Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Muhammad Fudholi
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Muhammad Fudholi

1901 – 1965 M · 44.501 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Sesekali boleh kita melihat ‘plang nama jalan’ yang ada di sekitar pasar tersebut. Maka, pasti anda akan melihat sebuah plang berwarna hijau bertuliskan nama jalan. ‘Jl. K.H. Fudholi’. Itu adalah nama jalan yang diberikan oleh pemerintah Bekasi pada tahun 1972

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Nasab
1.3  Wafat
1.4  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pesantren
3.2  Mendirikan Madrasah
3.3  Sosok Guru
3.4  Sosok ulama Zuhud
3.5  Sosok Pejuang

4.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Muhammad Fudholi lahir pada tahun 1901 di Cicurug Sukabumi, beliau merupakan putra dari pasangan H. Anwar, dan bernama Murtafiah. Pada saat H. Anwar berangkat ke Makah untuk menunaikan ibadah haji, KH. Muhammad Fudholi masih berusia 5 tahun, dan adiknya masih berusia di bawah 5 tahun. Kala itu, H. Anwar berangkat haji seorang diri, sementara istrinya Murtafiah, berdiam di rumah, menjaga kedua anaknya yang masih kecil-kecil, yaitu, KH. Muhammad Fudholi dan Siti Fatimah.

Tapi Allah berkehendak lain, H. Anwar meninggal di Makkah, saat menunaikan ibadaha haji. Sepeninggal H. Anwar, Murtafiah menikah dengan H. Rojiun, yang asli Jakarta. Dari pernikahan Murtafiah dengan H. Rojiun, Allah menitipkan pada mereka berdua 4 orang anak. Setelah mereka tumbuh dewasa,  gelar Kyai dan Unstadjah pun disandang oleh mereka. Keempat anaknya yaitu: KH. Royani, K.H. Tabroni, Ustadzah Romlah (suaminya Ustad M.Juned, Guru Besar Universitas Assafiiyyah Jakarta), dan KH. Syafii.

1.2 Nasab
Menurut cerita, KH. Muhammad Fudholi merupakan seorang tokoh yang masih mempunyai silsilah keturunan dengan Pangeran Jayakarta. Dengan demikian, sangat mungkin tekad untuk menegakkan Islam dan memerdekakan Indonesia dari penjajah mengalir begitu deras.

Dalam situs internet Pemerintah Jakarta Timur disebutkan, Pangeran Jayakarta adalah nama lain dari Pangeran Ahmad Jakarta, putra Pangeran Sungerasa Jayawikarta dari Kesultanan Banten. Namun, menurut sebuah sumber sejarah lain, Pangeran Jayakarta adalah putra Ratu Bagus Angke, juga bangsawan asal Banten. Ratu Bagus Angke alias Pangeran Hasanuddin adalah menantu Fatahillah atau Falatehan yang konon menantu Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.

1.3 Wafat
Selesai konflik PKI, KH. Muhammad Fudholi kembali melakukan aktifitasnya dengan mengajar di pondok MJA, dan beberapa tempat yang menjadi pengajian rutinnya. Sampai kemudian, KH. Muhammad Fudholi menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 29 Oktober 1965, seminggu setelah kembali dari menunaikan ibadah haji untuk yang kesekian kali.

Setelah KH. Muhammad Fudholi meninggal dunia, MJA dipegang oleh Ustad Malikul Husna (suami dari Zahrotul Mila). Setelah itu, dilanjutkan oleh Ustad Dasuki, Ustad Salim, Ustad Muia, dan beberapa guru bantu. Kepemimpinan MJA (Madrasah Jannatul Amal) terakhir dipegang oleh cucu dari K.H. Muhammad Fudholi yang bernama Ustad Cecep, dan kemudian Ustad Hayatullah.  Entah sebab kenapa, makin hari santri dari MJA semakin berkurang, hingga akhirnya sekarang tinggal sebuah nama.

Selang beberapa tahun dari keruntuhan MJA, Ustadzah Yayah Zakiah yang tidak lain anak dari  KH. Muhammad Fudholi, berinisiatif mendirikan Majlis Taklim dan TPA dengan lokasi yang berbeda, nam

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+