DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
KH. Imaduddin Utsman Al Bantani adalah pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum yang beralamatkan bertempat di Kampung Cempaka, Desa Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Syaikh Ibrahim Musa Parabek lahir di Desa Parabek, Banuhampu, Bukittinggi, pada 12 Syawal 1301 H (15 Agustus 1884 M), dari ayahanda seorang ulama kaya, Syaikh Muhammad Musa bin Abdul Malik Al Qarhawy dan Ibunda bernama Ureh.
KH. Abdul Latif Madjid lahir pada Jum’at Pahing tanggal 15 Agustus 1952, di Kedunglo, Kecamatan Mojoroto, Kediri Jawa Timur. Beliau merupakan putra dari KH. Abdul Madjid Ma'roef, muallif atau pengarang Sholawat Wahidiyah.
Dalam kitab Tafsir At-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Al-Alusi dan Tafsir Fath al-Qadir dijelaskan bahwa yang dimaksud "ماظهر منها" yang biasa tampak terlihat adalah wajah dan telapak tangan.
Dari sanalah tercipta lagu Hari Merdeka yang kita kenal saat ini, yang dikumandangkan oleh seluruh rakyat Indonesia sepanjang masa. Lagu yang menyiratkan semangat ini tercipta dari inspirasi dzurriyyah Rasul, yang mungkin bisa juga dimaknai sebagai penanda ridhonya Rasulullah pada bangsa Indonesia.
KH. Mahrus Aly atau yang akrab disapa Mbah Mahrus Lirboyo dikenal sebagai ulama pejuang yang pemberani. Beliau termasuk salah satu ulama yang ikut serta dalam Pertempuran 10 November 1945 melawan tentara sekutu di Surabaya.
Tahun 779-780 Masehi menjadi periode krusial dalam sejarah kekhalifahan Abbasiyah pada masa khalifah Al-Mahdi, terutama terkait upaya pemberantasan gerakan Al-Muqanna yang menantang otoritas pusat.
KH. Husin Ali atau yang lebih dikenal dengan Guru Husin Ali adalah anak seorang ulama Makkah keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari bernama Syekh Ali Al Banjari. Beliau dilahirkan di Makkah Al Mukarromah pada 6 Juli 1908 Masehi.
Tahukah kalian bahwa pada malam menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, suasana berbeda dari biasanya. Di tengah ketegangan yang meliputi ibu kota, para tokoh bangsa yang sedang merumuskan teks proklamasi tidak sempat menikmati makan sahur seperti halnya umat Islam yang menjalankan puasa.
Relasi agama dan negara merupakan isu besar dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa dunia. Isu ini mendapat perhatian para pemikir politik, agama dan kebudayaan secara sangat serius dari zaman ke zaman.