Renungan Hari Kemerdekaan dari Kiai Afifuddin Muhajir Sukorejo

Renungan Hari Kemerdekaan dari Kiai Afifuddin Muhajir Sukorejo

LADUNI.ID, Jakarta - Wakil Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Kiai Afifuddin Muhajir memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia dengan menulis sebuah renungan yang bertema, “Negeri Ini  Bukan Thagut”. Beliau menulis,  

“Negeri Ini Bukan Thagut”

Pepatah arab mengatakan:

بدلًا مِن أنْ تَسُبٌ الظٌلام أضِئْ شَمْعَةً

“Daripada selalu mencaci gelap malam, lebih baik anda menyalakan lilin saja. Tak bisa dipungkiri bahwa negeri ini banyak diliputi ketidakberesan. Tapi saya yakin negeri ini bukan thagut yang tak mungkin diperbaiki,” terang Kiai Afifuddin Muhajir.

Kiai yang dikenal ahli dalam bidang fikih dan usul fikih ini menyebutkan bahwa Negara Indonesia memang tidak lepas dari berbagai permasalahan. Akan tetapi, menurut beliau, bukan berarti tidak bisa diperbaiki.

“Memang beban tanggung jawab memperbaiki kondisi negeri ini pertama kali ada di pundak para pemimpinnya. Merekalah yang pertama kali akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt. Tapi tidak berarti rakyat bebas sama sekali dari tanggung jawab itu. Karena sejatinya setiap orang adalah pemimpin, sekurang-kurangnya menjadi pemimpin itu bagi dia sendiri,” tuturnya.

Karena itu, beliau berpesan supaya masyarakat bisa bersikap arif dan bijak. “Oleh karena itu, kalau tidak bisa ikut memperbaiki maka sekurang-kurangnya tidak ikut merusak. Selamat menyongsong hari ulang tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia 17 Agustus 2019,” lanjutnya.

Kiai Afifuddin Muhajir juga menyebut bahwa Indonesia dalam format dan bentuk bernegara sudah final alias harga mati. Akan tetapi selogan NKRI Harga Mati tidak bermakna bahwa tidak ada hal yang yang perlu diperbaiki oleh kita sebagai anak bangsa.

Seperti dilansir dari laman Mahad Aly Situbondo, kitab Fath al-Mujib al-Qarib jika dikontekstualisasikan bahwa, NKRI sebagai format dan bungkus memang harga mati akan tetapi secara substansi dan isi masih banyak yang belum selesai dan belum harga mati. Misalnya keadilan ekonomi, hukum dan prilaku politik yang belum beradab dan lain sebagainya. Hal ini semua yang menurutnya perlu diperbaiki namun tak perlu merubah dan menegasikan bentuk NKRI yang sudah final.