelit milik operator yang biasa dipakai untuk telpon dan televisi, HTS dirancang untuk internet kecepatan tinggi dengan kapasitas yang besar, mencapai 150 GB.

"Ini high throughput satellite yang pertama di Asia dengan kapasitas sebesar itu, di dunia yang kelima. Harganya lebih murah dan skala ekonominya juga tinggi," klaim Menkominfo Rudiantara.

Dengan kapasitas tinggi, HTS memiliki rata-rata total cost ownership untuk mengirim 1 megabit data perbulan hanya USD 60. Sementara satelit yang ada sekarang setidaknya USD 400-500 dolar. HTS ini rencananya mengorbit akhir 2022.

Hadirnya "tol langit"  yang terdiri dari jaringan fiber optic Palapa Ring dan high throughput satelit (HTS) ini sendiri guna mengejar ketertinggalan Indonesia dari negara tetangga dalam hal pemerataan internet cepat.

"Index ICT Indonesia di Asean sekalipun bukan terdepan. Kita di belakang Singapura, Malaysia, dan Thailand. Bahkan Vietnam aja mulai kencang begitu pula Filipina yang negara kepulauan," ujar Rudiantara.

Menkominfo menilai Indonesia terlambat dalam pembangunan infrastruktur broadband. Malaysia, sebagai contoh, pada 1996 Perdana Menteri Mahathir Mohamad telah mendeklarasikan Malaysia Super Corridor dengan membangun fiber optik dan jaringan di Putrajaya dan Kuala Lumpur.

"Walau tidak seluruh Malaysia. tapi sudah mulai dari situ. 1996 itu artinya 23 tahun lalu begitu dideklarasikan langsung dieksekusi. Lah kita berpikir konsep Palapa Ring saja sekitar 2004 atau 2005, eksekusinya baru mulai 2015," kata pria yang kerap disapa Chief RA ini. (dna)