Menggapai Ikhlas yang Sesungguhnya, Tinjauan Tasawuf Prof Buya Syakur

Menggapai Ikhlas yang Sesungguhnya, Tinjauan Tasawuf Prof Buya Syakur

LADUNI.ID, Jakarta - Terdapat banyak penjelasan mengenai ikhlas. Ada yang berpendapat bahwa ikhals adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, ada yang berpendapat bahwa ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada makhluk, dan berbagai penjelasan lainnya.

Akhlasha, yukhlishu, ikhlaashan.” Begitulah bunyi tashrifannya. Kata tersebut memiliki isim fa’ilmukhlisun’, sementara isim maf’ul-nya adalah ‘mukhlasun’. Di antara kedua isim ini (baca: mukhlis dan mukhlas) memiliki perbedaan.

Hal ini, ketika dikontekstulisasikan dengan firman Allah, saat iblis dendam kepada manusia karena gara-gara manusia, iblis diusir dari surga. Dia kemudian mengatakan, “قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٨٢﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ ٨٣" (Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali para hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka). Siapakah mukhlashun itu?

KH Buya Syakur Yasin pernah menjelaskan hal ini. Bahwa, orang yang mukhlashun tersebut adalah orang-orang yang ikhlasnya sudah 100 persen dan sudah tidak bisa dipermainkan oleh setan-setan tersebut.

Hal ini sangat berbeda dengan kebanyakan kita, umat manusia di zaman sekarang. Kita ini mentok-mentoknya hanya sampai pada tataran “mukhlisun”, belum sampai “mukhlasun”. Artinya, kita lagi berupaya menjadi orang yang mukhlis yakni orang yang ikhlas. Sehingga, jika masih berada di tataran ini, kita tetap selalu mudah tergoda oleh setan.

Perbedaan Ikhlas dalam Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia

Banyak istilah-istilah yang diimpor oleh Indonesia dari bahasa Arab, di mana dalam pengimporan tersebut, akan memiliki makna yang berbeda.  Misalnya, istilah murid dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai anak yang belajar di SD atau MI, kalau SMP dan SMA disebut siswa, sementara di perguruan tinggi, namaya mahasiswa. Berbeda dengan makna “murid” dalam bahasa Arab di mana artinya adalah siswa yang tertinggi, sementara gurunya adalah ‘mursyid’. Sementara tingkat SD diberi istilah “tilmidzun”. Jika ada orang di Arab yang sedang belajar di tingkat S1, S2 atau bahkan S3, maka dia disebut sebagai “al-murid”.

Oleh sebab itu, harus kita cermati terlebih dahulu, apakah ikhlas itu dalam arti bahasa Indonesia atau diartikan dalam bahasa Arab. Jika ikhlas dalam bahasa Indonesia maknanya adalah tidak minta upah. Akan tetapi, sebetulnya dalam bahasa Arab, sekalipun minta imbalan masih dalam wilyah ikhlas. Sekalipun orang itu mengharapkan surga, dia sudah termasuk ikhlas. Tapi, itu masih dalam tataran mukhlis, belum sampai pada tataran mukhlas.

Hal ini tidak lepas dari sejarah para Nabi dan para Rasul di mana ketika menjalankan tugasnya menyampaikan dakwah, masih ada harapan mendapat bayaran dari Allah. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah ini, “Inni lakum rasuulun amiin. Fattaqullaha wa athi’un, wa ma as alukum min ajrin in ajriya illa ‘ala Rabbil ‘alamin” (Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taat lah kepadaku, dan sekali-kali aku tidak minta upaya kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanya lah dari Tuhan semesta alam).

Dari ayat tersebut, setidaknya dapat disimpulkan bahwa bahkan para nabi saja, masih mengharap balasan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Apakah para Nabi ikhlas? Ya Ikhlas. Jadi pengertian ikhlas itu sampai batas mana.

Hal ini sangat beralasan. Sebab, Allah sendiri di dalam Al-Qur’an sudah mengiming-imingi, menawarkan pahala, wa saari’u ila maghfiratum min rabbikum, wa jannatin arduha as-samawati wa al-ardh. Segeralah engkau bertaubat kepada Allah, berbaktilah kepada Allah. Allah menjanjinjikan. Lahum jannatun min tajri min tahtihal anhaar. Allah sendiri yang mengiming-iming, menawarkan surga. Maka kita sah-sah saja kalau kita mengharapkan surga.

Menggapai Ikhlas yang Sesungguhnya

Dalam terminologi Arab ini, kalau orang itu beribadah mengharapkan surga, ujung-ujungnya dia minal mukhlisin. Kalau untuk tidak lagi berharap apapun, nanti menujunya minal mukhlasin, yaitu sudah tidak minta pahala, tidak minta surga, tidak minta sehat, tidak minta rizki, semua apapun yang dilakukannya just because I love you, aku hanya mencintai kamu.

Oleh sebab itu, hal yang penting untuk kita lakukan agar bisa menuju, berproses mencapai ikhlas yang sesungguhnya adalah, kita harus bangun rasa cinta kepada Allah. Ya, kita harus berupaya membangun rasa cinta kita kepada Allah.

Ibaratnya, perempuan saja pasti akan menolak jika kita mengatakan ‘aku cinta kepadamu karena aku mengharapkan hartanya’, perempuan pun juga akan menolak cinta kita jika kita mengatakan ‘aku cinta kepadamu karena bapaknya jadi menteri, barangkali nanti diangkat jadi pegawai negeri’. Oleh karena itu, jika kita mencintai perempuan, maka katakanlah, ‘neng aku mencintaimu, aku menerima segalamu, dengan kebaikanmu, dengan burukmu, aku mencintaimu lahir dan batin’.

Bagaimana cara kita membangun cinta kepada Allah? Apakah sama dengan cara membangun cinta kepada perempuan? Kenapa kita hingga saat ini belum bisa mencintai Allah? Apa sebabnya?

Jawabannya adalah, karena semua apa saja yang kita lakukan ujung-ujungnya untuk kepentingan diri sendiri. Kapan kita berbuat untuk Allah? Nah, itu pertanyaan besar?

Untuk menjawab kenapa kita tidak pernah cinta kepada Allah, sebabnya adalah karena kita tidak pernah merasakan kebaikan-kebaikan Allah. Kita tidak pernah merasa diberi oleh Allah. Itu saja.

Oleh sebab itu, mulai sekarang, kita harus bisa menyadari bahwa apapun yang kita dapatkan, sekalipun secara syariahnya kita menjadi TKI, bekerja, dan berbagai hal yang telah kita lalui, begitu kita menerima rizki, maka katakanlah, “hadza min fadhli rabbi, ini adalah anugerah Tuhanku, terima kasih aku telah menerima rizki.” Begitu kita menerima rizki, sanjunglah Allah, dan terima kasih kepada Allah. Di situ akan tumbuh rasa cinta kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Kendati begitu, hal yang juga perlu disadari adalah bahwa Allah juga tidak selalu mengabulkan doa Anda. Fainna ma’al usri yusro, ada sulit ada mudah. Maka dari itu, tidak ada hidup yang lancar. Rejeki kadang-kadang banyak, kadang-kadang sedikit. Kadang-kadang kita sakit, kadang-kadang kita sembuh. Tetapi bersyukur kepada Allah, jangan hanya ketika mendapatkan uang saja. Jangan hanya saat kita mendapatkan rezki saja. Kita bersyukur, kita memuja Allah dalam kondisi apapun. Selalu mengatakan, alhamdulillah.

Kalau kita sudah betul-betul mencintai Allah, dalam kondisi apapun kita, akan selalu memuja Allah. Apabila kita selalu memuja Allah dalam kondisi apapun, nanti Allah akan mengatakan: “wahai hambaku, apabila mulutmu selalu memuji-Ku, maka nanti apapun yang keluar dari mulutmu pasti Aku dengarkan”. Di situ lah, di ujung lidahmu ada nama kun fayakun, apa yang kau ucapkan, pasti terjadi.

Bagaimana caranya kita memuji Allah? Ada petunjuk dari Allah. Makanya, Allah selalu mendengar kita, kita baca sami allahu liman hamida, Allah selalu mendengarkan orang yang memujinya. Tapi bagaimana cara memuji Allah? Tidak boleh setengah-setengah. Tumpahkan semuanya. Tidak ada ruang-ruang kosong. Tumpahkan semuanya. Rabbana lakalhamdu, ya Allah kami selalu memujimu. Seberapa banyak kau memuji Allah? Mil ussamawati wa mil ul ardhi, wa mil uma syi’tamin syai im ba’du.

Pujilah Allah selalu. Mulai hari ini, jangan ada air mata terbuang-buang, masih banyak nikmat Allah yang patut engkau syukuri.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semuanya. Aamiin ya Allah.


Artikel ini disarikan dari Tausiyah KH Prof Buya Syakur Yasin. Video selengkapnya lihat di sini.