Biografi Guru Marzuqi Cipinang Muara

 
Biografi Guru Marzuqi Cipinang Muara

Daftar Isi Profil Guru Marzuqi Cipinang Muara

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mengajar Ngaji
  5. Karya-Karya

Kelahiran

Syekh Ahmad Marzuqi atau yang kerap disapa dengan panggilan Guru  Marzuqi lahir pada malam  Ahad waktu Isya tanggal 16 Ramadhan 1293 H, di Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Batavia (Jakarta Timur). Beliau merupakan putra dari pasangan Syekh Ahmad Mirshod dengan Hj. Siti Fathimah.

Nasab Guru Marzuqi dari jalur ayah, sampai kepada seorang sultan tanah Melayu. Nasab beliau diantaranya, Guru Marzuqi  bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Khotib Sa’ad bin Abdurrohman bin Sulthon, salah seorang sultan tanah melayu yang berasal dari negeri Pattani, Thailand  Selatan.

Sedangkan dari jalur Ibu, nasab diantaranya, Hj. Siti Fathimah binti H. Syihabuddin Maghrobi Al-Madura, berasal dari Madura dari keturunan Ishaq yang makamnya di kota Gresik Jawa Timur. H. Syihabuddin adalah salah seorang khotib di masjid  Al-Jami’ul Anwar Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Jakarta Timur.

Wafat

Pada pagi hari jum’at jam 06.15 WIB tanggal 25 Rajab 1352 H. Guru Marzuqi wafat. Jenazahnya  dikebumikan sesudah sholat Ashar yang dihadiri oleh para ‘ulama dari berbagai lapisan masyarakat,  yang jumlahnya amat banyak sehingga belum terjadi saat-saat sebelumnya. Pada saat shalat jenazahnya diimami oleh Sayyid ‘Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Habib ‘Ali Kwitang).

Pendidikan

Ketika  Guru Marzuqi berusia  enam  tahun, ia dikirim oleh ibundanya, Hj. Siti Fathimah, belajar  ilmu  agama kepada kakeknya, H. Syihabuddin Al-Maduri,  khatib  dan pendiri masjid di Rawa Bangke, depan stasiun Jatinegara.

Pada usia 9 tahun, ayahandanya, yang juga menjadi gurunya,wafat. Pada usia 12 tahun, ia diserahkan kepada seorang ‘alim al-ustadz H. Anwar untuk mendapat pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an dan berbagai disiplin ilmu agama Islam lainnya.

Menurut Ridwan Saidi, selain kepada Ustadz H. Anwar, Ia juga didik oleh Guru Bakir yang bergelar birulwalidain, anak yang berkhidmat kepada orang tua. Makam Guru Bakir terdapat di serambi samping masjid Rawa Bunga (Rawa  Bangke), Mester. Orang Betawi Kampung Mester menyebut Guru Bakir sebagai Dato Biru.

Kemudian, untuk memperluas ilmu agamanya, maka ibundanya menyerahkan lagi kepada ‘Allamah Sayyid Utsman bin Muhammad Banahsan. Melihat kejeniusan dan kekuatan hafalan dari Marzuki  muda, pada usianya keenam belas tahun, Saayyid Utsman mengirimnya ke Makkah untuk belajar  ilmu fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits hingga mantiq.

Kesempatan menuntut ilmu tersebut benar-benar dipergunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga, dalam waktu hanya 7 tahun saja beliau telah mencapai segala apa yang  dicita-citakannya, yakni  menguasai ilmu agama untuk selanjutnya diamalkan, diajarkan serta dikembangkan.

Guru-gurunya di Makkah diantaran adalah Syekh Usman Serawak, Syekh Muhammad ‘Ali Al-Maliki, Syekh Umar Bajunaid Al-Hadhrami, Syekh Muhammad Amin Sayyid Ahmad Ridwan, Syekh Hasbulloh  Al-Mishro, Syekh Umar  Al-Sumbawi, Syekh Mukhtar `Atharid, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Mahfudz At-Tarmisi, Syekh Sa`id Al-Yamani, Syekh Abdul Karim Ad-Dagestani dan Syekh Muhammad ‘Umar Syatho. Dari gurunya yang lain, yaitu Syekh Sayyid  Ahmad Zaini Dahlan (Mufti Makkah), Guru Marzuqi memperoleh ijazah  untuk  menyebarkan Tarekat  Al-Alawiyah.

Mengajar Ngaji

Saat memasuki tahun ke-7 beliau bermukim di Makkah, datanglah sepucuk surat dari Sayyid Utsman yang meminta agar Guru Marzuki kembali ke Jakarta. Maka pada tahun 1332 H  atas pertimbangan   dan persetujuan guru-gurunya di Makkah beliau kembali pulang ke Jakarta dengan tugas  menggantikan Sayyid ‘Utsman (guru beliau) dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada  murid-muridnya.

Tugas  yang diamanatkan  ini  dilaksanakan  sebaik-baiknya sampai sayyid Utsman wafat. Pada tahun 1340 H, ia melihat keadaan di Rawa Bangke (Rawa Bunga) sudah tidak memungkinkan lagi untuk mengembangkan agama Islam, karena lingkungannya yang sudah rusak. Ia segera mengambil suatu keputusan untuk berpindah ke kampung Muara.

Disinilah ia mengajar dan mengarang kitab-kitab di samping memberikan bimbingan kepda  masyarakat. Nama dan pengaruhnya semakin bertambah besar, karena bimbingannya banyak  orang-orang kampung memeluk agama Islam dan kembali ke jalan yang diridhoi Allah SWT. Tak  hanya itu,  para santri dan pelajar banyak berdatangan dari pelosok penjuru untuk menimba ilmu  kepada beliau.

Sehingga tepatkalau akhirnya kampung tersebut dijuluki “Kampung Muara”, karena disanalah muaranya orang-orang yang menuntut ilmu.

Karya-Karya

Guru Marzuqi telah menulis 13 kitab, yang dapat dilihat sekarang hanya 8 buah, berisi tentang fiqih, akhlak, akidah, yaitu:

  1. Kitab Zahrulbasaatin fibayaaniddalaail wal baroohin
  2. Kitab Tamrinulazhan al-`ajmiyah fii ma’rifati tirof minal alfadzil‘arobiyah
  3. Kitab Miftahulfauzilabadifi’ilmil fiqhil Muhammadiyi
  4. Kitab Tuhfaturrohman fibayaniakhlaqi bani akhirzaman
  5. Kitab Sabiluttaqlid
  6. Kitab Sirojul Mubtadi
  7. Kitab Fadhlurrahman
 
 

Tags