Fitnah ke NU Terkait Minta Jatah Kursi Menteri? Ini Penjelasan Ketum PBNU

 
Fitnah ke NU Terkait Minta Jatah Kursi Menteri? Ini Penjelasan Ketum PBNU

Foto: Screenshot YouTube Bangkit TV (25/10)

LADUNI.ID, Jakarta - Ketum PBNU Kiai Said Aqil Siradj menanggapi terkait isu yang beredar bahwa NU minta jatah kursi menteri untuk mengisi jabatan Kabinet Jokowi. Kiai Said membantah isu tersebut.

"Saya tidak pernah minta menteri. Tapi saya bilang, kalau diminta di NU ya banyak, apa saja, agama, pendidikan, pertanian, siap, kalau diminta. Kalau presiden yang minta masa kita nggak sambut. Tapi sampai jam ini tidak ada permintaan," ujar Kiai Said.

PBNU, kata Kiai Said akan tetap mendukung program pemerintah. Kiai Said juga meminta agar dalam memberikan penilai haruslah secara objektif dan tidak emosional. Karena menurutnya politik hanya sarana, bukan tujuan itu sendiri. Sedangkan tujuan yang utama adalah agama, peradaban, kesejahteraan, dan keadilan.

Berikut hasil wawancara dengan Kiai Said sebagaimana ditranskrip dari video rekaman NU Chanel yang diposting Bangkit TV.

Bagaimana Tanggapan Kiai Said terkait  bahwa NU minta jatah kursi menteri?

Secara resmi tidak ada. Secara resmi dari PBNU tidak ada, mengajukan permohonan, proposal jatah menteri tidak ada. Sayapun tidak pernah mengatakan seperti itu. Saya tidak pernah minta menteri. Tapi saya bilang, kalau diminta di NU ya banyak, apa saja, agama, pendidikan, pertanian, siap, kalau diminta. Kalau presiden yang minta masa kita nggak sambut. Tapi sampai jam ini tidak ada permintaan.

Tapi NU Siap Diamanahkan?

Kita sebagai rakyat, organisasi besar, siap mendukung dan membantu presiden. Ya itu niatnya, nggak niat nyari duit, membantu presiden.

Untuk Nama-Nama yang Diajukan?

PBNU tidak pernah mengajukan nama secara resmi. Tapi kalau kami diminta kami siap. Misalnya, presiden minta orang untuk bantu presiden ya siap dong.

Berarti NU punya kader-kader yang berpotensi?

Kita punya ikatan sarjana NU. Itu profesor doktor 740-an. Bukan agama, bukan jurusan agama. Kita punya Ma'arif NU. Itu sarjana tok isinya. Kita kalau diminta siap pokoknya jangan dikira nggak punya kader. Bahwa sebagai ormas tidak layak minta sebenarnya. Itu partai politik. Tapi kalau presiden minta dibantu, mensukseskan program, secara konstitusional.

Berarti NU Sudah Siap?

Harus siap. Kan apa dulu niatnya. Walaupun kita tidak terlibat dalam jabatan politik, kalau niat kita membangun peradaban, sangat baik. Melalui politik, membangun agama lewat politik. Politik hanya sarana. Tujuannya adalah agama, peradaban, kesejahteraan, kemajuan, dan keadilan.

Pesan Kiai Said?

Kepada yang menanggapi isu ini, tolong ditanggapi dengan objektif, kepala dingin, nggak usah emosional, tidak usah menggeneralisir. Bahwa hak berpolitik adalah hak warga negara, asalkan niatnya baik, caranya baik, tujuannya baik. Kalau dengan cara yang salah, rakus itu, tamak, egois. Harus dengan cara yang baik. Normal-normal saja. Niatnya pun baik. Politik sebagai sarana membangun agama, peradaban, sangat baik sekali. Bukan hanya untuk kepentingan politik itu sendiri. Politik hanya perantara, bukan tujuan.

Berikut link wawancara dengan Ketum PBNU https://youtu.be/MHQKXEri1Jc