Hukum Berdzikir Dan Bershalawat Dalam Keadaan Berhubungan Badan

 
Hukum Berdzikir Dan Bershalawat Dalam Keadaan Berhubungan Badan

LADUNI.ID, Segala aspek kehidupan  di dalam agama Islam sudah diatur dengan baik dan sangat lengkap sekali. Lebih-lebih dalam hal berdzikir.

Berdzikir dan bershalawat sangat dianjurkan dalam kondisi dan keadaan apapun. Berzikir kepada Allah SWT. dan bershalawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW. tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Kita dianjurkan untuk berdzikir dan bershalawat dalam keadaan senang, susah, bahagia dan sedih. Juga dalam keadaan berdiri, duduk, tidur, berjalan dan lainnya. 

Namun bagaimanakah jika dalam keadaan berhubungan badan, apakah tetap dianjurkan untuk berzikir kepada Allah? 

Dan Bolehkah Setiap gerakan Jima' / setiap rabaan, atau cumbuan bahkan tusukan (dzakar ke farji) di-iringi dengan sholawat ?

Berzikir kepada Allah ataupun bershalawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW. dalam keadaan sedang berhubungan badan sama seperti hukum berzikir dalam keadaan sedang buang hajat. Yaitu, jika kita berzikir dengan lisan, maka hukumnya adalah makruh. Namun jika hanya berzikir dalam hati tanpa menggerakkan bibir dan lisan, maka hukumnya diperbolehkan.

Karena itu, jika kita sedang berhubungan badan, kita hanya dianjurkan berzikir kepada Allah dalam hati saja, dan sebaiknya tidak berzikir dengan lisan. Hal ini karena dalam keadaan tersebut nama Allah tidak pantas untuk disebut, sebagaimana juga tidak pantas disebut di tempat yang kotor atau dalam keadaan buang hajat.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Faidhul Qadir berikut;

وفي الحديث حث على الذكر حيث علق به حكم الأحبية وكل مؤمن يرغب في ذلك كمال الرغبة ليفوز بهذه المحبة فتتأكد مداومة ذكر الله تعالى في جميع الاحوال لكن يستثنى من الذكر القرآن حال الجنابة بقصده فإنه حرام ويستثنى من عمومه أيضا المجامع وقاضي الحاجة فيكره لهما الذكر اللساني أما القلبي فمستحب على كل حال

“Di dalam hadis ada anjuran untuk berzikir dengan dikaitkan pada hukum kecintaan, dan setiap menginginkan hal tersebut dengan keinginan yang sempurna agar dia beruntung dengan kecintaan ini. Maka sangat dianjurkan untuk berzikir kepada Allah dalam semua keadaan. Akan tetapi dikecualikan dari zikir adalah membaca al-Quran di waktu junub dengan niat membaca al-Quran, maka hal tersebut hukumnya adalah haram. Juga dikecualikan dari keumuman zikir adalah orang yang sedang jima’ (berhubungan badan) dan orang yang buag hajat, maka dimakruhkan bagi keduanya untuk berzikir dengan lisan. Adapun berzikir dengan hati, maka dianjurkan dalam setiap keadaan.”

Adapun jika sebelum berhubungan badan, maka disunakah untuk berzikir dan berdoa dengan lisan sekaligus dengan hati. Hal ini sebagaimana hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Saw bersabda;

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

“Jika salah seorang dari kalian hendak ingin mengumpuli istrinya, maka dia membaca doa, Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa, (Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.”
 

Sumber : Bincang Syariah