Wisata Religi dan Bertawassul di Makam KH Zainal Abidin Munawwir Bantul

Wisata Religi dan Bertawassul di Makam KH Zainal Abidin Munawwir Bantul

Biografi Singkat

KH. Zainal Abidin Munawwir adalah ulama kharismatik yang ahli dalam ilmu qiraat al-Qur’an dan dijuluki sebagai ulama ahli fiqihnya daerah Yogyakarta di masa sekarang. KH Zainal Abidin Munawwir adalah Pengasuh Pesantren al-Munawwir Krapyak, beliau adalah putra kesembilan dari pasangan KH. Moenawir bin KH. Abdullah Rosyad dan Ny. Hj. Khodijah (Sukistiyah). Beliau beristrikan Ny. Hj. Ida Fatimah binti KH. Abdurrahman dari Bangil, pasuruan, Jawa Timur. Dan dari pernikahannya itu dikaruniai tiga putra-putri, Agus Muhammad Munawwir, Agus khoiruzzad dan Ning Khumairo’.

Masa kecil beliau mengenyam pendidikannya di pondok pesantren al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta saat itu diasuh oleh ayah beliau sendiri, KH. Muhammad Munawwir, dan dibantu oleh kakak iparnya, KH. Ali Makshum. Kedua sosok inilah yang membuatnya menjadi orang yang benar-benar alim, terutama dalam bidang ilmu fiqih.

Di bawah asuhan sang kakak ipar, semenjak kecil perkembangan keilmuan beliau ditempa dengan sangat ketat dan disiplin. Bahkan tak jarang beliau mendapat hukuman jika melakukan kesalahan. Hal yang sama juga berlaku untuk saudara-saudara beliau yang lain. Menurut Kiai Zainal sendiri, jika terhadap ‘ahlu bait’ KH. Ali Makshum memang sangat keras. Tidak ada waktu santai, semuanya diharuskan untuk bisa menguasai kitab-kitab kuning yang beliau ajarkan.

Sebagaimana para ulama besar lainnya, beliau juga merupakan sosok kiai yang aktif dan produktif  dalam dunia menulis. Terbukti dengan banyaknya kitab yang telah beliau buat. Di antara karya beliau adalah kitab Tarikh Hadlarah yang menerangkan tentang sejarah peradaban Islam, kitab Al-Ta’rif bi Ahli Sunnah wa al-Jama’ah menerangkan tentang akidah Ahlussunnah dan sejarah kemunculannya, kitab Wadlaif al-Muta’alim, Kutaib Gharib al-Nadlir Bi Kasyf Min Mas’uliyat al-Muta’alim Bahtsan Fiqhiyyan yang menerangkan tentang cara menuntut ilmu dan beberapa permasalahannya menurut perspektif fiqih. Dan yang terakhir adalah kitab Manasik Haji. Dengan dibantu oleh KH. Ali makshum, beliau juga merupakan editor dari Kamus Al-Munawwir karya saudaranya KH. Warson Munawwir.

Zainal Abidin adalah tipikal ulama yang tidak mau sembrono dalam menentukan hukum. Selalu hati-hati dan tanya sana-sini untuk menentukan hukum yang pasti. Salah satu contoh ketika ingin menentukan awal bulan Ramadhan atau pun Syawal, beliau tidak akan mantap dalam mengambil keputusan walaupun telah ada seorang saksi yang telah disumpah mellihat hilal. Beliau akan menanyakan pula pada saksi tersebut tentang berbagai aspek yang terkait dengan ruyah alhilal. Tidak puas sampai disitu, beliau kemudian bertanya pada ulama daerah lain yang umumnya proses penentuan awal bulan di situ berhasil. Hal ini bukan berarti was-was, tapi karena wujud kehati-hatian beliau dalam menentukan hukum agama, agar tidak timbul suatu masalah dikemudian harinya.

Di samping kesibukan mengajar dan menjadi pengasuh pondok pesantren al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, KH. Zainal Abidin juga aktif dalam berbagai organisasi baik politik, keagamaan, maupun ke-ormas-an. Untuk organisasi politik, beliau pernah tercatat sebagai Ketua Golongan Partai Islam (1964),  anggota DPRD DIY (1967-1971), dan anggota DPRD DIY/ketua fraksi (1971-1977). Sedangkan dalam organisasi keormasan beliau pernah menjabat sebagai Pengurus Tanfidliah NU DIY (1963-1971), Pengurus Syuriah NU DIY (1971-1985), Mustasyar NU DIY (1985-1997), Pengurus Wilayah sekaligus Pengurus Besar Jam’iyyah Thariqah Mu’tabarah al-Nahdliyah.

Kiai Zainal aktif dalam berbagai forum bahts al-masa’il baik tingkat kepengurusan NU tingkat cabang, wilayah, hingga muktamar. Sesuai dengan kesaksian KH. Ma’mun Muhammad Mura’i (mantan pengurus NU Sleman, dosen UIN Yoogyakarta dan Ma’had ‘Ali) saat diadakannya muktamar NU ke 31 di Donuhudan, Solo, jawa tengah, “Salah satu kiai sepuh yang aktif dalam arena bahtsul masa’il adalah KH. Zainal Abidin Munawir, susah rasanya mencari profil kiai sepuh seperti beliau.”

KH. Zainal Abidin Munawwir tutup usia pada sabtu malam, pukul 18.30 (15/2/2014), di rumah beliau. Sebelumnya, beliau sempat dirujuk ke rumah sakit karena kondisi kesehatan beliau yang semakin menurun.
 

 

Lokasi Makam KH Zainal Abidin Munawwir

Makam KH Zainal Abidin Munawwir berada di pemakaman keluarga di Kampung Sorowajan, Pedukuhan Glugo, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.

 

yang Sudah Mengunjungi Wisata Religi dan Bertawassul di Makam KH Zainal Abidin Munawwir Bantul