Tentang Kedaulatan Energi, Wamen ESDM Arcandra Tahar: Penuhi Kebutuhan Akan BBM Diperlukan Strategi

Tentang Kedaulatan Energi, Wamen ESDM Arcandra Tahar: Penuhi Kebutuhan Akan BBM Diperlukan Strategi

LADUNI.ID, Jakarta - Kedaulatan energi ini intinya adalah mampukah kita menyediakan energi dari dalam negeri. Bukan bergantung pada impor. Demikian disampaikan Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar.

Arcandra mengatakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mendorong terwujudnya pengelolaan energi dan sumber daya alam yang berdaulat agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan energi nasional tanpa bergantung dengan negara lain. Menurut dia, kebutuhan akan bahan bakar minyak (BBM), Indonesia saat ini sudah mencapai 1,4 juta barel per hari. Dengan produksi sekitar 760 ribu barel per hari dan sisanya dipenuhi melalui impor.

"Untuk itu diperlukan strategi, kalau bergantung dari luar, kemungkinan akan terjadi krisis energi apabila ada rantai supply yang terganggu", ungkap Arcandra, saat mengisi kuliah umum di depan para mahasiswa baru Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), di Surakarta, Rabu (14/8/19).

Lebih lanjut, kata dia, pemanfaatan listrik sebagai pengganti BBM untuk kendaraan bermotor (mobil listrik) merupakan salah satu cara yang digunakan oleh negara-negara maju dalam mengurangi ketergantungan akan minyak mentah sebagai bahan bakar. Dengan adanya mobil listrik, diharapkan masyarakat dapat beralih dari yang semula menggunakan kendaraan konvensional menjadi kendaraan listrik.

"Jadi strateginya apa? mau gak nanti pake motor listrik? mau gak menggunakan kompor listrik atau takut gak menggunakan bis listrik? Karena di negara maju sudah menggunakan listrik semua," terang dia.

Baca Juga: Kementerian ESDM Lakukan Uji Prespitasi untuk Ketahui Zat Kandungan B30

Lebih jauh, Arcandra menjelaskan kondisi kelistrikan Indonesia untuk menyambut era mobil listrik sudah sangat mencukupi. Untuk di Pulau Jawa dan Sumatra, menurut Arcandra kita punya margin 20-30% antara kondisi peak dan supply. Hal ini, dapat dimanfaatkan untuk penggunaan mobil listrik secara umum. Selain itu, kata dia, pemerintah juga mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan untuk digunakan sebagai energi alternatif untuk pembangkit listrik. Seperti misalnya penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

"Kementerian ESDM dalam beberapa tahun terakhir gencar mensosialisasikan PLTS atap atau rooftop untuk dapat dipasang di gedung-gedung perkantoran dan di rumah-rumah pribadi yang ada. Kita sekarang mendorong agar tempat-tempat itu dipasang PLTS. Rumah Pak Menteri, rumah saya, rumah para Eselon 1 dan kantor ESDM yang dimungkinkan untuk dipasang PLTS kita pasang. Kemudian ESDM juga mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM. Sehingga nanti, PLTS yang dipasang di rumah itu bisa mengurangi tagihan listrik PLN," jelasnya.

Dia berharap, Indonesia kedepan bisa memanfaatkan panas bumi atau geothermal sebagai pembangkit listrik (PLTP). Menurutnya, jenis EBT yang saat ini bisa menyaingi batubara sebagai pembangkit listrik salah satunya adalah geothermal.

"Karena PLTP itu dapat hidup sepanjang hari. Jangan sampai negara kita yang sangat kaya akan geothermal, tetapi malah tidak optimal penggunaannya." pungkasnya  (DOY/srf)