Pendidikan Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al Alawy

 
Pendidikan Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al Alawy

Sejak kecil, beliau sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, beliau dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, beliau dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang tertanam dalam kalbu Habib Abdul Qadir. Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.

Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz. Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya. Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”

Silsilah Keilmuan

  • Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry
  • Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur
  • Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf
  • Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor
  • Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus
  • Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany
  • Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby
  • Habib Ali bin Zain Al-Hadi
  • Habib Ahmad bin Hasan Alatas
  • Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi
  • Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib
  • Syekh Abdurrahman Bahurmuz
  • Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab

Penerus Beliau

Murid

Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti:

  • Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang)
  • Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang)
  • Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur)
  • K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura)
  • Prof. Dr. Quraisy Shihab
  • Prof. Dr. Alwi Shihab

Jasa dan Karya Beliau

Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M. Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim. Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.

Pendirian Lembaga Pendidikan

Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M. Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah. Sumber: manakib tulisan Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengajar Ponpes Darul Hadits Malang, Jawa Timur