Wisata Rohani dan Brtawassul di Makam KH Warson Munawwir Bantul

 
Wisata Rohani dan Brtawassul di Makam KH Warson Munawwir Bantul

Sekilas Biografi

Kyai Haji Ahmad Warson Munawwir adalah ulama pengasuh pesantren al Munawwir dan pembuat kamus Arab-Indonesia al-Munawwir. Beliau merupakan putra dari Kyai Munawwir yang menempuh pendidikan di Pesantren al-Munawwir Krapyak dan murid dari Kyai Ali Maksum Krapyak. Kamus al-Munawwir diselesaikan pada tahun 1404 H/1984 M dan sampai sekarang menjadi kamus bahasa Arab yang paling banyak dipakai di Indonesia.

Tidak ada bukti pasti mengenai tanggal kelahirannya di tahun masehi, namun menurut salah seorang santrinya, beliau lahir bertepatan dengan tanggal 30 Nopember 1934. Sudah menjadi tradisi, ayahnya, KH Muhammad Munawwir, memberikan nama putra putrinya sesuai dengan awalan tahun kelahiran dalam penanggalan kalender Jawa. Seperti Mbah Zainal, lahir di tahun zaa, Mbah Dalhar di tahun dal. Untuk itulah nama Mbah Warson yang berawalan Wawu dinisbatkan pada tahun kelahirannya yaitu tahun wawu.

Sejak Mbah Munawwir wafat pada 1942, kepengasuhan Pondok Pesantren Krapyak diserahkan kepada menantu beliau, KH Ali Maksum. Kakak ipar inilah yang selanjutnya menjadi guru Mbah Warson. Bahkan semasa hidupnya, ulama yang lahir pada tahun 1934 ini tidak pernah nyantri ke guru selain Mbah Ali. Guru sekaligus kakak ipar yang akrab ia sapa ‘Kang Ali’ inilah yang mendampinginya menyelesaikan kamus Al-Munawwir.

Mbah Warson memiliki modal yang amat cukup untuk menyusun sebuah kamus. Sejak menjadi murid Mbah Ali, beliau telah mempunyai kecerdasan yang menonjol. Mbah Warson dikenal sebagai ahli di bidang ilmu alat yaitu nahwu, shorof, dan balaghoh.

Pada saat itu, dalam masa  kepengasuhan Mbah Ali, mulai dirintis pengajian kitab yang terus berkembang hingga kini. Kepada Mbah Ali, Mbah Warson dan kakaknya KH Zainal Abidin Munawwir belajar. Melihat begitu pentingnya kaderisasi di pesantren, Mbah Ali pun berusaha semaksimal mungkin menggembleng santri, khususnya keduanya yang kelak akan meneruskan kepengasuhan di pesantren.

Salah satu metode belajar yang pernah dienyam Mbah Warson adalah dengan aktif mengikuti sorogan setiap hari. Sorogan  diakui sebagai metode belajar efektif warisan KH Ali Maksum. Sorogan memacu santri untuk berusaha keras mempelajari isi kitab sendiri, baik dengan meminta petunjuk kepada temannya yang lebih pandai, maupun menela’ah kitab yang sama dan sudah ada ma’nanya. Kemudian santri membaca kembali di hadapan guru dan menerangkan isi kitab di depannya.

Pendidikan yang nampaknya keras tersebut membuahkan hasil dengan hafalnya Mbah Warson bait Alfiyyah Ibnu ‘Aqil di usia sembilan tahun. Pada usia sebelas tahun, beliau mulai ikut serta mengajar di pesantren dengan rerata usia santri yang diajar lebih tua darinya.

Sebagai pengajar, Mbah Warson muda menjadi guru yang simpatik karena kecakapan dan keramahannya di mata para santrinya. Di usia belia, beliau telah memiliki kemampuan yang mumpuni untuk mengajarkan beberapa mata pelajaran. Di luar kelas pun, beliau menjadi kawan bermain yang egaliter bagi segenap santri.

Di Pondok Pesantren Krapyak kala itu, Mbah Warson mengampu mata pelajaran Nahwu, Shorof, dan Bahasa Inggris. Di samping itu, karena pengetahuannya yang luas, beliau juga mengajar Tarikh.

Lantaran usia beliau yang masih sebaya dengan santri-santri yang diajarnya pada saat itu,  di luar kelas Mbah Warson kerap kali mengajak para santri untuk bermain sepak bola dan badminton.

Kebiasaan ini tak pelak memperkokoh kultur demokratis di Krapyak. Tidak adanya jarak yang dibangun antara guru dan murid membuat para santri bebas bertanya untuk mengembangkan pemikirannya. Seperti halnya Mbah Ali, Mbah Warson senantiasa mengajarkan para santrinya untuk menjadi kritis. Kehangatan relasi guru-murid ini selanjutnya membentuk kedekatan emosional yang kental hingga membentuk hubungan persaudaraan di antara keduanya.

Selanjutnya atas prakarsa Mbah Ali, Mbah Warson diminta meneruskan kegiatan mengajarnya dengan mendirikan komplek pesantren khusus putri yang kemudian dibangun pada tahun 1989.

Komplek putri ini didirikan untuk para pelajar dan atau mahasiswi putri yang ingin mendalami ilmu agama sembari menimba ilmu di lembaga-lembaga pendidikan umum di Yogyakarta. Komplek Q, begitu namanya, berada kira – kira 250 m dari Al-Munawwir Pusat. Bangunannya berada diantara Komplek Nurussalam dan Komplek L.

Dua program yang dirintis di komplek Q, Madrasah Diniyyah dan Tahfidzul Qur’an. Madrasah diniyyah dibimbing langsung oleh beliau, sedangkan tahfidzul Qur’an oleh istrinya, Bu Nyai Hj. Husnul Khotimah. Beberapa kitab yang diajar Mbah Warson pada santri putrinya adalah Kitab Muhadzdzab, Tafsir Maraghi, Kifayatul Akhyaar, Hujjah Ahlus Sunnah wa al-jama’aah, dll.

Menyusun Kamus Bahasa Arab

Sejak pertama diterbitkan pada 1997, Kamus Arab-Indonesia Al-Munawwir telah dicetak ulang sebanyak 22 kali. Kamus dengan sampul berwarna biru dongker itu sangat mudah dijumpai di pasaran. Pun di sejumlah lembaga pendidikan, tak jarang kamus tersebut digunakan sebagai pegangan utama para civitas academica dalam mencari arti kata bahasa Arab. Meski demikian, tak banyak orang mengenal siapa sosok di balik kemasyhuran kamus setebal 1591 halaman itu.

Guru sekaligus kakak ipar yang akrab ia sapa ‘Kang Ali’ inilah yang mendampinginya menyelesaikan kamus Al-Munawwir.

Menurut penuturan KH Habib Syakur, santri alumni Pondok Pesantren Krapyak yang membantu penerbitan Kamus Al-Munawwir, kamus dicetak pertama kali pada 1976 masih dengan tulisan tangan dan baru sampai dengan huruf dzal. Sementara, santri alumni lainnya yang pernah menemani Mbah Warson mengungkapkan, kamus tersebut dirampungkan selama 15 tahun. Dengan asumsi bahwa kamus selesai ditulis pada 1975, maka bisa diperkirakan penulisannya telah dimulai sejak 1960 ketika almarhum berusia 26 tahun atau bahkan jauh sebelumnya.

Kamus Al-Munawwir ditulis Mbah Warson ditulis dalam bimbingan Mbah Ali. Tidak keliru apabila dalam kamus tertulis nama Mbah Ali sebagai pentashihnya. Selama penulisan kamus, Mbah Warson menggunakan metode setoran dalam memeriksakan naskah kamusnya kepada Mbah Ali. Setiap kali menyelesaikan beberapa halaman untuk kamusnya, beliau membawa naskah tersebut kepada Mbah Ali yang lantas memeriksanya sambil minta dipijit. Begitu seterusnya hingga kamus tersebut selesai dikerjakan.
 

Akhir Hayat

Menurut penuturan menantunya, H.Kholid Rozaq, beliau sempat alami gejala stroke, punya keluhan penyakit jantung dan hipertensi. Tahun 2006, beliau pernah terkena serangan jantung, dan kembali terkena keram pada jantungnya beberapa saat sebelum beliau kemudian wafat pukul 06.00 WIB hari Kamis, 8 Jumadil Akhir 1434 H/18 April 2013.

Dikisahkan oleh Nyai Khusnul, beberapa hari sebelum wafat, Mbah Warson bercerita padanya bahwa beliau mimpi bertemu dengan kakaknya, almarhum Kiai Ali. Dalam mimpinya, Kang Ali, begitu ungkapnya, mengajak beliau ikut dengannya. Bagaimana tidak, sebagai wujud takzim pada gurunya, beliau mengiyakan untuk ikut.

Lokasi Makam

Makam KH Warson Munawwir berada di dekat Masjid Nurul Huda Dongkelan, Bantul, Yogyakarta

 

Sumber: http://www.almunawwir.com