Biografi Imam Junayd al-Baghdadi

 
Biografi Imam Junayd al-Baghdadi

Daftar Isi Profil Imam Junayd al-Baghdadi 

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Sosok Sufi
  5. Karomah

Kelahiran

Syaikh Abul Qasim Junayd al-Baghdadi adalah seorang ulama sufi dan wali Allah yang paling menonjol namanya di kalangan ahli-ahli sufi. Tidak banyak dapat ditemui tahun kelahiran beliau pada biografi lainnya.

Beliau adalah orang yang terawal menyusun dan memperbahaskan tentang ilmu tasawuf dengan ijtihadnya. Banyak kitab-kitab yang menerangkan tentang ilmu tasawuf berdasarkan kepada ijtihad Imam Junayd Al-Baghdadi.

Wafat

Akhirnya kekasih Allah itu telah menyahut panggilan Ilahi pada 297 Hijrah. Imam Junayd telah wafat di sisi As-Syibli, seorang daripada muridnya.

Ketika sahabat-sahabatnya hendak mengajar kalimat tauhid, tiba-tiba Imam Junayd membuka matanya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah melupakan kalimat itu sejak lidahku pandai berkata-kata."

Pendidikan

Sejak kecil, Imam Junayd terkenal sebagai orang yang cerdas, sehingga sangat mudah dan cepat belajar ilmu-ilmu agama dari pamannya. Karena kecerdasannya itu, ketika berumur tujuh tahun, Imam Junayd telah diuji oleh gurunya dengan sebuah pertanyaan tentang makna syukur. Dengan tenang dan tangkas, ia menjawab pertanyaan tersebut, "Jangan sampai Anda berbuat maksiat dengan nikmat yang telah diberikan Allah SWT,” Itulah jawaban yang singkat dari Imam Junayd.

Sosok Sufi

Kehidupan tasawuf yang dilakukan Imam Junayd merupakan jalan penyucian hati dan jalan kekhusyukan untuk mengingat Dia. Berhubungan dengan kekhusyukan, Syaikh Junayd al-Baghdadi juga mengatakan,“Tuhan menyucikan ‘hati’ seseorang menurut kadar kekhusyuknya dalam mengingat Dia.”

Kehidupan Imam Junayd al-Baghdadi, di samping sebagai sufi yang senantiasa mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya, ia juga sebagai pedagang yang meneruskan usaha ayahnya, yaitu sebagai pedagang barang pecah-belah di pasar tradisional. Selesai berdagang, beliau ke rumah dan mampu mengerjakan shalat dalam waktu sehari semalam sebanyak empat ratus raka'at.

Disamping itu, Imam Junayd memiliki sifat tegas dalam pendirian. Itu terlihat ketika ia menandatangani surat kuasa untuk menghukum mati muridnya sendiri, Husayn ibn Mansur al-Hallaj (w. 309 H/922 M), sufi pencetus konsep Hulul. Dalam surat kuasa itu, ia menulis dengan tegas, “Berdasarkan syari'at, ia (al-Hallaj) bersalah, tetapi menurut hakikat, Allah Yang Maha Mengetahui.

Pada akhir perjalanan hidupnya, ia diakui banyak muridnya sebagai imam. Sehubungan dengan itu, dalam pandangan Sa’id Hawwa, seorang tokoh sufi kontemporer, ada beberapa sufi yang dapat diterima oleh umat Islam, salah satunya adalah Imam Junayd al-Baghdadi ini, di samping tokoh-tokoh lain, seperti al-Ghazali (w.505 H/1111 M). Imam Junayd meninggal dunia pada Jumat, 298 H / 910 M (versi lain: 297 H/910 M) dan dimakamkan di dekat makam pamannya sekaligus gurunya, Syaikh Sari as-Saqati, di Baghdad.

Dari surat-suratnya atau risalah-risalah singkatnya dan keterangan dari para sufi serta penulis biografi sufi sesudahnya, dapat dipandang bahwa jalan hidup Imam Junayd al-Baghdadi merupakan perjuangan yang permanen untuk kembali ke “Sumber” segala sesuatu, yakni Tuhan. Bagi al-Junayd al-Baghdadi, cinta spiritual (mahabbah) berarti, “Sifat-sifat Yang Dicintai menggantikan sifat-sifat pencinta.”

Imam Junayd memusatkan semua yang ada dalam pikirannya, semua kecenderungannya, kekagumannya, dan semua harapan dan ketakutannya, hanya kepada Allah SWT. Untuk itulah, dengan paham-paham ketasawufannya, ia sering dipandang sebagai seorang syaikh sufi yang kharismatik di kota Baghdad. Banyak tarekat sufi yang silsilahnya melalui Imam Junayd.

Imam Junayd terkenal sebagai tokoh sufi yang sangat konsen dengan dunia tasawuf yang digelutinya. Bahkan bagi beliau tidak ada ilmu di dunia ini yang lebih tinggi dari tasawuf. Dalam hal keteguhan pada tasawuf inilah beliau mengatakan, “Apabila saya mengetahui ilmu yang lebih besar dari tasawuf, tentulah saya pergi mencarinya, sekalipun harus dengan cara merangkak.”

Setiap malam beliau berada di masjid besar Baghdad untuk menyampaikan kuliahnya. Ramai penduduk Baghdad datang masjid untuk mendengar kuliahnya sehingga penuh sesak. Imam Junayd hidup dalam keadaan zuhud. Beliau redha dan bersyukur kepada Allah SWT dengan segala nikmat yang dikurniakan kepadanya. Beliau tidak pernah berangan-angan untuk mencari kekayaan duniawi dari sumber pekerjaannya sebagai peniaga.

Beliau akan membagi sebagian dari keuntungan perniagaannya kepada golongan fakir miskin, peminta dan orang-orang tua yang lemah.

Bertasawuf Ikut Sunnah Rasulullah saw

Imam Junayd seorang yang berpegang kuat kepada al-Quran dan as-Sunnah. Beliau sentiasa merujuk kepada al-Quran dan sunnah Rasulullah saw dalam setiap pengajiannya.

Beliau pernah berkata:

"Setiap jalan tertutup, kecuali bagi mereka yang sentiasa mengikuti perjalanan Rasulullah saw. Sesiapa yang tidak menghafal al-Quran, tidak menulis hadis-hadis, tidak boleh dijadikan ikutan dalam bidang tasawuf ini."

Karomah

Imam Junayd mempunyai beberapa kelebihan dan karamah. Antaranya ialah berpengaruh kuat setiap kali menyampaikan kuliahnya. Kehadiran murid-muridnya di masjid, bukan saja terdiri daripada orang-orang biasa malah semua golongan meminatinya.

Masjid-masjid sering dipenuhi oleh ahli-ahli falsafah, ahli kalam, ahli fiqih, ahli politik dan sebagainya. Namun begitu, beliau tidak pernah angkuh dan bangga diri dengan kelebihan tersebut.

Diuji Dengan Seorang Wanita Cantik

Setiap insan yang ingin mencapai keredhaan Allah selalunya menerima ujian dan cabaran. Imam Junayd menerima ujian daripada beberapa orang musuhnya setelah pengaruhnya meluas. Mereka telah membuat fitnah untuk menjatuhkan Imam Junayd.

Musuh-musuhnya telah bekerja keras menghasut khalifah di masa itu agar membenci Imam Junayd. Namun usaha mereka untuk menjatuhkan kemasyhuran Imam Junayd tidak berhasil.

Musuh-musuhnya berusaha berbuat sesuatu yang boleh memalukan Imam Junayd. Pada suatu hari, mereka menyuruh seorang wanita cantik untuk memikat Imam Junayd. Wanita itu pun mendekati Imam Junayd yang sedang tekun beribadat. Ia mengajak Imam Junayd agar melakukan perbuatan terkutuk.

Namun wanita cantik itu hanya dikecewakan oleh Imam Junayd yang sedikitpun tidak mengangkat kepalanya. Imam Junayd meminta pertolongan dari Allah agar terhindar daripada godaan wanita itu. Beliau tidak suka ibadahnya diganggu oleh sesiapa. Beliau melepaskan satu hembusan nafasnya ke wajah wanita itu sambil membaca kalimah Lailahailallah. Dengan takdir Tuhan, wanita cantik itu rebah ke bumi dan mati.

Khalifah yang mendapat tahu kematian wanita itu telah memarahi Imam Junayd kerana menganggapnya sebagai suatu perbuatan jenayah.

Lalu khalifah memanggil Imam Junayd untuk memberikan penjelasan di atas perbuatannya. "Mengapa engkau telah membunuh wanita ini?" tanya khalifah.

"Saya bukan pembunuhnya. Bagaimana pula dengan keadaan tuan yang diamanahkan sebagai pemimpin untuk melindungi kami, tetapi tuan berusaha untuk meruntuhkan amalan yang telah kami lakukan selama 40 tahun," jawab Imam Junayd.

Kisah Pengemis dan Mimpi Buruk Imam Junayd al-Baghdadi

Suatu hari Imam Junayd al-Baghdadi duduk-duduk di Masjid asy-Syuniziyyah. Bersama penduduk Bagdad lainnya ia menunggu beberapa jenazah yang hendak mereka shalati. Di depan mata Imam Junayd, seseorang yang tampaknya ahli ibadah terlihat sedang meminta-minta.

"Andai saja orang ini mau bekerja hingga terhindar dari perbuatan meminta-minta tentu lebih bagus," kata Imam Junayd dalam hati.

Kondisi aneh terasa ketika Imam Junayd pulang dari masjid itu. Ia punya rutinitas shalat dan munajat sampai menangis tiap malam. Tapi, kali ini ia benar-benar sangat berat melaksanakan semua wiridnya. Ulama yang juga biasa disapa Abul Qasim ini hanya bisa begadang sambil duduk hingga rasa kantuk menaklukannya. Dalam gelisah, Imam Junayd pun terlelap.

Tiba-tiba saja orang fakir yang ia jumpai di Masjid asy-Syuniziyyah itu hadir dalam mimpinya. Anehnya, si pengemis digotong para penduduk Bagdad lalu menaruhnya di atas meja makan yang panjang.

Orang-orang berkata kepada Imam Junayd, "Makanlah daging orang fakir ini. Sungguh kau telah mengumpatnya."Imam Junayd terperangah. Ia merasa tidak pernah mengumpat pengemis itu. Sampai akhirnya ia sadar bahwa ia pernah menggunjingnya dalam hati soal etos kerja.

Dalam mimpi itu Imam Junayd didesak untuk meminta maaf atas perbuatannya tersebut.Sejak saat itu Imam Junayd berusaha keras mencari si fakir ke semua penjuru. Berulang kali ia gagal menjumpainya, hingga suatu ketika Imam Junayd melihatnya sedang memunguti dedaunan  di atas sungai untuk dimakan. Dedaunan itu adalah sisa sayuran yang jatuh saat dicuci.

Segera Imam Junayd menyapanya dan tanpa disangka keluar ungkapan balasan, "Apakah kau akan mengulanginya lagi wahai Abul Qasim?"

"Tidak.

"Semoga Allah mengampuni diriku dan dirimu."

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Junayd sendiri sebagaimana terekam dalam Raudlatur Rayâhîn karya 'Abdul As'ad al-Yafi'i.

Imam Junayd beruntung, peringatan untuk kesalahan “kecilnya" datang lewat mimpi sehingga bisa berbenah diri. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang gemar mengumpat, mencela orang lain, bukan saja dalam hati, tapi juga terang-terangan lewat lisan atau tulisan?

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya