Safari Ziarah dan Berdoa di Makam KH. Ali Shodiq Umman Tulungagung

Safari Ziarah dan Berdoa di Makam KH. Ali Shodiq Umman Tulungagung

KH. Ali Shodiq Umman adalah ulama berwibawa, berilmu tinggi dan murah senyum kepada siapa saja ia temui. Beliau adalah pengasuh dan sekaligus pendiri pondok pesantren Hidayatul Mubtadi'en di Ngunut Tulungagung, Jawa Timur.

KH. Ali Shodiq Umman adalah putra ke-7 dari 18 bersaudara, pada saat berumur sepasar (dalam hitungan jawa berarti lima hari: kliwon, legi, pahing, pon, wage), Kiai Ali Shodiq kemudian diasuh oleh paman dari pihak ibu yang yang bernama Imam Tabut dan Ibu Urip.

Ali Shodiq muda mulai belajar mengaji, mengeja huruf-huruf Al-Qur’an, dan amaliyah-amaliyah lainnya dibimbing oleh seorang guru yang bernama Pak Mahbub dari daerah Kauman, Ngunut. Ali Shodiq muda termasuk pemuda yang cerdas, semua pelajaran dapat diterima dengan baik, sehingga pada usia kurang lebih 15 tahun, Ali Shodiq muda sudah mendapatkan materi pelajaran ilmu nahwu seperti jurumiyah, dan lain sebagainya.

Seusai ngangsu ilmu dari Pak Mahbub sekaligus tamat dari sekolah rakyat, Ali Shodiq muda berkeinginan untuk mencari ilmu lagi di pondok pesantren dan diantar oleh Pak Mahbub ke Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadien Lirboyo yang diasuh oleh KH. Abdul Karim, KH. Marzuki dan KH. Mahrus. Kemudian di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta asuhan KH. Abdul Qadir dan KH. Ali Ma’sum untuk mendalami ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Seusai dari Krapyak, pada tahun 1948, Ali Shodiq muda pindah ke Pesantren Jampes Kediri yang didirikan oleh KH. Ihsan Ibnu Dahlan atau dikenal dengan sebutan Syaikh Ihsan Jampes, pengarang kitab Sirojut Tholibin (sarah kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Ghozali). Di pesantren Jampes, Ali Shodiq muda ngaji kitab-kita tasawwuf seperti Sirojut Tholibin, Jami’ul Jawami’ dan Asybah wa al-Nadlor.

Dalam keterangan juga disebutkan bahwa Ali Shodiq muda pernah ngaji tabarrukan kepada KH. Zainuddin Mojosari Nganjuk, KH. Jazuli Ustman di Pesantren al-Falah Ploso Kediri, KH. Zubair Jawa Tengah, KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang dan KH. Ma’ruf Kedunglo Kediri.

Dikisahkan ketika Ali Shodiq muda pindah dari Jampes ke Lirboyo, sekitar tahun 1958, ada seorang kyai dari Baran Kediri bernama KH. Umar Sufyan menghendaki Ali Shodiq menjadi menantunya, dinikahkan dengan putri kiai Umar Sufyan yang bernama Auliyah (setelah menunaikan ibadah haji kemudian diganti Siti Fatimmatuzzahro).

Hari bahagia nan penuh berkah, akad nikah seorang calon kyai dengan putri seorang kyai pun berlangsung jua. Dengan diantar beberapa santri Lirboyo, beliau berangkat dari Pondok Pesantren (ponpes) Lirboyo menuju Mbaran, Kediri.

Pada tahun 1967, Ali Shodiq Umman dengan berat hati pindah ke Ngunut, Tulungagung, meninggalkan Mbaran untuk mengemban amanat dan tugas dari guru beliau sewaktu nyantri di Lirboyo, yakni K.H Marzuqi Dahlan dan K.H Mahrus Ali. Waktu itu, guru beliau itu meminta agar Ali Shodiq mengembangkan ilmunya dan mendidik langsung masyarakat Ngunut yang waktu itu masih belum mengenal ajaran Islam (abangan).

Awalnya, kegiatan dakwah Kiai Ali Shodiq dipusatkan disebuah surau/langgar (musolla) yang didirikan paman sekaligus ayah asuhnya, Pak Imam Tabut, sekaligus ikut mengajar pendidikan guru agama di Ngunut. Kegiatan dakwah dimulai dari pengajian Al-Qur’an dan pada bulan Ramadhan kemudian membuka pengajian kitab kuning yang diikuti oleh santri-santri Lirboyo dan berlangsung selama 4 tahun (sampai menghatamkan kitab Ihya’ Ulumuddin). Pengajian dilanjutkan pada bulan syawal dibuka pengajian dengan sistem klasikal, meskipun materinya masih disesuaikan dengan kemampuan santri yang ada.

Pada pengajian kitab pasan (bulan romadhon) tahun berikutnya, jumlah santri yang mengikuti semakin bertambah banyak. Oleh karena itu, KH. Ali Shodiq Umman memutuskan tanggal 1 Januari 1967 M / 21 Rajab 1368 H sebagai tanggal berdirinya Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien Ngunut. Nama yang yang diambil dari nama Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dengan maksud tafa’ulan (ngalap ketularan).

Pesantren ini kian lama terus berkembang pesat. Oleh karena itulah, pesantren ini kemudian menyediakan asrama putra dan putri yang murni mempelajari ilmu-ilmu salafy/kitab kuning.

Setelah menunaikan ibadah haji yang ketiga pada tahun 1997, kesehatan beliau mulai menurun dikarenakan usia beliau yang beranjak sepuh. Kesehatan beliau menurun tampak saat akan mengimami jamaah yang harus dipapah oleh santri. Namun, dengan rasa sabar dan tabah beliau tetap menjalankan tugas yang beliau emban dengan istiqomah.

Pada Jum’at, 23 Juli 1999 M, KH. Ali Shodiq Umman jatuh sakit, kemudian dirawat ke RSI ORPEHA Tulungagung. Selama proses perawatan, kondisi Kyai Ali Shodiq semakin menurun dan akhirnya pada tanggal 10 Agustus 1999 dirujuk ke RS Darmo Surabaya dan dirawat selama empat hari. Dan, takdir Allah SWT pun tiba untuk memanggil Kyai Ali Shodiq pada hari Sabtu, 14 Agustus 1999 M dengan khusnul khotimah.
 

 

Lokasi Makam

KH. Ali Shodiq Umman dimakamkan di makam keluarga di sebelah barat Masjid Sunan Gunung Jati, Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur.
 

 

yang Sudah Mengunjungi Safari Ziarah dan Berdoa di Makam KH. Ali Shodiq Umman Tulungagung