Karena Masalah Kost, Mahasiswa Papua Bentrok dengan Warga

 
Karena Masalah Kost, Mahasiswa Papua Bentrok dengan Warga

Malang: Suasana di jalan raya Kelurahan Dinoyo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang mendadak tidak kondusif, Minggu (1/7) pasalnya dikabarkan sejumlah mahasiswa asal Papua membuat keributan, bahkan mereka sempat adu mulut dengan pihak Kepolisian, diketahui mereka juga melempar batu kerumah warga sekitar, bahkan ada salah satu restoran ternama juga terkena imbasnya, beberapa kaca jendela pecah terkena lemparan batu.

Untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih parah warga berkumpul disekitar lokasi, bahkan, beberapa warga juga terlihat membawa batu-batu beragam ukuran untuk mengantisipasi jika ada penyerangan. Kondisi lalu lintas pun ikut terpengaruh, yakni menimbulkan kemacetan karena beberapa dari warga turun hingga ke tengah jalan.

Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, kerusuhan tersebut terjadi ketika warga meminta agar para mahasiswa Papua itu meninggalkan rumah kontrakan yang selama ini ditempati. Pasalnya, mereka sudah sering menimbulkan kegaduhan dan membuat warga sekitar merasa tidak nyaman.

Salah satu warga, Deni Prasetyo, 32, mengatakan, sejumlah mahasiswa tersebut memang sering membuat kegaduhan di salah satu rumah kontrakan. Padahal, lanjut dia, menurut pemilik kontrakan, masa kontrak mereka sudah habis

"Masa kontrak sudah habis. Tapi mereka belum keluar semua. Bahkan, meminta warga untuk eksekusi," ujarnya Minggu (1/7) malam. Deni mengungkapkan, seluruh penghuni kontrakan itu bersikeras untuk tetap tinggal. 

Menurutnya, kerusuhan tersebut dikarenakan adanya pembelaan dari pihak mahasiswa. Sebelumnya, Minggu (1/7) sekitar pukul 17.00 WIB, kontrakan tersebut didatangi oleh ketua RT/RW setempat dan beberapa warga. Tujuannya untuk menegur dan meminta agar mereka pergi dari rumah kontrakan itu.

"Dari ketua pimpinan Papua, ngomongnya masih kontrak. (Padahal) pemilik kontrak konfirmasi (masa kontrak) habis," ujar dia. 

Setelah itu, terjadilah kerusuhan di sekitar kontrakan. Selanjutnya, sekitar pukul 20.00 WIB, warga ikut turun untuk menangani kerusuhan itu. "Ada juga pihak kepolisian dan Babinsa," lanjut dia.

Deni mengatakan, sebenarnya warga sudah sejak lama meminta agar mereka segera pindah dari kontrakan. Namun teguran itu tidak pernah diindahkan oleh mereka. Menurutnya, para mahasiswa tersebut sudah berada di kontrakan itu sejak dua tahun belakangan. "Ketika dimintai identitas, mengelak. Tidak diberikan sampai 2 tahun," jelasnya.

Rumah Deni sendiri berada persis berada di depan kontrakan. Dia mengungkapkan, hampir setiap hari mereka membuat gaduh. "Nggak ada sepinya orang, gaduh, tempat kumpul anak-anak Papua, dan minum. Kalau sudah mabuk, teriak-teriak," ujarnya. 

Setidaknya ada sekitar 15 orang yang berada di kontrakan itu setiap harinya. Padahal, yang mengontrak hanya sekitar 6 orang. "Kalau yang (penghuni) tetap sekitar 6 orang. Yang kelihatan setiap hari lebih dari 15 orang. Tidak bisa bedakan tamu atau penghuni," kata dia. 

Sampai saat ini, warga masih bersiaga jika terjadi kerusuhan lagi. 

Sementara itu, Kapolsek Lowokwaru, Kompol Pujiyono mengatakan, pihaknya masih belum bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi. "Tadi itu Polsek bilang gini. Saya tidak tahu apa-apa, hanya dapat laporan. Ini diserahkan ke Polres. Semua sudah ranah Polres," kata dia. Sementara, Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri belum bisa dimintai keterangan terkait peristiwa itu. 

Terpisah, dikutip dari akun Facebook Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), mereka menuliskan klarifikasi terkait hal tersebut. Di laman itu dituliskan, massa aksi AMP KK Malang, yang sedang diskusi di kontrakan IPMAPAPARA Malang, Minggu (1/7) malam dibubarkan secara paksa dan diusir dari kontrakan oleh TNI, POLRI, serta Ormas Reaksioner. 

Kontrakan tersebut digerebek secara kasar, massa AMP dipukuli, diludahi, dicaci maki, dilempari batu hingga berdarah. Setelah melihat kawan mereka terluka, beberapa mahasiswa lainnya terlibat saling dorong dan akhirnya ricuh akibat provokasi pihak kepolisian. Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak AMP.