Pengusung Khilafah Anggap Hoaks Sebagai Strategi Perang

Pengusung Khilafah Anggap Hoaks Sebagai Strategi Perang

Foto: Simposium Kebangsaan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Semarang (NU Online)

LADUNI.ID, Semarang - Isu keagamaan menjadi paling seksi, terlebih yang terkait agama, kepemimpinan, dan negara. Persebaran hoaks atau kabar bohong di media sosial telah membuat negara Syuriah rusak parah dari yang sebelumnya terkenal kemakmuran dan keindahannya. Kerusakan tersebut terjadi lantaran hoaks membuat kemarahan warga dan menjadi masuknya jaringan ISIS. 

Demikian disampaikan M Najih Arromadloni saat memaparkan terkait isu politik kebangsaan pada acara "Simposium Kebangsaan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Semarang" yang digelar di Aula Balaikota Semarang, Jalan Pemuda 148, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (22/9/19), seperti dikutip dari NU Online.
 
Menurut dia kondisi tersebut hendaknya tak terjadi di Indonesia. Oleh sebab itu kata dia, pemerintah harus dapat mengendalikan media online dan media sosial. Akan tetapi ironisnya, pemerintah belum melakukan hal tersebut.

"Ada banyak portal media yang menyebarkan hoaks tersebut sampai sekarang belum ditutup oleh Kominfo," kata pria yang akrab dipanggil Gus Najih. 

Selain itu, penulis buku Daulah Islamiyah dalam Alquran dan Sunnah ini pun menuturkan terkait masalah hoaks dan radikalisme berjalan dalam satu paket. Sebab dianggap sebagai siasat pertempuran. 

"Indonesia dianggap negara perang lantaran sistemnya tidak Islam. Karena itu berbohong diperbolehkan sebagai strategi perang," terang dia.

Atas fonema itu, Gus Najih mengingatkan permainan teknologi kelompok yang memperjuangkan khilafah memang sudah amat jauh. Salah satu organisasi misalnya, bahkan sudah memiliki karikatur yang jumlah subcribernya ribuan dalam sepekan release perdana. 

Dalam dua tahun berjalan, kini sudah jutaan. "Nusa dan Rara ini rencananya akan naik ke layar lebar," ungkapnya.

Hal senada diungkapkan oleh presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Farid Zamroni, yang memaparkan fenomena hoaks dari sisi statistik, proses persebaran dan dampaknya. Selain itu, ia juga memberikan tips-tips mengenali hoaks, termasuk melakukan kroscek terhadap media online. 

Tugas Tim Cyber Ansor

Sementara, Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) kota Semarang, Rahul Syaiful Bahri menyebutkan respons positif kegiatan tersebut nampak dari jumlah peserta yang mencapai lebih dari 500 orang.

"Peserta membludak dari jumlah yang ditargetkan semula 150 peserta," ujar Rahul.
 
Padahal, menurut dia, acara yang digagas bersama tim Cyber Ansor Kota Semarang ternyata sangat diminati generasi milenial. 

"Kita berharap tim cyber Ansor terus bergerak untuk mencegah penyebaran radikalisme dan terorisme di dunia maya," ungkapnya.
 
Ia pun berharap, Cyber Ansor yang telah memiliki saluran youtube dengan nama blendoek channel dapat memberikan nuansa tersendiri dalam bermedia sosial.

Melalui akun resmi tersebut diharapkan dapat memberikan pencerahan atau klarifikasi dan pemahaman dalam praktik hidup bernegara. "Kita tidak boleh kalah dengan para perusak NKRI," pungkasnya. (*)