Perjuangan Mujahidin Jambi Berjihad di MUDI Mesjid Raya Samalanga #2

 
Perjuangan Mujahidin Jambi Berjihad di MUDI Mesjid Raya Samalanga #2

LADUNI. ID, ULAMA - ERA tahun 1998 merupakan puncaknya masa konflik Aceh yang dikenal dengan Daerah Operasi Militer (DOM). Walaupun Aceh daerah konflik tidak luntur semangat Tgk. Riandi (Tgk. Jambi) untuk “berjihad” dan siap menjadi mujahidin untuk agama dan membahagiakan impian kedua orang tua juga terlebih kakeknya.

Mengingat tahun 1998 tidak ada cerita tanpa dentuman senjata, sweping di jalan nasional Medan Banda Aceh tiada pernah sepi belum lagi sepanjang jalan pos militer dengan wajah beringas dan tanpa senyuman, bahkan mayat bergelimpangan pasca tembak menembak antara aparat dan gerakan yang dikenal dengan GAM menjadi fenomena dan hal biasa.

Tgk. Jambi sebagai perantau juga ikut merasakan aura itu dan bukan menjadi halangan dan alasan untuk menjadi “mujahidin” di negeri Serambi Mekkah. Lantas dayah apa yang menjadi pinangannya? Dayah Darussalam Labuhan Haji, Dayah Blang Blahdeh Abu Tumin, Dayah Tanoh Mirah, Dayah MUDI Samalanga atau dayah lainnya?

Menjatuhkan pilihan menuntut ilmu tentunya harus beristikharah, layaknya kita memilih pasangan hidup kita. Sekian banyaknya pilihan tersebut akhirnya Dayah MUDI Samalanga menjadi pilihan Tgk. Jambi.

Dayah MUDI sebagai medan area muasafir ilmu mujahidin asal Jambi itu tentunya beribu tantangan dan hambatan harus berjibaku. Kesabaran dan jauh dari orang tua di awal menjadi penghuni “Taman Surga” dayah yang telah melahirkan banyak ulama dan tokoh itu awal cobaan yang berat siapaun dia termasuk Tgk. Jambi.

Menyunting MUDI MESRA (Mesjid Raya) Samalanga banyak indikator dan sampenanya yang tidak mungkin diuraikan secara panjang lebar, intinya itulah takdir Allan untuk sosok Tgk Jambi untuk melabuh dalam samudera ilmu di dayah yang dipimpin Al-Mursyid Abu Syekh H. Hasanoel Basri HG atau akrab disapa Abu MUDI.

Sosok Jenius dan Meraih Sederet Prestasi

Aceh merupakan tanah musafir Tgk. Jambi salah satu hal yang sering terganjal dalam komunikasi adalah bahasa, tentunya dalam pergaulan sehari-hari Tgk. Jambi disamping berjibaku dengan turast klasik alias kitab gundul juga belajar bahasa Aceh yang merupakan bahasa pengantar dalam keseharian walaupun guru kelas juga menyampaikan syarahan dalam bahasa nasional.

Ketekunan dan kegigihan Tgk. Jambi menuntut ilmu di kota santri Samalanga telah terlihat di awal duduk kelas satu dan dua telah mendapatkan juara kelas, bahkan tradisi itu bertahan hingga kelas aliyah.

Bukan hanya kejeniusan Tgk. Jambi sehingga mendapatkan juara lokal bahkan merdu dan syahdunya bacaan al-Quran dipercayakan menjadi imam oleh qismu ibadah (seksi jama’ah), fenomena ini penulis melihat sendiri saat masih menjadi makmum  shalat jama’ah di Masjid Po Teuemeureuhom yang terletak di tengah-tengah dayah tersebut.

Menjadi Imam Shalat di Masjid Po Teumeuruhom bukan sembarang orang tentunya mereka yang terpilih dan lewat seleksi yang ketat. Untaian qiraah dan doa khas dalam balutan irama serta merdunya suara “emas” Tgk Jambi selalu di kenang jamaah yang menjadi makmum shalat berjamaah termasuk penulis sendiri.

Saat ada acara resmi, bahkan kekosongan Imam, guru besar dan qasmi jamaah selalu menyebut nama Tgk. Jambi untuk menjadi Imam shalat berjamaah padahal penulis sendiri saat itu belun mengenal sosok beliau.

Pengumuman juara kelas saat Muharram, nama Tgk Jambi lengkap dengan alamatnya selalu menghiasi pentas Muharram hingga naik ke kelas tujuh (kelas tauthiah). Pergaulan yang luas dengan berbagai lapisan dan suku yang belajar di dayah MUDI juga komunikasinya mampu menjembatani berbagai persoalan, di percayakan di bidang Hubungan masyarakat (Humas) Dayah MUDI.

Salah satu kelebihan Tgk. Jambi menjadi moderator (MC) handal disetiap acara resmi terlebih aneka lomba Muharram, kemampuannya mampu menghidupkan suasana diselangi dengan canda kocak khasnya membuat santriawan dan santriawati saat itu mengabadikannya MC terfavorit sepanjang masa, entah ada santriwati yang naksir mencoba merebut qalbu mujahidin itu, biarkan cerita itu indah pada masanya.

Waktupun terus berotasi, Tgk Jambi sosok yang “mujahidin” sudah tentunya terus berjuang meraih kemesraan dunia wal akhirat di negeri Serambi Mekkah walaupun ombak dan tsunami menerjang menghalangi perjuangan sang mujahidin itu, masihkah bertahankah mujahidin berkacamata di samudera ilmu kota santri itu?

**Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Penggiat literasi asal Pidie Jaya