Kisah Haji Zainal Abidin Ikhwan TQN Rabhitoh kepada Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Lombok

Kisah Haji Zainal Abidin Ikhwan TQN Rabhitoh kepada Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Lombok

LADUNI.ID, Jakarta - Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ra (Tuan Guru Zainuddin) adalah seorang ulama besar yg berasal dari Lombok. Lahir pada tahun 1898. Beliau adalah tokoh pendiri Nahdhatul Wathan. Beliau sangat dikenal memiliki berbagai karamah yang luar biasa.

Sebelum wafatnya Tuan Guru Zainuddin pada tahun 1997, Haji Zainal Abidin (Ikhwan Thariqoh Qodiriyah wan Naqsabandiyah atau TQN) bersama beberapa kawannya pernah datang bersilaturahmi kepada Tuan Guru Zainuddin. Mereka datang ke kediamannya di Lombok Timur tepatnya di daerah Pancor. 

Tapi sayangnya mereka tidak bisa langsung berjumpa dengan Tuan Guru Zainuddin. Beberapa kali mereka bolak-balik tapi tetap tidak bisa bertemu dengan beliau. Sampai akhirnya keuangan mereka sudah hampir habis pada hari ketujuh. Maka setelah menunaikan Shalat Ashar, Haji Zainal melakukan tawassul & rabithah (adalah hubungan atau ikatan; terambil dari kata rabth yang berarti mengikat atau menghubungkan) liat kamus al-Munawir 'Arabi-Indunisia, halaman: 501.

Sambil menghadirkan wajah Tuan Guru Zainnudin, Haji Zainal berkata: "Tuan Guru saya ingin ketemu.. Tolong temuilah saya..!"

Kemudian menjelang waktu Maghrib mereka datang untuk berjumpa dengan Tuan Guru. Namun kali ini pun mereka ditolak lagi oleh penjaga rumah beliau. Tapi tiba-tiba keluarlah seorang wanita paruh baya yg ternyata adalah istri Tuan Guru, sambil berkata: "Ayo masuk-masuk.. Silakan.. Sudah ditunggu.."

Ketika mereka sudah masuk di dalam rumah Tuan Guru Zainuddin. Terdengar suara Tuan Guru seperti marah: "Mana yang manggil-manggil saya itu?!!"

"Saya ini orang tua.. dan kiai lagi.. orang dikenal.. Kamu itu masih muda.. Tapi berani manggil secara ghaib kamu..?!!" Tuan Guru Zainuddin menatap tajam ke arah Haji Zainal.

"Maaf, Tuan Guru, kami sudah seminggu di sini.. Keuangan kami sudah hampir habis.." Haji Zainal mencoba menjelaskan alasannya kenapa melakukan rabithah.

Tuan Guru Zainuddin hanya diam saja mendengar alasan Haji Zainal. Setelah itu mereka berbincang-bincang menyampaikan maksud keperluannya. Lalu Tuan Guru Zainuddin memberikan mereka semua amalan, kecuali Haji Zainal yang tidak diberikan.

"Kamu kan punya guru. Kalau orang bisa rabithah, bisa manggil. Pasti ada gurunya.." Kata Tuan Guru Zainuddin kepada Haji Zainal.

"Sudah cukup sekali ini saja. Lain kali tidak boleh menghadirkan seperti itu. Kalau mau datang, ya datang saja. Jangan memerintah secara ghaib..!" Tuan Guru menyampaikan pesannya.

Setelah itu mereka pamit pulang dan kembali ke Bali. Lima belas hari kemudian Haji Zainal berangkat ke Pondok Pesantren Suryalaya untuk sowan kepada KH. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin atau Pangersa Abah Anom qs.

Haji Zainal lalu menceritakan pengalamannya berjumpa dan ditegur oleh Tuan Guru Zainuddin. Mendengar cerita itu Pangersa Abah hanya tertawa saja.

Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin R.A. yang dikenal dengan nama Abah Anom (lahir di Kampung Godebah, Suryalaya, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya , 1 Januari 1915 meninggal di Tasikmalaya, 5 September 2011 pada umur 96 tahun) adalah seorang ulama, Pemimpin Thariqah Qadiriyah Naqshabandiyah (TQN), Pesantren Suryalaya, Pagerageung, Tasikmalaya.

Tiga kali Haji Zainal menyampaikannya, tiga kali pula Pangersa Abah hanya tertawa saja. Karena tidak paham dengan makna tertawanya Pangersa Abah, maka Haji Zainal memaksa minta dijelaskan.

"Kamu itu kan bukan muridnya.. Terus beliau itu orang tua.. Lebih tua dari Abah.. Koq kamu perintah hadir utk menemui kamu.. Tujuannya apa?" Pangersa Abah memulai dialognya.

"Kan tujuan saya baik, Bah.." Jawab Haji Zainal.

"Baik bagi kamu belum tentu baik bagi Tuan Guru jadi jangan dipaksa dengan menghadirkan. Karena kamu bukan muridnya, kalau kepada Abah kapan saja boleh, malah Abah senang. Kalau kepada yang bukan gurunya, membacakan Al-Fatihah saja tidak perlu menghadirkan, supaya tidak tersinggung. Kalau kepada gurunya, boleh menghadirkan, karena berarti muridnya memperhatikannya. Sekarang, sudah sana kamu shalat taubat dan doakan kebaikan untuk Tuan Guru. Karena Tuan Guru tidak salah, tapi kamunya," jelas Pangersa Abah secara gamblang.

Wallaahu a'lam.