Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Sayyid Jalaluddin Al-Aidid, Penyebar Islam di Indonesia Timur
✓ Terverifikasi Tim Riset

Sayyid Jalaluddin Al-Aidid, Penyebar Islam di Indonesia Timur

1603 – 1693 M · 6.035 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Setelah Kedatangan Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro sebagai penyebar agama Islam pertama di Makassar, kemudian dilanjutkan oleh Sayyid Jalaluddin Al-‘Aidid dan Sayyid Ba’alawi. Kedatangan beliau ini cukup memberi pengaruh pada perkembangan Islam di Makassar, Banjarmasin, dan Bima.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi:

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
2.1  Menjadi Musti Kerajaan
2.2  Hijrah ke Cikoang
2.3  Perjanjian Bongaya
2.4  Mengasingkan ke Bima

3.    Karya Beliau
4.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

Setelah Kedatangan Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro sebagai penyebar agama Islam pertama di Makassar, kemudian dilanjutkan oleh Sayyid Jalaluddin Al-‘Aidid dan Sayyid Ba’alawi. Kedatangan beliau ini cukup memberi pengaruh pada perkembangan Islam di Makassar, Banjarmasin, dan Bima.

1.1 Lahir
Sayyid Jalaluddin bin Muhammad Wahid Al-Aidid lahir di Aceh, tahun 1603 M, Ibunya bernama Syarifah Khalisah bin Alwi Jamalullail yang merupakan cucu dari Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam. Juga merupakan keturunan Hadramaut yang masih keturunan langsung dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Ra, putri Rasulullah. Tepatnya keturunan yang ke-27 dari Nabi Muhammad SAW.

Dalam silsilah keluarga, Sayyid Jalaluddin Al-‘Aidid adalah keluarga dari Sayyid Bahrullah Bafaqih Al-‘Aidid. Karaeng Poetih adalah keturunan dari Dae Ndisinga, dan Dae Ndisinga adalah anak kedua dari Sayyid Umar. Maka, keturunan Sayyid Jalaluddin Al-‘Aidid adalah Sayyid Umar bin Rahmatullah bin Ali Akbar bin Umar Bafaqih Al-‘Aidid bin Jalaluddin Al-‘Aidid. Keterangan keluarga besar sang Sayyid ini terdapat dalam kitab Santina.

1.2 Riwayat Keluarga
Sayyid Jalaluddin menikah dengan I Acara’ Daeng Tamami binti Sultan Abdul Kadir Karaengta ri Bura’ne bin Sultan Auluddin, seorang putri bangsawan yang masih mempunyai darah kerajaan Gowa.

Nama Al-A’idid selanjutnya masuk dalam serajah kesutanan Gowa, karena Sultan Gowa ke-32, ke-33, dan ke-36 adalah keturunan sang Sayyid. Pada masa pemerintahan Sayyid Ja’far Ash-Shadiq Al-‘Aidid diputuskan bahwa upacara Maudu Lampoa sebagai salah satu hari besar masyarakat Gowa yang secara resmi diakui oleh kesultanan Gowa

1.3 Wafat
Selama kurang lebih 30 tahun lamanya, Sayyid Jamaludin berada di Bima, Beliau wafat pada tahun 1693 M.

Pengaruhnya dalam pengembaraan Syekh Yusuf Al-Makassari berhubungan dengan tarekat Khalwatiyah. Selain itu, masyarakat Makassar masih menjaga ajaran Maudu Lampoa hingga saat ini, sebagai tradisi peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sekaligus mengajarkan cinta kepada alam semesta, yang tergambar dalam upacara adat di Cikoang.

Selain itu, sang guru juga menjadi semangat perlawanan baik bagi Sultan Hasanudin maupun Syekh Yusuf Al-Makassari atas penjajahan Belanda, karena semasa hidupnya sang Sayyid amat keras menentang kekuasaan Belanda.

2. Perjalanan Hidup dan Dakwah

2.1 Menjadi Mufti Kerajaan
Beliau menuntut ilmu ke negeri Timur Tengah. Sebelum beliau tiba di kerajaan Goa Makassar pada abad 17, masa pemerintahan Sultan Alauddin, beliau sempat singgah terlebih dahulu ke Banjarmasin untuk menyebarkan agama Islam.

Di Makassar, beliau kemudian diangkat menjadi Mufti kerajaan. Hingga suatu saat, Sayyid Jalaluddin memberi nama seorang Putra Mahkota Kerajaan Goa Muhammad Al-Baqir

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+