Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Ahmadi Syairozi, Pengasuh Pesantren Raudlatul Ulum Kencong Kediri
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Ahmadi Syairozi, Pengasuh Pesantren Raudlatul Ulum Kencong Kediri

wafat 1997 M · 3.880 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Ahmadi Syairozi adalah salah satu putra dari KH. Syairozi dan Nyai Asiyatun

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi
1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

3.    Penerus
3.1  Murid-Murid

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mengasuh Pesantren
4.2  Karier
4.3  Karya

5.   Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Ahmadi Syairozi adalah salah satu putra dari KH. Syairozi dan Nyai Asiyatun.

1.2 Riwayat Keluarga
Beliau menikahi seorang wanita sholehah, dari pernikahan tersebut beliau dikarunai empat anak di antaranya tiga orang putra dan satu orang putri.

1.3 Wafat
KH. Ahmadi Syairozi berpulang ke Rahmatullahi pada hari Kamis tanggal 18 September 1997 M atau 16 Jumadil Awal 1418 H.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

Masa kecilnya KH. Ahmadi Syairozi belajar mengaji Al-Qur’an kepada Kyai Syairozi sampai khatam dan mengaji kitab Taqrib sampai khatam dua kali. Setelah itu, sekitar usia 12 tahun, tepatnya satu minggu setelah beliau khitan berangkat mondok ke Kebonsari Krenceng, dan beliau menuntut ilmu di sana selama empat tahun, selama di Kebonsari beliau melakukan tirakatan dengan cara puasa dan ngrowot (tidak makan nasi beras), dan tidak makan makanan yang berasal dari daging hewan.

Di Kebonsari pula beliau mengaji kitab Taqrib dari KH. Faqih, belum genap empat tahun beliau belajar ngaji kepada KH. Faqih, beliau disuruh mbalah kitab Taqrib dan Bidayah, beliau mengajar kitab Taqrib di Pondok Kebonsari waktunya setelah shalat Dzuhur, sementara setiap habis shalat Isya’ beliau mengajar kitab Taqrib di rumah.

Setelah belajar di Kebonsari selama empat tahun, beliau melanjutkan mondok ke Pondok Jombangan Pare selama kurang lebih tiga bulan, di Jombangan beliau mengawali ngaji kitab Alat (Al-Ajjurumiyyah dan Al-‘Amrithy), dan selama mondok di Jombangan kebiasaan ngrowot dan makan makanan yang tidak mengandung ruh tetap dilanjutkan.

Setelah mondok di Jombangan, beliau lanjutkan mondok di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, pada saat berangkat ke Lirboyo yang mengantarkan adalah kakaknya yaitu KH. Abdul Hadi salah satu pengasuh Pondok Mahir Ar-Riyadl Ringinagung Keling dengan mengendarai sepeda onthel (sepeda pancal). Beliau menimba ilmu di Lirboyo sekitar kurang lebih selama tiga tahun, kemudian melanjutkan nyantri di Pondok Sono Surabaya hanya sekitar tiga bulan, lalu mondok lagi di Pondok Panji Sidoarjo selama empat bulan.

Setelah kepulangan beliau dari mondok di Panji Sidoarjo, beliau melanjutkan mondok di Pondok Bendo Pare sekitar sembilan tahun dan berhasil mengikuti pengajian kitab Ihya’ sebanyak tiga khataman, kitab Taqrib sembilan khataman dan kitab tafsir tujuh khataman, beliau di Bendo masih meneruskan ngrowot dan puasa ruh.

Jadi beliau melakukan puasa dan ngrowot mulai dari Kebonsari sampai ke Bendo selama enam belas tahun, dan kebiasaan puasa dan ngrowot dilanjutkan sampai beliau menikah diambil menantu oleh KH. Syamsuddin Mipitan Plosoklaten, setela

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+