Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Syekh Jamaluddin Al-Banjari, Datu Surgi Mufti Banjarmasin
✓ Terverifikasi Tim Riset

Syekh Jamaluddin Al-Banjari, Datu Surgi Mufti Banjarmasin

1823 – 1929 M · 6.491 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Biografi Syekh Jamaluddin Al-Banjari, Datu Surgi Mufti Banjarmasin

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi:

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru Beliau

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Sebagai Mufti
3.2  Ahli Falaqiyah
3.3  Dakwah

4.    Karomah
4.1  Di dalam Buah Kelapa ada Ikan
4.2  Menemukan Perhiasan di Sungai
4.3  Berlayar dengan Perahu Bocor

5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga
Syekh Jamaluddin Al-Banjari berperang tanpa konfrontasi, berjuang tanpa senjata, dan dihormati petinggi Belanda, tetapi tidak pernah mengkhianati bangsa. Begitulah sosok Syekh Jamaluddin Al-Banjari atau Tuan Guru Surgi Mufti.

1.1 Lahir
Syekh Jamaluddin Al-Banjari lahir di Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, tahun 1817 M/1238 H. Beliau putra pasangan KH. Abdul Hamid Kosasih dan Nyai Hj. Zaleha yang tumbuh di lingkungan agama yang kuat.

1.3 Wafat
Setelah bertahun-tahun menjadi mufti, Syekh Jamaluddin akhirnya berpulang ke Rahmatullah pada Sabtu, 8 Muharram 1348 H atau sekitar 16 Juni 1929 M. beliau wafat sekitar pukul 15.00 WITA menjelang Shalat Ashar di Sungai Jingah. Syekh Jamaluddin meninggalkan empat orang anak, yaitu Nyai Hj Mariam, Syekh Arsyad, Syekh Taher dan Syekh Berlian.

Syekh Jamaluddin kemudian dimakamkan di depan rumahnya, di Kampung Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Makamnya berada di dalam bangunan berupa kubah yang terletak di halaman sebuah rumah tradisional Banjar. Dulunya, kubah berwarna hijau dan kuning ini dibangun oleh Syekh Jamaluddin sebagai tempat menerima murid-muridnya.

Makam Syekh Jamaluddin ini kemudian ditetapkan oleh pemerintah sebagai salah satu peninggalan dan cagar budaya yang dilindungi. Sampai sekarang kubah ini dikenal oleh masyarakat Banjar dengan nama Kubah Sungai Jingah.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Sejak remaja, Syekh Jamaluddin Al-Banjari sudah menimba ilmu di tanah suci Makkah Al-Mukarromah. Syekh Jamaluddin Al-Banjari juga salah seorang jaringan ulama Haramain (Dua Tanah Haram, Makkah dan Madinah).

2.2 Guru Beliau
Syekh Athaillah.

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Sebagai Mufti

Sekitar tahun 1894 M, Syekh Jamaluddin Al-Banjari kembali ke Banjarmasin, di masa-masa terjadinya konfrontasi Pemerintah Indonesia dengan Belanda.

Sekembalinya ke tanah Banjar, Syekh Jamaluddin Al-Banjari dihadapkan dengan dua pilihan. Apakah ikut konfrontasi menghadap penjajah dan bergabung dengan pasukan Pangeran Antasari, atau memilih berdakwah meski harus ‘berkawan’ dengan Belanda. Tahun 1899 M, Syekh Jamaluddin akhirnya memutuskan menjalankan dakwahnya setelah Belanda mengangkatnya sebagai mufti.

Jabatan mufti adalah jabatan penting pada masa itu, setarap dengan menteri atau hakim. Putusannya adalah menjalankan syariah hukum Islam bagi warga Banjar.

3.2 Ahli Falaqiyah
Syekh Jamaluddin jug

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+