Konsumsi Daging Menurut Medis dan Islam

 
Konsumsi Daging Menurut Medis dan Islam

LADUNI.ID, Jakarta - Hari Raya Idul Adha adalah merupakan hari besar, hari raya Islam. Pada hari itu umat Islam selain menunaikan ibadah Haji bagi yang mampu, juga disyariatkan memperingati hari raya kurban. Hari yang identik dengan daging ini baik sapi maupun kambing, mengandung zat gizi yang baik bagi seluruh metabolisme tubuh manusia dan pembentukan tulang, namun jika berlebihan akan menyebablan peningkatan resiko penyakit metabolik.

Hal itu diungkapkan oleh dokter spesialis tulang dr. Irawan Huntayungo, Kamis (23/8/2018) di Gorontalo.

"Daging merupakan sumber protein hewani tertinggi, bahkan zat-zat yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh manusia khususnya tulang," kata Iriawan.

Ia mengungkapkan, jika makan daging disebut menjadi sumber utama penyakit bagi manusia, seperti darah tinggi, kolestoral bahkan stroke, hal itu tergolong mitos, jika tidak didukung data ilmiah.

"Yang perlu diketahui masyarakat adalah konsumsi daging yang berlebihan sangat tidak bagus apalagi jika tidak seimbang dengan olah raga," ujar Iriawan.

Bahkan kata Iriawan, daging merah beresiko menyebabkan kanker rektum atau anus pada manusia. Maka terpenting yang dilakukan untuk menjaga tubuh, manusia harus makan daging secukupnya sesuai yang dibutuhkan tubuh kemudian olah raga," terang Iriawan.

Iriawan menyatakan, daging menjadi sumber protein hewani tinggi yang diperlukan oleh tubuh manusia.

"Jika terjadi gangguan kesehatan setelah makan daging, sangat dimungkinkan adanya masalah kesehatan akibat gangguan metabolik," urai Iriawan.

Iriawan mencontohkan saat makan daging, orang yang mempunyai kandungan trigliserida dan fraksi lemak lainnya yang memang sudah tinggi akan beresiko menderita gangguan metabolik.

Sementara hal senada juga dikatakan Wakil Katib Pengurus Cabang Nahdlatul 'Ulama (PCNU) Jakarta Timur Syarif Cakhyono, memakan daging itu baik bahkan buat stamina tubuh manusia.

"Tapi walaupun makanan itu halal juga harus baik,  meski makanan halal tapi jika tidak baik, hendaknya kita membatasi makanan itu," kata Cakhyono yang juga menjadi pengurus Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Jakarta Timur, Jumat (24/8/2018).

Hal itu kan sudah diterangkan dalam Al Qur'an kata Cakhyono, sambil mengutip surat Al Maidah, "makanlah makanan yang halal lagi toyib (baik) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya,".

"Tapi walaupun halal dan baik, makan makanan apapun jangan sampai berlebihan, karena apapun yang berlebihan itu bisa menjadi tidak baik," pungkas Cakhyono.

(toto/surya/srf)