KH. Ahmad Qori Nuri lahir di Mekkah Mukarromah pada tahun 1911, beliau putra dari pasangan KH. Muhammad Nur bin Naidain bin Wasim bin Tunggal dan Nyai Hj. Sholha binti M. Mursyid bin Munir.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Guru-Guru Beliau
3. Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Pondok Pesantren
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Ahmad Qori Nuri lahir di Mekkah Mukarromah pada tahun 1911, beliau putra dari pasangan KH. Muhammad Nur bin Naidain bin Wasim bin Tunggal dan Nyai Hj. Sholha binti M. Mursyid bin Munir.
1.2 Wafat
Beliau wafat 11 april 1996 di usia ke-85.
1.3 Riwayat Keluarga
KH. Ahmad Qori Nuri menikah dengan Nyai Ghuslan pada tahun 1937 dan dikaruniai enam orang anak di antaranya:
- Hj. Maulida
- KH. Muhsin Qori
- KH. Moechlies Qori
- KH. Mursjied Qori
- KH. Musleh Qori
- KH. Mudrik Qori.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
Dengan latar keluarganya itu, sejak kecil beliau telah mengenyam pendidikan keislaman dengan baik. Menginjak remaja, sebelum menyelesaikan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah dalam usia 18 tahun, beliau menyertai ayahnya ke Arumantai Semendo untuk mengajar. Setelah itu KH. Ahmad Qori Nuri kembali ke Sakatiga untuk melanjutkan studinya di Madrasah Ibtidaiyah Siyasiyah Alamiyah dengan bimbingan pendiri madarasah itu yaitu KH. Ishak Bahsin.
2.1 Guru-Guru Beliau
- KH. Muhammad Nur
- KH. Ishak Bahsin
- KH. Ismail Mahidin
3. Penerus Beliau
3.1 Anak Beliau
- KH. Muhsin Qori
- KH. Moechlies Qori
- KH. Mursjied Qori
- KH. Musleh Qori
- KH. Mudrik Qori.
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
Usai menamatkan studinya, beliau diminta untuk berkhidmad di almamaternya. Amanah itu dia terima dengan ikhlas hingga akhirnya pada tahun 1954 beliau ditunjuk untuk memimpin lembaga yang pada saat itu telah berganti nama menjadi Sekolah Menengah Islam (SMI) Sakatiga, menggantikan gurunya KH. Ismail Mahidin yang wafat di tahun itu.
Pada saat memimpin madrasah itulah KH. Ahmad Qori Nuri berhasil menggerakkan seluruh elemen SMI Sakatiga dan masyarakat Sakatiga untuk memajukan lembaga pendidikan itu. Kejayaan itu mengharumkan nama SMI Sakatiga yang pada tahun 1962 bernama Madarasah Menengah Atas (MMA) Sakatiga.
Bukan hanya itu, bahkan nama Sakatiga juga mengharum hingga terkenal dengan sebutan ‘Mekkah Kecil’. Akan tetapi di tahun 1967 MMA diserahkan kepada Pemerintah dan dijadikan madrasah negeri. Menyikapi perubahan tersebut, Ayah dari 5 anak itu dan murid-murid KH. Ishak Bahsin di Indralaya memandang bahwa MMA Sakatiga adalah kelanjutan jihad KH. Ishak Bahsin. Bila dinegerikan dan diserahkan kepada pemerintah akan kehilangan nilai-nilai sejarahnya.
Karena itu atas kesepakatan dan dukungan penu
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

