Sri Mulyani: Pengelolaan Utang Indonesia Paling Stabil Dibanding Negara G20 Lain

Sri Mulyani: Pengelolaan Utang Indonesia Paling Stabil Dibanding Negara G20 Lain

LADUNI.ID, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pengelolaan utang Indonesia relatif lebih stabil dibading dengan negara lain. Hal ini dapat dibuktikan pada rasio utang diatur dengan ambang batas sebesar 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Sementara itu, pada tahun kemarin, posisi utang pemerintah mencapai Rp4.418,3 triliun. maka rasio utang terhadap PDB mencapai 29,98%. Di akhir Juli 2019, utang pemerintah mencapai Rp4.603,6 triliun atau 29,51%.

"Sehingga ke depan kami akan terus mengelola utang negara secara efisien, prudent, transparan, dan akuntabel," terang Sri Mulyani, ketika berbicara dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, di Jakarta, seperti dilansir Laduni.id dari laman jitunews.com, pada Senin (2/9).

Data tersebut di atas, lanjut Sri Mulyani, menunjukkan bahwa dari waktu ke waktu rasio utang pemerintah masih terjaga dibawah batas aman. Jika dibandingkan dengan negara lain umumnya memiliki tingkat rasio yang tinggi, seperti Malaysia dengan rata-rata rasio utang terhadap PDB sebesar 40%, Thailand 50%, Amerika Serikat sebesar 100%, dan Jepang 200%.

Hal ini sangat sesua dengan apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam Nota Keuangan pada 16 Agustus 2019 lalu, menargetkan pengendalian rasio utang dalam batas aman berkisar 29,4% hingga 30,1% terhadap PDB di tahun 2020. Di mana pembiayaan utang pada 2020 akan sebesar Rp351,9 triliun.

Lebih dari pada itu, Sri Mulyani bahkan juga memaparkan sejumlah data yang menunjukkan bahwa tingkat utang Indonesia yang paling rendah di antara negara-negara anggota G20 dan negara emerging market lainnya.

"Indonesia pada saat ini dikenal sebagai negara emerging market dengan tingkat utang termasuk paling rendah dan defisit paling rendah, di antara negara G20, maupun negara-negara emerging di luar G20 lainnya," pungkas Menteri Keuangan Sri Mulyani.