Ribuan Wirausahawan Mandiri Lahir dari WMS

Ribuan Wirausahawan Mandiri Lahir dari WMS

LADUNI.id, Sumenep – Setiap program dari Pemerintah pasti tidak ada yang sempurna. Selalu ada kekurangan. Namun, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sumenep sejak 2016-2019 melalui program Wirausaha Muda Sumenep (WMS) telah berhasil mengurangi angka pengangguran dan meningkatan perekonomian masyarakat terutama di Kabupaten Sumenep. 

Kepala Bidang Pemberdayaan Upah Minimum Kabupaten Diskop Sumenep, Lisa Bertha Soetedjo, mengatakan hasil dari program WMS sudah nampak sehingga dia optimis ke depan perekonomian masyarakat Sumenep akan lebih baik.

Sudah banyak, alumni kita (WMS) yang kini sudah bisa menjalani usahanya secara mandiri,” kata Bertha saat ditemui di kantornya Jl. DR. Cipto Sumenep, Rabu, 16 Oktober 2019 kemarin.

WMS merupakan wadah pembinaan dan pelatihan bagi kaum muda di bawah 35 tahun untuk menjadi pelaku ekonom yang mandiri, profesional dan diharap mampu membawa perubahan baru di bidang ekonomi kemasyarakatan.

Bertha menjelaskan dalam kurun waktu 3 tahun, yakni sejak 2016-2018 sudah mencetak 1.700 wirausahawan. Sebagian dari mereka bahkan sudah ada yang mampu merekrut karyawan dalam bidang usaha mereka.

“Alumni dari WMS tidak hanya bisa buka usaha secara mandiri, namun sebagian sudah bisa memberi lapangan kerja baru bagi orang lain,” jelasnya.

“Bahkan kemarin pas agustusan, alumni pelatihan tatarias dapat omset 43 juta,” lanjtunya

Pada 2016-2018 peserta dibina dalam dua tahap pembinaan yaitu pembekalan SDM dan langsung praktek buka usaha dengan diberi sarana dan prasara.

Kini tahun 2019 sebanyak 700 peserta dibina dengan 3 tahapan pembinaan. Pertama, pengayaan SDM. Kedua, tahap produksi. Ketiga, menejemen keuangan dan perusahaan. Ketiga tahapan tersebut merupakan hasil evaluasi dari tahun-tahun sebelumnya.

Bertha menuturkan, jika lulusan WMS pada tahun 2016-2018 selesai mengikuti pelatihan dan diberi fasilatas untuk buka usaha, mereka banyak yang belum paham saat mengatur keuangan dan bagaimana mengembangkan usahanya. Sehingga kini sebagian Alumni fasilatasnya ditarik dari dan dialihkan jadi Rumah Produksi Bersama.

“Sebab mereka benar-benar berangkat dari nol, sekarang pembinaan kita kawal hingga benar-benar profesional jadi pengusaha,” tuturnya.

Ia mengaku bukan perkara mudah untuk membina peserta pelatihan hingga benar-benar bisa mandiri. Hal tersebut menurut Bertha karena berbagai faktor. Salah satunya adalah faktor pendidikan, sehingga kini upaya pembenahan terus dilakukan.

“Masalahnya kompleks, mereka terdiri dari berbagai latar belakang, baik kedaerahan dan pendidikan. Ada yang SMP, SMA dan seterusnya sehingga butuh ketelitian untuk membina mereka,” tegasnya sebagaimana dilansir dari santrinews.com

Pada tahun 2020 nanti, Bertha menargetkan peserta pelatihan tahun 2019 sudah menjadi pelaku ekonomi profesional. (*)