Biografi KH. Romli Tamim

 
Biografi KH. Romli Tamim

Daftar Isi Profil KH. Romli Tamim

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Pencipta Wirid Istighotsah
  7. Karomah

Kelahiran

KH. Muhammad Romli Tamim lahir pada tahun 1888 di Bangkalan Madura. Beliau merupakan putra ketiga dari empat bersaudara, dari KH. Tamim Irsyad (seorang Kiai asal Bangkalan Madura). Saudara-saudara beliau diantaranya, Muhammad Fadlil, Siti Fatimah, Muhammad Romli Tamim, dan Umar Tamim.

Sejak masih kecil, beliau diboyong oleh orang tuanya, KH. Tamim Irsyad ke Peterongan Jombang.

Wafat

KH. Muhammad Romli Tamim wafat pada tanggal 16 Ramadlan 1377 H atau tanggal 6 April 1958 M di Rejoso.

Sebulan sebelum Kiai Romli meninggal, Pesantren Darul Ulum sudah berduka dengan wafatnya KH. Dahlan pada tanggal 16 Maret 1958 di usia 57 tahun. Tak cukup disitu saja, tahun 1961 KH. Ma’sum Kholil menyusul kakak dan pamannya keharibaan Allah SWT. Dengan demikian tahun 1961 adalah akhir era kepemimpinan Tiga Serangkai Kiai Rejoso.

Keluarga

Setelah lama mengabdi di Pesantren Tebuireng, KH. Muhammad Romli Tamim diambil sebagai menantu oleh KH. Hasyim Asy’ari yang dinikahkan dengan putri beliau, Nyai Izzah binti Hasyim pada tahun 1923 M. Namun pernikahan ini tidak berlangsung lama. Nyai Izzah kemudian menikah lagi dengan Kiai Idris Kamali.

Seusai pengabdiannya di Tebuireng dan setelah merasa gagal pada perkawinan pertama beliau nikah lagi dengan putri Desa Besuk Jombang yang bernama Nyi Maisyaroh.

Pendidikan

Di masa kecilnya, selain belajar ilmu dasar agama dan al-Qur’an kepada ayahnya sendiri juga belajar kepada kakak iparnya yaitu KH. Kholil (pembawa Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Rejoso). Setelah belajar agama dari keluarga sendiri, pemuda Romli berangkat menuju Madura untuk belajar kepada guru ayahnya, Saikhona Kholil Bangkalan. Di sinilah Romli belajar banyak tentang agama. Ilmu alat nahwu-shorof dan tasawuf menjadi menu hidupnya sehari-hari.

Setelah dirasa cukup belajar kepada KH. Kholil Bangkalan, beliau melanjutkan belajar ke Pesantren Tebuireng langsung dibawah asuhan Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Usianya ketika itu adalah 25 tahun, usia yang cukup matang dan dewasa. Kealiman, kecerdasan dan ketawadhuan Kiai Romli membuat Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menaruh hati pada beliau. Akhirnya beliau diminta untuk mengajar para santri Tebuireng. Bahkan karena dianggap mumpuni dalam mengajar, Kiai Romli diangkat menjadi Lurah Pondok.

Pada tahun 1919 Kiai Romli melanjutkan belajarnya di tanah suci Mekkah selama satu tahun. Setelah kembali ke Tebuireng, gelar kiai melekat erat dalam nama beliau (Kiai Mohammad Romli Tamim).

Mendirikan Pesantren

KH. Muhammad Romli Tamim pulang ke rumah orang tuanya di Rejoso Peterongan. Di sana bersama keponakannya, KH. Dahlan Kholil. Kiai Romli dan Kiai Dahlan Kholil bahu-membahu mengembangkan Pondok Pesantren Darul Ulum pada tahun 1939. Tak lama kemudian Adik Kiai Dahlan, Kiai Ma’sum pulang dari Mekkah, terbentuklah istilah Tiga Serangkai Kiai Darul Ulum.

Di antara murid-murid beliau yang terkenal dan menjadi kiai besar ialah KH. Muhammad Abbas (Buntet Cirebon), KH. Muhammad Utsman Ishaq (Sawahpuluh Surabaya), KH. Shonhaji (Kebumen), dan KH. Imron Hamzah (Sidoarjo).

Disamping seorang mursyid, Kiai Romli juga produktif dalam menulis kitab. Di antara kitab-kitab karangan beliau ialah: al Istighotsah bi Hadrati Rabbi al Bariyyah, Tsamratu al Fikriyah, Risalah al Waqi’ah, dan Risalah ash Shalawat an Nariyah.

Pencipta Wirid Istighotsah

Kata Istighatsah adalah bentuk masdar dari fi’il madli “Istaghatsa” yang berarti mohon pertolongan. Secara terminologis, Istighasah berarti bacaan wirid tertentu yang dibacakan untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT atas segala problematika kehidupan yang dihadapi.

Di kalangan masyarakat khususnya kaum Nahdliyyin, istighatsah baru dikenal luas pada tahun 1990-an. Di Kalangan murid tarekat, khususnya Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam tradisi NU istighatsah menjadi salah satu ajaran yang diamalkan secara rutin dalam banyak kesempatan. Tak banyak yang tahu bahwa penyusun amalan fenomenal ini adalah KH. Romli Tamim. Peran Kiai Romli tak bisa dipungkiri dalam khazanah tradisi ke-NU-an. Bahkan umat Islam seluruh Indonesia mengenal dan hafal bacaan wirid itu.

Susunan (tartib) istighasah terangkum dalam kitab karangan beliau “al-Istighatsah bi Hadrati Rabb al-Bariyyah” (tahun 1951). Kemudian pada tahun 1961 diterjemah ke dalam bahasa Jawa oleh putranya KH. Musta’in Romli. Kiai Romli menyusun kitab ini tidak lain adalah dalam kapasitas sebagai seorang Mursyid tarekat besar. Namun agaknya terlalu remeh jika tujuan itu melatarbelakangi karangan beliau.

Geliat perkembangan dunia dan kemajuan teknologi tak pelak membuat manusia menjadi hedonis, komsumeris, dan statis. Untuk itu Kiai Romli mengajak umat muslim sejenak di tengah kemelut duniawi mengingat Allah dalam lantunan-lantunan dzikir yang beliau susun. Kaum Nahdliyin patut bertawasul secara khusyu’ pada Kiai Romli Tamim, sebab tarekat yang beliau kembangkan adalah oase di tengah panasnya dunia dengan berbagai kemelut duniawi.

Karomah

Salah satu karomah KH. Muhammad Romli Tamim yang banyak diriwayatkan oleh para Kiai diantaranya adalah saat berkecamuknya perang melawan sekutu yang diboncengi NICA pada bulan November 1945. Alkisah, di zaman pertempuran melawan sekutu berkecamuk kembali di Tanah Air, tepatnya pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, beliau menggerakkan santri-santri untuk maju perang di barisan komando Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, yang juga guru sekaligus mertua beliau.

Beliau sendiri turut terjun ke medan tempur saat itu. Sebelumnya para santri diberi minuman dan dibekali kepalan-kepalan tanah liat yang telah diasma’i. Konon, setiap kepalan tanah liat itu dilemparkan, akan bereaksi seperti bom yang meluluh lantakkan musuh. Dan seperti kita ketahui bersama, kemenangan berhasil diraih para pejuang Hizbullah saat itu.

Di lain kesempatan, konon Mbah Yai Romli pernah di tahan oleh penjajah, namun anehnya setiap sholat jama’ah di Pondok Njoso akan dimulai, beliau selalu hadir dan mengimami sholat, namun kemudian kembali lagi. Hal inilah yang pada akhirnya menggemparkan para penjajah saat itu. Karena keanehan Mbah Yai Romli saat itu mengundang simpati besar masyarkat yang ingin setiap hari berdatangan mengunjungi beliau di penjara. Beliaupun dibebaskan oleh penjajah.

Lain lagi tentang bioskop yang konon pernah ada di sekitar pasar Peterongan. Karena keberadaan bioskop itu menjadi ajang ma’shiyat dan sangat meresahkan masyarakat, hingga banyak yang mengadukan hal itu kepada beliau. Beliau hanya berpesan untuk melemparkan beberapa butir batu ke halaman bioskop tersebut. Konon beberapa waktu kemudian bioskop tersebut bangkrut dan tutup dengan sendirinya.