KH. Fattah asli kelahiran Malang. Tepatnya di daerah betek, Jl. Mayjend Panjaitan. Abahnya, Kyai Daim Tjitronegoro juga asli Malang. Tidak ada data yang pasti kapan persisnya Kyai Fattah lahir.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pondok Pesantren
4. Karir-Karir
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Fattah lahir di Malang, tepatnya di daerah betek, Jl. Mayjend Panjaitan. Abahnya, Kyai Daim Tjitronegoro juga asli Malang. Tidak ada data yang pasti kapan persisnya Kyai Fattah lahir.
1.2 Wafat
KH. Fattah wafat untuk kembali menghadap Yang Maha Kuasa pada tanggal 12 Maret 2006 yang bertepatan dengan tanggal 11 bulan Safar 1427 H. Jenazah beliau dimakamkan di area Pondok Pesantren Bahrul Maghfirah.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
KH. Fattah tidak mengaji secara formal di sebuah pesantren, namun beliau mengaji keliling dari ulama yang satu ke ulama yang lain. Tidak hanya mengaji syariat, tapi juga mengaji ke beberapa ulama yang bisa menunjukkan hakikat ajaran Allah. Mujahadahnya dalam ngaji dan riyadhoh mengantarkan beliau mendapat ilmu laduni.
Meski tidak belajar membaca kitab, tapi beliau bisa menerangkan isi kitab itu. Meski tidak belajar menulis arab, beliau bisa menulis, bahkan banyak catatan-catatan beliau yang kini disimpan salah satu putranya. Kyai Fattah juga diberi keistimewaan bisa pergi ke tempat jauh dalam waktu sekejap. Ketika ditanya oleh putranya, beliau menjelaskan bumi dilipat oleh Allah SWT dan tidak ada yang mustahil bagi Allah. Ibarat bola dunia yang diskalakan menjadi kecil.
2.2 Guru
Kyai Daim Tjitronegoro
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
Selain keliling ke beberapa tempat, setiap malam Jumat Legi, KH. Fattah juga membuka majelis dzikir di rumahnya di Jl. Mayjen Panjaitan IX. Meski jama'ah yang hadir tidak banyak beliau tetap istiqomah. Beliau mengajak jama'ah untuk istighotsah, yasinan dan tahlilan. Dalam pengajiannya, Kyai Fattah lebih suka mengajar tentang ibadah, utamanya shalat, karena ini kewajiban utama umat Islam.
Meski diberi kemampuan lebih, KH. Fattah tetap membumi. Untuk mencukupi nafkah keluarganya, beliau tetap melakukan ikhtiar lahir dengan cara bekerja untuk mememenuhi nafkah keluarga. Beliau pernah usaha jualan minyak tanah beberapa tahun dan juga pernah punya bemo yang dijalankan oleh sopirnya, kadang kalau tidak ada sopir, beliau sendiri yang mengemudi bemo tersebut. Alhasil beliau tidak mau berpangku tangan.
KH. Fattah juga memposisikan dirinya sebagai orang biasa. Dalam bermasyarakat, beliau bisa berbaur dengan siapa saja. Beliau bahkan pernah menjadi Ketua RT dan Kepala Kelurahan Penanggungan. Tidak heran jika beliau memahami betul kondisi dan situasi di masyarakat. Di samping itu, Kyai Fattah juga sosok yang sangat menghargai orang lain. Beliau mau menerima tamu kapan saja. Meskipun di pagi hari, saat Beliau baru tidur beberapa menit, kalau dibisiki ada tamu beliau segera bangun untuk menemui dan menghormati sang tamu.
Tamu beliau bermacam-macam, apalagi Kyai Fattah juga dikenal biasa mengobati seperti tabib. Bukan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

