Hak Hidup Bertetangga

Hak Hidup Bertetangga

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ. (رواه البخاري ومسلم والترمذي وأبو داود)

Artinya   :  Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jibril tak henti-hentinya berwasiat kepadaku tentang hak-hak tetangga, hingga aku menyangka bahwa Jibril akan memasukkannya sebagai ahli waris.” (Hadis Shahih, Riwayat al-Bukhari: 5556, Muslim: 4757, al-Tirmidzi: 1865, dan Abu Dawud: 4485. teks hadis di atas riwayat al-Bukhari)

1. Pengertian Tetangga

Dalam bahasa Arab, jar adalah orang yang tempat tinggalnya bersebelahan dengan orang lain, atau dengan kata lain diartikan sebagai tetangga. Tetapi terkadang jar juga diartikan sebagai pelindung, seperti yang tercantum dalam al-Qur’an Surah al-Anfal ayat 48, “wa inni jar lakum” (Dan sesungguhnya saya adalah pelindungmu). Dinamakan demikian, karena seyogyanya manusia yang hidup bertetangga harus saling melindungi satu dengan yang lain. Adapun tetangga yang dimaksud dalam hadis di atas, sebagaimana yang dituntut oleh syara' untuk diberikan hak-haknya, menurut Aisyah, Ibnu Arabi, dan mayoritas ulama adalah mereka yang bertempat tinggal di sekitar kita, empat puluh rumah dari setiap penjuru; utara, selatan, barat, dan timur. Ali bin Abi Thalib menetapkan bahwa setiap orang yang dapat mendengar panggilannya dari suatu tempat berarti ia tetangganya.

Manusia sebagai makhluk sosial (zoon politicon), membutuhkan uluran tangan orang lain dalam mempertahankan hidupnya. Karenanya, hidup bertetangga merupakan sunnatullah yang tidak bisa dilepaskan dari seseorang. Dalam hal ini, Islam sangat memperhatikan hidup dan kehidupan umatnya di tengah-tengah masyarakat. Sebagai agama penebar rahmat, Islam menyuruh kaum muslimin untuk menunaikan hak-hak tetangganya dengan berbuat baik, tolong-menolong, dan saling menghormati satu dengan yang lainnya. Bahkan sebagaimana hadis di atas, Rasulullah mengungkapkan bahwa Jibril terus menerus mengingatkan beliau tentang pentingnya menjaga norma hidup bertetangga. Sampai-sampai beliau hampir beranggapan bahwa Allah menyuruh Jibril untuk menetapkan bahwa tetangga itu merupakan salah satu bagian keluarga yang harus diberikan hak warisnya. Demikianlah Islam menjunjung tinggi moralitas hidup dan nilai luhur serta toleransi antar sesama. Dengannya, umat Islam benar-benar menampakkan syiarnya di muka bumi ini untuk menjadi penebar kasih sayang, perdamaian, dan keselamatan bagi semesta alam.

2. Berwasiat kepada Tetangga

Hadis atas menuturkan bahwa Jibril berwasiat agar Rasulullah s.a.w. (dan umatnya) berwasiat kepada para tetangga. Pengertian wasiat di sini adalah berbuat kebajikan dan amal shalih sesuai kemampuan yang ada pada mereka. Kebajikan tersebut dapat berupa pemberian hadiah, beasiswa, ucapan salam, sapaan manis, dan memberikan pertolongan serta bantuan kepada mereka jika diperlukan. Termasuk di dalamnya yaitu mendoakan mereka agar selalu mendapat petunjuk dari Allah, mengajak mereka untuk melakukan yang ma’ruf dan meninggalkan yang munkar, serta segera bertobat kepada Allah dari segala dosa-dosa yang telah diperbuatnya.

Sebaliknya, perbuatan yang tidak baik kepada tetangga sangat tidak dikehendaki oleh ajaran Islam. Misalnya, seseorang melakukan suatu perbuatan atau suatu pernyataan yang menyebabkan tetangganya sakit hati, sakit jasmani, dan terganggu. Maka dalam hal ini, berbuat baik kepada para tetangga berarti juga menjauhi perbuatan yang tidak dikehendaki oleh mereka.

Berwasiat, berbuat baik (ihsan) dan memberikan hak-hak tetangga merupakan amal shalih yang dapat melahirkan rasa kasih sayang, solidaritas, dan toleransi antar sesama. Semua sifat ini sebagai modal utama untuk mencapai keharmonisan, ketentraman, dan perdamaian masyarakat.

Mengingat urgensinya memelihara hak-hak tetangga, tepat sekali jika Allah s.w.t. mensejajarkan kewajiban berbuat baik kepada tetangga dengan kewajiban berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, dan fakir miskin, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya, dalam firman-Nya:

Artinya   : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu...” (QS. al-Nisaa`, 4: 36)

Tetangga dekat dalam firman Allah di atas maksudnya adalah tetangga yang masih mempunyai hubungan kerabat, keluarga, atau yang diikat oleh satu agama (kepercayaan). Sedangkan tetangga yang jauh adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan kerabat satu sama lain atau yang tetangga yang beda agama. Penafsiran ini relevan dengan sebuah hadis yang mengklasifikasikan tetangga menjadi tiga. Yaitu hadis riwayat al-Thabrani dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah s.a.w. bersabda:

الْجِيْرَانُ ثَلاَثَةٌ: جَارٌ لَهُ حَقٌّ وَهُوَ الْمُشْرِكُ، لَهُ حَقُّ الْجِوَارِ، وَجارٌ لَهُ حَقَّانِ وَهُوَ الْمُسْلِمُ، لَهُ حَقُّ الْجِوَارِ وَحَقُّ اْلإِسْلاَمِ، وَجَارٌ لَهُ ثَلاَثَةُ حُقُوْقٍ مُسْلِمٌ لَهُ رَحِمٌ، لَهُ حَقُّ الْجِوَارِ وَاْلإِسْلاَمِ وَالرَّحِمِ

Artinya   : “Tetangga itu ada tiga macam; (1) tetangga yang memiliki satu hak, yaitu tetangga yang musyrik. Ia hanya memiliki hak bertetangga. (2) tetangga yang memiliki dua hak, yaitu tetangga yang muslim. Ia memiliki hak bertetangga dan hak keislaman. (3) tetangga yang memiliki tiga hak, yaitu tetangga yang muslim dan kerabat. Ia memiliki hak bertetangga, hak keislaman, dan hak kekerabatan.” (Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari: 10/442)

Tetangga yang diperintahkan oleh al-Qur’an dan hadis untuk diberikan hak-haknya adalah ketiga tetangga di atas secara keseluruhan. Tidak membedakan antara tetangga yang muslim dengan non-muslim, antara yang kerabat dengan yang tidak kerabat, antara yang menjalankan ibadah dengan yang tidak, dan antara yang memusuhi dengan yang mengakrabi, dan sebagainya. Mulai dari tetangga rumah, tetangga daerah, sampai tetangga negara. Hak-hak mereka tidak sama, kadar dan tingkatannya disesuaikan seperti yang disebut oleh hadis Jabir di atas. Dari macam-macam tetangga tersebut, yang kesemuanya harus diperlakukan dengan baik, siapakah yang harus diprioritaskan di antara mereka?

Suatu ketika, Ummul Mukminin Aisyah r.a. merasa bingung, tetangga manakah yang harus ia dahulukan untuk diberi hadiah. Akhirnya ia memutuskan untuk menanyakannya kepada suami tercinta Rasulullah s.a.w.. Selengkapnya dialog tersebut terlukis dalam sebuah hadis sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي قَالَ إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا (رواه البخاري وأبو داود وأحمد)

Artinya: Aisyah r.a. mengisahkan,: “Wahai Rasulullah, saya mempunyai dua orang tetangga, kepada yang manakah saya memberikan hadiah?” Tanya Aisyah. Rasulullah menjawab, “Kepada orang yang paling dekat pintunya denganmu.” (Hadis Shahih, Riwayat al-Bukhari: 2099, Abu Dawud: 4488, dan Ahmad: 24253. teks hadis di atas riwayat al-Bukhari)

Dapat dipahami kenapa Rasulullah menyuruh agar tetangga terdekatlah yang diprioritaskan. Karena mereka lebih melihat dan mendengar tentang anugerah yang kita peroleh. Jika mereka dilewatkan, tentu hati mereka tersinggung dan akan menumbuhkan kecemburuan sosial. Memang idealnya, semua tetangga diberikan porsi yang sama dalam pemberian. Tetapi jika pemberian itu dalam jumlah terbatas, maka tetangga terdekatlah atau yang memiliki hubungan agama dan kerabatlah yang harus didahulukan.

Oleh: Dr. KH. Zakky Mubarak, MA