Wisata dan Ziarah di Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas Banyumas

Wisata dan Ziarah di Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas Banyumas

Sokaraja ini adalah kecamatan kecil dari kabupaten Banyumas dan makanan khas sokaraja adalah getuk goreng dan juga Soto Sokaraja. Tapi saat itu kami tidak sempat menikmati makanan khas tersebut karena sudah larut malam.

Ketika KH RMM Ilyas mulai berdakwah yang mengajarkan tarekat dimulai di langgar-nya di daerah Kedungparuk, setelah itu tersebarlah ajarannya ke masyarakat luas, pihak Belanda gelisah. Oleh Karena itu KH RMM Ilyas (mBah Ilyas) dipenjara tahun 1888 M, dituduh melawan Belanda waktu itu. Di dalam penjara (penjaranya dekat Alun-alun Banyumas), Suatu malam hari ditengah keheningan tengah malam, sinar terang memancar keluar dari kamar tahanan Mbah Ilyas. Kejadian ini tersebar ke para pejabat pemerintahan Belanda. 

Berita itu terdengar oleh Syekh Abu-bakar, seorang Penghulu Landraad kota Banyumas. Lalu ia mengunjungi penjara Mbah Ilyas. Hasil kunjungannya, Syekh Abu-bakar ingin mengeluarkan Mbah Ilyas dengan syarat mbah Ilyas jadi menantunya, karena Syaikh Abubakar tahu bahwa calon mantunya ini orang alim. (Makam Syaikh Abubakar persis di depan makam KH RM Muhammad Ilyas).

Makbaroh KH Muhammad Ilyas tepat dibelakang Masjid dan tertulis: 'Kyai Haji Raden Mas Muhammad Ilyas Bani Pangeran Diponegoro'

Poster tersebut atas dasar surat (layang kakancingan) nomor (angka) 11553 yang di-keluar-kan tanggal 18 September 1960 M oleh petinggi keraton yogyakarta, yaitu Pangageng Tepas Dwarapura, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

KH RMM Ilyas merupakan salah satu anak dari KH RM Ali Dipawangsa, (Makbarohnya terletak di Kedung Paruk). dan Kakek dari Mbah Ilyas yaitu Kanjeng P. Haryo Diponegoro II (yaitu RM Muhammad Ngarip), Anak mbarep dari Pangeran Diponegoro (Ontowiryo, Sultan Abdul-Hamid). Dan P. Diponegoro yaitu anak dari Sultan Hamengku Buwono III.
 

Cerita dari bebasnya yang bersyarat tersebut, akhirnya dinikahkan dengan putrinya Syaikh Abu Bakar. setelah menikah, KH RMM Ilyas melanjutkan kegiatan dakwahnya di Sokaraja Lor. di Masjid Wakaf mertuanya ini ia diijinkan untuk berdakwah dan mengajarkan tarekatnya.

Mbah Ilyas ini mendapatkan ijazah jadi mursyid thariqah. Ijazah beliau didapatkan dari gurunya langsung Syaikh Sulaiman az-Zuhdi Al-Makki ketika berada di Jabal Qubes Makkah. Mbah ilyah ini sangat suka berguru hingga sampai tanah suci. Kurang lebih 48 tahun lamanya (1864-1912 M) Mbah Ilyas berdakwah dan mengajarkan thoriqoh Naqsyabandiyyah al-Kholidiyah kepada Masyarakat Banyumas.

Mbah Ilyas meninggal dunia Tahun 1333 H / 1912 M. Dan perjuangannya diteruskan oleh putranya yang bernama Muhammad Abdul Malik, atau dikenal dengan mbah Malik, anak dari istri muda. Mbah Malik ini meneruskan perjuangannya di daerah kedung paruk, dan di Sokaraja diteruskan oleh putra mbah ilyas yang bernama Syaikh Muhammad Afandi, anak dari istri tua. Mbah Ilyas saat meninggal mempunyai usia kurang lebih 147 tahun dan makbarohnya di Pondok Thoriqah Sokaraja Lor, dibawah pimpinan Kyai Afandi.

Mbah Malik ini memegang kemursyidan langsung ganda. yaitu thoriqoh Naqsyabandiyah dan Syadziliyah. Thoriqoh Syadziliyyah ini didapatkan langsung dari Al-Qutub 'Arif Billaah As-Sayyid Ahmad Nahrowi Al-Makki. Mbah Malik mempunyai usia 99 tahun. dan meninggal tanggal 2 Jumadil Akhir (1400 H/ 17 April 1980 M). Makbarohnya tepat belakang Masjid Bahaa ul Haq waDhiyaaudDiin Kedung Paruk, Banyumas.
 

Akses Makam

Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas bisa diakses melewati Jembatan Kali Pelus di Sokaraja lalu belok kiri. Kompleks makam ada di sebelah kanan jalan, berada di Sokaraja Lor, Sokaraja, Banyumas

 

 

 

yang Sudah Mengunjungi Wisata dan Ziarah di Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas Banyumas