Kemuliaan Akhlak Putri Habib Umar bin Hafidz

Kemuliaan Akhlak Putri Habib Umar bin Hafidz

LADUNI.ID, Jakarta - Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau:

“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun  ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta  putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya,  harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa  puing makanan dari mereka. Ingat! Peran kita di sini hanya sebagai  pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta  tamu-tamunya”.

Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak  pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:

“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“

Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari  tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih  dahulu, khawatir terlambat ucapnya. Spontan aku membalas ucapannya dan  berujar:

“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.

Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.

Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib  Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.

Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra-putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak  hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan  perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan  mengambil selembar uang di dalamnya:

“Jika begitu ku mohon  ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk  mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan  selembar uang itu ke hadapannya. Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan  menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar  dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku,  melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:

“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai  perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan  orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih  Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih  memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti  beliau tidak akan menyetujuinya”.

Kurasakan air  mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung  rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya  pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat  sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam  terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu  dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang.  Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang  perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan  macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian  mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar.  Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah  tangisku seketika, bagaimana tidak?

Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang  tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba  ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri,  malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun  kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti  rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan  kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia  yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak  berlaku seenaknya.

Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu  yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas  sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga  begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada  beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.

Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun  menghentikan tangisanku dan menyeka air mata. Masih dengan mata yang  sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu.

Saat ku  lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang  kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia  memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian  pelajar tadi pagi. Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup  menyaksikannya. Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga  aku merenungkannya selama berhari-hari.

Semenjak itu aku jadi jarang  ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka  telah usai semua, dan aku mulai ber-mujahadah melunturkan kesombongan  yang ada di diriku. Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering  dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas  nasi yang akan dibuang, atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan  yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan  lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat  payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri  sedikitpun, terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku  sangat malu terhadap Sang Guru. Kami hanya seorang murid dan hanya  menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya  memanjakan diri terus menerus.

Hal yang Dianjurkan Habib Munzir Almusawa

Habib Munzir AlMusawa: "Anda carilah kitab terjemahan Syamail Muhammadiyah oleh Imam Tirmidzi, terjemahannya namanya: "Budi Pekerti Rasulullah saw". Semua  orang yang baca buku itu langsung mimpi Rasul SAW, karena buku itu  memaparkan seluruh budi pekerti Rasul SAW, cara duduknya, cara  menyisirnya, cara berpakaiannya, cara brjalannya, maka orang yang membacanya dengan seksama maka akan terbayang dalam alam pikirannya sosok  sang Nabi SAW, lalu muncullah dahsyatnya  kerinduan, maka beliau pun muncul dalam mimpi. Bacalah buku syamail  Muhammadiyah,orang yangmembaca buku itu, seakan seluruh sifat dan gerak  gerik nabi saw sudah menerangi jiwanya, maka ia insya Allah semakin  terbuka tabir antaranya dengan Rasul SAW.

Sungguh buku itu akan  membangkitkan cinta pada Rasul saw, dan itu adalah bacaan para pecinta  Rasul saw. dalam buku itu bila kita membacanya seakan akan Rasul saw  sudah didepan kita."


*) Diceritakan oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman