Australia Maju karena Terapkan Pajak Tinggi, Bagaimana Indonesia?

Australia Maju karena Terapkan Pajak Tinggi, Bagaimana Indonesia?

LADUNI.ID, Jakarta - Kiai M. N. Harisudin mengatakan bahwa di Australia sudah menerapkan maqashidus syari’ah. Menurutnya,  langkah maju pemerintah Australia juga dapat dilihat dari penerapan pajak tinggi terhadap orang-orang yang berpenghasilan tinggi. Sebaliknya, pajak rendah bagi yang penghasilan rendah atau bahkan tidak ada pajak.

“Kalau pengusaha kaya raya ditarik 40 persen, ini kan luar biasa. Kaila yakuuna duulatan bainal aghniyaii minkum. Agar supaya perputaran harta tidak  di kalangan mereka saja. Pemerintah Australia sudah jauh menerapkan pajak setinggi ini. Bandingkan dengan pemerintah Indonesia yang belum menerapkan pajak setinggi itu,” terang Prof Haris, sapaan Kiai M. N. Harisuddin, pada acara Kajian Islam dengan tema “Mengaji Fikih Kontemporer” di Sydney, Australia, Selasa (13/8).

Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember ini juga menyampaikan bahwa di Australia kini menerapkan maqashidus syariah, misalnya dalam hal denda-denda untuk orang yang melanggar lalu lintas. Hal itu dilakukan dalam rangka membuat orang jera dan tidak melanggar lalu lintas lagi. Menurutnya, contoh tersebut sudah sesuai dengan maqashidus syariah.

“Dalam hemat saya, itu sudah sangat Islami. Nah, denda yang 114 dolar, 334 dolar, bahkan 457 dolar. Satu dolar Australia kurang lebih 10.000,-.  Jadi, dendanya mulai 1,14 juta hingga 4,57 juta. Tujuannya agar orang jera dan tidak melanggar lalu lintas. Lalu, terbangun keteraturan.Ini kan sesuai Syariah Islam. Demikian juga, penghapusan domestic violence yang menjadi concern pemerintah Australia. Juga transparansi keuangan publik Pemerintah Australia yang semuanya dalam hemat saya, sangat sesuai dengan maqasidus syari`ah,” terang Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur tersebut.

Prof Haris yang juga Ketua Umum Asosisi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara se-Indonesia ini kemudian mempertanyakan mengenai bagaimana status negara Australia ?. Menurut Kiai Muda yang juga pengasuh PP Darul Hikam Jember tersebut, Australia termasuk Darul Islam. Dalam fikih-fikih disebutkan bahwa wilayah yang didiami umat Islam dan mereka dapat melaksanakan agama Islam dengan baik  itu disebut dengan Darul Islam.

“Nah, Australia kita lihat: umat Islam dapat menjalankan agama Islam dengan baik. Masjid didirikan di banyak tempat. Hemat saya, itu memenuhi kriteria Darul Islam. Tapi terma Darul Islam ini tidak sama dengan model pemerintah Islam atau Daulah Islamiyah sebagaimana dibayangkan oleh ormas pengusung khilafah,” terang Prof Haris yang kini juga sebagai Sekretaris Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam) se-Indonesia tersebut.

Kendati begitu, jika dalam praktik berislam terdapat kesulitan-kesulitan yang tidak dijumpai ketika berada di Indonesia, maka yang demikian ini merupakan suatu hal yang tak terhindarkan. Dalam konteks ini, umat Islam di Australia dapat menggunakan pendapat berbagai madzhab fikih. Karena bagi Prof. Haris, inti dalam beragama Islam adalah ketaatan dan kepatuhan pada Allah Swt.

“Di Australia, kita mau madzhab mana saja silahkan; dengan catatan tahu ilmunya, tidak sekedar mengambil mudahnya dan mencari yang paling bermaslahat, serta dalam koridor ketaatan dan kepatuhan pada Allah Swt.”, ungkap Prof. Kiai MN. Harisudin yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember.

Guru Besar Bidang Ushul Fikih ini juga menerangkan bahwa pahala yang didapat oleh manusia, adalah bergantung pada kadar kepayahan yang dijalani oleh manusia itu sendiri. Dengan demikian, hal tersebut merupakan salah satu ujian ketaatan dan kepatuhan kepada Allah.

“Al`ajru biqadritta`abi. Pahala itu bergantung pada kadar kepayahan kita. Semakin payah dan sulit, pasti pahalanya juga lebih banyak. Kalau sedikit payah, maka pahalanya juga lebih sedikit. Kalau sholat subuh di masjid Sydney lebih payah dan berat, tentu pahalanya juga lebih besar.  Di sinilah, hemat saya, salah satu ujian ketaatan dan kepatuhan pada Allah Swt.,” pungkas Prof Haris.

Untuk diketahui, pada pengajian dialogis yang digelar di rumah tokoh NU Australia, Ustadz Emil Idad berjalan gayeng dan menarik. Pada kesempatan itu, hadir banyak warga dan pelajar Indonesia di Sydney. Sebelumnya, Ustadz Yusdi dan Ustadz Emil Idad memimpin  tahlil dan doa dalam rangka tujuh hari almarhum Mbah Maimun Zubair. Kajian dimulai jam 08.00 p.m hingga 10.30 p.m. waktu Australia. Pengajian ini sendiri diselenggarakan oleh PCI NU Australia-New Zealand bekerja sama dengan KAIFA (Kajian Islam Kaffah).

(Sumber: http://fsyariah.iain-jember.ac.id)