Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Penjelasan Tariqat Tijaniyah Beserta Baiat Barzakhiyah (Sanad kepada Rasulullah)
✓ Terverifikasi Tim Riset

Penjelasan Tariqat Tijaniyah Beserta Baiat Barzakhiyah (Sanad kepada Rasulullah)

6.743 kali dibaca · Amaliyah dari Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Dalam dunia tarekat, sanad muttasil menjadi salah satu syarat utama keabsahan sebuah tarekat. Tariqat Tijaniyah memiliki sanad yang bersambung hingga Rasulullah Saw.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Laduni.id, Jakarta - Kata tarekat berasal dari bahasa Arab al-thariqah, yang berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu. Dengan demikian, tarekat adalah jalan yang ditempuh oleh para sufi yang berpangkal pada syari'at. Dalam bahasa Arab, jalan utama disebut syari‘ sedangkan anak jalan disebut thariq. Konsep ini menunjukkan bahwa tasawuf, sebagai pendidikan mistik dalam Islam, merupakan cabang dari jalan utama yang dikenal dengan syari‘ah. Oleh karena itu, pengalaman mistik tidak mungkin diperoleh tanpa terlebih dahulu menaati perintah syari‘at secara seksama.

Menurut Harun Nasution, tarekat berasal dari kata thariqah, yaitu jalan yang harus ditempuh seorang calon sufi dalam upayanya mendekatkan diri kepada Tuhan. Seiring perkembangannya, tarekat juga mengandung makna organisasi, yang memiliki syekh, upacara ritual, serta bentuk dzikir dan wirid yang khas.

Tariqat Tijaniyah merupakan salah satu tarekat dalam Islam yang memiliki sanad muttasil (bersambung) kepada Rasulullah Saw. Sanad yang bersambung ini menunjukkan bahwa ajaran dan amalan dalam tarekat tersebut berakar langsung dari Nabi Muhammad Saw., melalui jalur para guru yang terpercaya dalam dunia tasawuf. Tarekat ini didirikan oleh Syaikh Ahmad at-Tijani pada abad ke-18 dan memiliki pengaruh besar di dunia Islam, terutama di kawasan Afrika dan Nusantara.

Sebagai salah satu tarekat mu‘tabarah, Tariqat Tijaniyah banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia. Namun, tarekat ini sempat mengalami pro-kontra, terutama terkait klaim bahwa Syekh Ahmad At-Tijani mendapatkan ijazah langsung dari Rasulullah. Pihak yang menolak menganggap hal ini mustahil, sementara pihak yang menerima meyakini bahwa Rasulullah bisa menampakkan diri dalam wujud nyata kepada umatnya yang memiliki keistimewaan tertentu.

Dalam dunia tarekat, sanad muttasil menjadi salah satu syarat utama keabsahan sebuah tarekat. Tariqat Tijaniyah memiliki sanad yang bersambung hingga Rasulullah Saw. melalui para mursyid yang telah mendapat izin dan kepercayaan untuk mengajarkan tarekat ini. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran yang disampaikan dalam Tariqat Tijaniyah tidak menyimpang dari ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Hidayah al-Adzkiya:

وَطَرِيْقُ كُلِّ مَشَايِخَ قَدْ قُيِّدَتْ بِكِتَابِ رَبِّي وَالْحَدِيْثِ تَأَصَّلاً.

Artinya: "Adapun tariqat semua syekh/guru tariqah, berdasarkan kepada kitab Tuhan (Al-Qur’an) dan al-Hadits." (Zainuddin al-Malibari, Hidayah al-Adzkiya dalam Muhammad Nawawi al-Bantani, Kifayah al-Atqiya, Semarang: Usaha Keluarga, tanpa tahun, h. 27.)

Baiat Barzakhiyah adalah proses baiat yang dilakukan secara spiritual tanpa adanya pertemuan fisik antara pembaiat dan yang dibaiat. Istilah Barzakhiyah merujuk pada dimensi spiritual atau ruhani yang tidak terikat oleh batasan dunia fisik. Dalam konteks Tariqat Tijaniyah, terdapat keyakinan bahwa baiat dapat dilakukan melalui cara ini, khususnya jika seorang wali yang telah mencapai maqam tertentu berkenan memberikan baiat secara ruhani kepada seorang murid.

Keabsahan baiat ini sering menjadi perdebatan, terutama dalam ranah hukum Islam. Namun, dalam keputusan Ahkamul Fuqaha No. 50 yang diambil dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-3 di Surabaya pada 12 Rabiuts Tsani 1347 H./28 September 1928 M., ditegaskan bahwa baiat Barzakhiyah dapat dianggap sebagai baiat yang sah dalam Islam. Dengan catatan, baiat ini dilakukan dalam keadaan sadar (yaqazhah) dan oleh seorang wali yang diakui.

Dalam Islam, semua tariqat yang berlandaskan ajaran Al-Qur’an dan Hadis serta memiliki sanad yang jelas memiliki kedudukan yang sama dalam hal keutamaannya. Tidak ada satu tariqat yang lebih utama dibandingkan dengan lainnya, karena setiap tariqat memiliki metode dan pendekatan yang khas dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Sebagaimana

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+