Wisata Ziarah dan Berdoa di Makam Kyai Ageng Banyubiru

Wisata Ziarah dan Berdoa di Makam Kyai Ageng Banyubiru
Sepintas Sejarah
 
Dalam kehidupan spiritualnya, Kyai Ageng Purwoto Sidik sering mengembara dan berpindah-pindah dari daerah satu ke daerah yang lain. Maka tak heran bila dalam pengembaraan tersebut, Kyai Ageng Purwoto Sidik banyak meninggalkan “Petilasan-Petilasan” (untuk bertapa brata atau tempat bermukim yang beliau tinggalkan).
 
Setelah sekitar tujuh tahun Kyai Ageng Purwoto Sidik mengembara di Purwokerto, beliau kemudian hijrah ke Rejosari, Semin, Gunungkidul. Ditempat itu beliau hidup di tengah hutan Kali Goyang. Setelah beliau hidup di tengah hutan Kali Goyang cukup lama, lalu beliau meneruskan pengembaraan sampai di Jatingarang, Sukoharjo (dulu bernama hutan Wonogung).
 
Ditempat baru ini  Kyai Ageng Purwoto Sidik melakukan “Tapa Kungkum” di sendang setempat. Konon karena pancaran dari energi spiritual Kyai Ageng Purwoto Sidik, maka air Sendang Wonogung mendadak berubah berwarna biru. Hingga, sendang itu pun seiring berjalannya waktu kemudian dinamakan “Sendang Banyubiru”. Berdasarkan peristiwa ini pula, Kyai Ageng Purwoto Sidik diberi julukan “Kyai Ageng Banyubiru”. Pada era selanjutnya, julukan “Kyai Ageng Banyubiru” digunakan pula oleh murid-murid dan orang-orang sesudah beliau yang memang cinta pada sosok ketokohan beliau.

Perlu diketahui bahwa dusun Banyubiru berada di Selatan kota Solo (Jawa Tengah), yang disebut-sebut sebagai tempat Jaka Tingkir (Sultan Kerajaan Pajang) berguru (menimba ilmu). Setelah Jaka Tingkir berguru kepada Kyai Ageng Banyubiru, beliau kemudian melakukan perjalanan ke Gunung Majasto, selanjutnya ke Pajang. Jalur gethek-nya menjadi dasar penamaan dusun-dusun di wilayah itu, yakni: Watu Kelir, Toh Saji, Pengkol, Kedung Apon dan Kedung Srengenge.

Selain Sendang Banyubiru, ada “Delapan Sendang” lain sebagai Petilasan Kyai Ageng Purwoto Sidik (Kyai Ageng Banyubiru), yakni: Sendang Margomulyo, Sendang Krapyak, Sendang Margojati, Sendang Bendo, Sendang Gupak Warak, Sendang Danumulyo, Sendang Siluwih dan Sendang Sepanjang. Sendang Gupak Warak berada di Wonogiri, dan sendang lainnya tersebar di Weru, Sukoharjo. Semua sendang itu kini airnya telah menyusut. Bahkan Sendang Banyubiru sudah tidak lagi mengeluarkan air, dan dibiarkan menjadi kolam kering penampung air hujan, dan di atasnya dibangun sebuah “masjid”.
 
Dalam kehidupannya, Kyai Ageng Purwoto Sidik (Kyai Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro) beristrikan Nyai Gadhung Melati dan mempunyai anak bernama Nyai Roro Tenggok (Sekar Rinonce). Tersebutlah di dusun Sekardangan (Kec. Kanigoro Kab. Blitar) seorang tokoh yang terkenal mendirikan dusun bernama Nyai Gadhung Melati.

Karena perpolitikan jaman Demak-Pajang-Mataram, mereka sempat berpisah dan menjadi pengembara. Sehingga dari pengembaraannya, Nyai Gadhung Melati juga banyak meninggalkan beberapa petilasan diberbagai daerah seperti: di Sekardangan, Kademangan, Maliran, Kanigoro, Dayu dan lain-lain.  Wal hasil, di dusun Banyubiru tersebut, Kyai Ageng Purwoto Sidik menetap hingga tutup usia. Beliau dimakamkan di utara Sendang Banyubiru ([Sarehan] Selatan kota Solo, Jawa Tengah), bersama istrinya yang bernama Nyai Gadhung Melati dan putri tercintanya yang bernama Roro Tenggok (Sekar Rinonce).
 
 
Lokasi Makam

Di dusun Banyubiru tersebut, Kyai Ageng Purwoto Sidik menetap hingga tutup usia. Beliau dimakamkan di utara Sendang Banyubiru ([Sarehan] Selatan kota Solo, Jawa Tengah), bersama istrinya yang bernama Nyai Gadhung Melati dan putri tercintanya yang bernama Roro Tenggok (Sekar Rinonce).
 

 
 

yang Sudah Mengunjungi Wisata Ziarah dan Berdoa di Makam Kyai Ageng Banyubiru