Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Said bin KH. Armia, Pengasuh Pesantren Giren, Tegal
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Said bin KH. Armia, Pengasuh Pesantren Giren, Tegal

1897 – 1974 M · 41.775 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Beliau adalah seorang Kyai yang zuhud dan wira’i.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Perjalanan Menuntut Ilmu

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.    Chart Silsilah Sanad
5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1. Lahir

KH. Said bin KH. Armia lahir di Desa Cikura Kecamatan Bojong, Tegal pada tahun 1315 H/1896 M, anak dari pasangan KH. Armia dan Ibu Nyai Aliyah.

1.2 Wafat
KH. Said bin KH. Armia adalah seorang ulama dan waliyullah yang wafat pada tanggal 20 Rajab tahun 1395 H atau sekitar 29 Juli 1974 M dan dimakamkan tak jauh dari Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Giren, Talang, Tegal. 

Baca Juga: Ziarah Makam KH. Said bin KH. Armia, Masyayikh Pesantren Attauhidiyyah, Giren Tegal.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1. Perjalanan Menuntut Ilmu

KH. Said bin KH. Armia adalah seorang waliyullah dari Tegal, Jawa Tengah. Beliau adalah seorang Kyai yang zuhud dan wira’i. Dalam kehidupan rumah tangganya serba pas-pasan tidak muluk-muluk laiknya para pejabat yang serba mewah, padahal beliau adalah seorang Kyai terkenal dan sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren, Talang, Tegal.

Suatu hari istri sang Kyai, saat berada di tempat cucian baju sambil memegang gayung untuk mengambil air dari dalam kolam, membatin dalam hatinya, “Ya Allah, aku ingin memiliki emas.” Seketika itu juga gayung yang ia pegang berubah menjadi emas. Sang Kyai yang melihat kejadian itu menangis dengan penuh kesedihan sambil berkata, “Ya Allah ampunilah istri hamba-Mu ini yang mempunyai keinginan dunia dalam hatinya.” Sang istri yang melihat kedatangan suaminya dan mendengar perkataan sang Kyai menjadi malu dan bertaubat kepada Allah SWT.

Sekitar tahun 1974, Sahlan salah satu murid KH. Said, setiap selesai mengaji pada hari Kamis pagi, beliau selalu sowan ke hadapan almarhum KH. Said untuk memijatnya. Saat KH. Said sedang sakit, seminggu sebelum beliau wafat, beliau meminta Sahlan untuk dimasakkan ikan tenggiri dengan dimasak secara dipes atau dipanggang dan dibungkus dengan daun pisang, dan nasinya juga dibungkus dengan daun pisang. Tapi apalah daya usaha untuk mendapatkan ikan tenggiri di TPI Suradadi, Tegal saat itu sangat sulit. Setiap kali ada perahu yang baru mendarat dan dilihat ternyata tidak ada ikan tenggirinya.

Karena waktu hampir jam empat sore akhirnya Sahlan membeli ikan bandeng. Setelah sampai di rumah ikan bandeng tersebut dimasak sesuai pesanan beliau. Kemudian paginya dibawa ke hadapan KH. Said dan selanjutnya beliau pun melahapnya. Setelah selesai makan, beliau KH. Said berkata kepada Sahlan yang ternyata untuk terakhir kalinya, “Kamu akan punya sumur yang airnya banyak.”

2.2 Murid
Tak terhitung jumlahnya murid-murid KH. Said yang menjadi ulama besar. Di antaranya adalah Al-Habib M. Luthfi bin Ali bin Hasyim bin

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+