Hukum Nikah Dipaksa Karena Berbuat Zina

 
Hukum Nikah Dipaksa Karena Berbuat Zina

LADUNI.ID, Jakarta -  Salah satu tujuan nikah adalah menghalalkan yang haram. Yaitu untuk memenuhi kebutuhan seksual seseorang. Tentu pemenuhan kebutuhan seksual itu perkara penting yang dituntut oleh fitrah dan tabiat penciptaan manusia. Meski begitu, untuk memenuhi kebutuhan terhadap lawan jenis (hubungan intim) itu tidak melewati garis yang telah ditetapkan syariat Islam.

Berkaitan dengan kebutuhan hubungan intim, Al-Quran melarang melakukan hubungan intim tanpa melalui ikatan pernikahan yang sah. Hal ini dimaksudkan sebagai sarana agar bisa melakukan hubungan intim dan untuk mewujudkan rasa aman dan tentram bagi keluarga, rasa cinta, kasih sayang dan saling pengertian. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. ar-Rum: 21)

Namun, masih banyak juga ditemukan dalam beberapa kasus penyaluran seks yang tidak tepat. Seperti berhubungan intim saat belum menikah, atau melakukan seks dengan pasangan selingkuhnya. Inilah yang disebut dalam Islam dengan zina. Zina merupakan persetubuhan yang dilakukan oleh seorang lelaki dan perempuan diluar nikah, atau bukan pasangan suami istri yang sah. Keduanya adalah orang yang mukallaf (orang yang dibebani hukum). 

Contoh sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta, karena tidak dapat menahan hasrat, akhirnya keduanya pun terjerumus dalam perzinaan, dan pada saat melakukan perzinaannya itu di grebeglah keduanya oleh keamanan setempat, dan tanpa basa-basi dipaksa untuk menikah, dan  pasangan kekasih tersebut belum siap segalanya untuk menikah, namun apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur, dengan terpaksa keduanyapun menikah.

Pertanyaan yang muncul, apakah sah nikah yang dipaksa karena berbuat zina? Atau tidak sah? Karena nikahnya itu tidak dengan keinginannnya sendiri, atau dengan keterpaksaan.
Menjawab kasus seperti ini, sesuai yang termaktub dalam Kitab Tanwirul Qulub, karangan Imam Muhammad Amin al Kurdi, halaman 312.
Bahwa : "Wa an yakuuna mukhtaaron falaa yashihhu nikaahu mukrohin". Maka si suami harus dalam keadaan bisa memilih. Tidak sah pernikahan orang yang dipaksa.

Dalam kitab Bughyah Al Musytarsyidin, karangan Imam Abdurrahman Ba’alawi, halaman 231, bahwa : "amarohul haakimu bitthollaaqi fathollaqo lam yaqo’ wain lam yatahaddadhu. Walaa farqo baina qudrotil haakimi’alaa ijbaarihiihissan am laa idz huwa ikroohun syar’an". Jika seseorang diperintahkan hakim untuk thalaq lalu ia menjatuhkan thalaq, maka thalaq-nya tidak sah, meskipun hakim tersebut tidak mengintimidasinya. Dan tidak berbeda antara hakim yang berkemampuan memaksa secara fisik atau tidak, karena kasus tersebut termasuk pemaksaan syar’i.

Dari kasus ini muncul pula pertanyaan, bila ada wanita berbuat zina akan tetapi ditinggal pergi oleh si lelakinya. Kemudian mencari lelaki seadanya untuk menikahinya dengan tujuan untuk menutupi aibnya, si lelaki inipun bersedia menikahinya dengan tujuan menolong, dan berniat akan mencerainya setelah bayinya lahir.  Bagaimanakah hukum pernikahan yang seperti ini?

Nikahnya tetaplah sah, karena persyaratan pernikahan sudah terpenuhi semua, tapi makruh apabila sewaktu nikah tidak dijanjikan bercerai setelah si bayi lahir dalam akad nikah, dan apabila di janjikan demikian dalam akad, maka nikahnya menjadi tidak sah, karena termasuk nikah mut’ah atau kawin kontrak.

Sebagaian ulama’ berpendapat Hukum asal melakukan perkawinan adalah mubah (boleh).
Hukum tersebut bisa berubah menjadi sunah, wajib, halal, makruh tergantung kepada illat hukum. 

  1. Hukum nikah menjadi sunnah apabila seseorang dipandang dari segi pertumbuhan jasmaninya wajar dan cenderung ia mempunyai keinginan untuk nikah dan sudah mempunya penghasilan yang tetap.
  2. Hukum nikah menjadi wajib apabila seseorang dipandang dari segi jasmaninya telah dewasa dan mempunyai penghasilan yang tetap serta ia sangat berkeinginan untuk menikah sehingga apabila tidak menikah dikhawatirkan terjerumus terhadap perbuatan zina.
  3. Hukum nikah menjadi makruh apabila seorang secara jasmani dan umur telah cukup walaupun belum terlalu mendesak. Tapi belum mempunyai penghasilan tetap sehingga tetap sehingga bila ia kawin akan membawa kesengsaraan hidup bagi anak istrinya. 
  4. Hukum nikah menjadi haram apabila seseorang mengawini seorang wanita dengan maksud untuk menganiaya atau mengolok-olok atau untuk membalas dendam.

Dan apabila sepasang laki-laki dan perempuan yang telah ditangkap karena terbukti melanggar suatu hukum adat itu boleh dinikahkan dan hukumnya bisa menjadi wajib dengan syarat tidak melanggar Poin 4 seperti yang ada di atas yaitu tidak melanggar aturan syara’ dan hukum Islam.Terkait dengan pasangan yang ditangkap saat melakukan zina atau telah terbukti hamil diluar nikah, hukum untuk menikahkan mereka menjadi wajib karena dengan tujuan supaya laki-laki yang menghamilinya mau bertanggung jawab dan juga supaya anak yang dikandung lahir dengan adanya ayah walaupun itu hamil diluar nikah. 

Jika kita melihat dari sudut pandang Maqashid al-Syari’ah yang tujuan umum pemberlakuan syari’at adalah memakmurkan kehidupan di bumi, menjaga ketertiban didalamnya, senantiasa menjaga stabilitas kemaslahatan alam dengan tanggung jawab manusia menciptakan lingkungan yang sehat, berlaku adil dan berbagai tindakan yang dapat bermanfaat bagi seluruh lapisan penghuni bumi. Didalam Maqashid al-Syari’ah terdapat 5 hal yang harus kita jaga yaitu menjaga agama, menjaga kelangsungan hidup, menjaga garis keturunan, menjaga harta benda, menjaga akal (intelektual).

 

-------------------------------------------

Sumber dan Keterangan, dari kitab:
1. Tanwir al-Qulub      

  وَأَنْ يَكُوْنَ مُخْتَارًا فَلاَ يَصِحُّ نِكَاحُ مُكْرَهٍ

Maka si suami harus dalam keadaan bisa memilih. Tidak sah pernikahan orang yang dipaksa.

2. Bughyah al-Mustarsyidin

أَمَرَهُ الْحَاكِمُ بِالطَّلاَقِ فَطَلَّقَ لَمْ يَقَعْ وَإِنْ لَمْ يَتَهَدَّدْهُ. وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ قُدْرَةِ الْحَاكِمِ عَلَى إِجْبَارِهِ حِسًّا أَمْ لاَ إِذْ هُوَ إِكْرَاهٌ شَرْعًا

Jika seseorang diperintahkan hakim untuk thalaq lalu ia menjatuhkan thalaq, maka thalaqnya tidak sah, meskipun hakim itu tidak mengintimidasinya. Dan tidak berbeda antara hakim yang berkemampuan memaksa secara fisik atau tidak, karena yang kasus itu termasuk pemaksaan syar’i.

3. Muhammad Amin al-Kurdi, Tanwir al-Qulub, (Beirut: Dar al-Fikr, 1414 H/1994 M), h. 312.
4. Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1952 M)), h. 231.
5. Ahkamul Fuqaha no. 170
6. KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-10
     Di Surakarta Pada Tanggal 10 Muharram 1354 H. / April 1935 M.

-------------------

Catatan: Tulisan ini terbit pertama kali pada tanggal 15 Juni 2018. Tim Redaksi mengunggah ulang dengan melakukan penyuntingan