Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Zainul Arifin Pohan
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Zainul Arifin Pohan

1909 – 1963 M · 31.889 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Zainul Arifin Pohan lahir pada 2 September 1909, di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Beliau diangkat menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 4 Maret 1963 berdasarkan Keppres No. 35 Tahun 1963.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu

3.2  Karier
3.1  Ketua Cabang NU
3.2  Panglima Hizbullah NU
3.3  Politik

4.   Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Zainul Arifin Pohan lahir pada tanggal 2 September 1909, di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

1.2 Wafat
Di tengah meningkatnya suhu politik, pada 14 Mei 1962, saat melaksanakan shalat Idul Adha di barisan terdepan bersama Soekarno, KH. Zainul Arifin Pohan tertembak peluru yang diarahkan seorang pemberontak DI/TII dalam percobaan membunuh presiden. KH. Zainul Arifin Pohan meninggal di Jakarta pada tanggal 2 Maret 1963 pada usia 53 tahun setelah menderita luka bekas tembakan di bahunya selama sepuluh bulan. Beliau diangkat menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 4 Maret 1963 berdasarkan Keppres No. 35 Tahun 1963.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

Di lingkungan rumahnya, KH. Zainul Arifin Pohan menyelesaikan HIS (Hollands Indische School) dan sekolah menengah calon guru, Normal School. Selain itu, Kyai Arifin juga memperdalam pengetahuan agama di madrasah dan di surau tempat mengaji.

Beliau juga belajar agama saat menjalani pelatihan seni bela diri Pencak Silat. KH. Zainul Arifin juga merupakan seorang pecinta kesenian yang aktif dalam kegiatan seni sandiwara musikal Melayu, Stambul Bangsawan, sebagai penyanyi dan pemain biola. Stambul Bangsawan merupakan awal perkembangan seni panggung sandiwara modern Indonesia.

3. Karier
3.1 Ketua Cabang NU

Pada usia 16 tahun, KH. Zainul Arifin Pohan merantau ke Batavia (Jakarta) dan sempat bekerja di pemerintahan Kotapraja Kolonial (Gemeente) sebagai pegawai di Perusahaan Air Minum (PAM) di Pejompongan, Jakarta Pusat. Di sana, beliau bekerja selama lima tahun sebelum terkena PHK akibat resesi global yang bermula dari Amerika dan berdampak hingga Hindia Belanda. Selepas bekerja di Gemeente, beliau bekerja sebagai guru sekolah dasar dan mendirikan balai pendidikan untuk orang dewasa, Perguruan Rakyat, di kawasan Meester Cornelis (Jatinegara sekarang). KH. Zainul juga sering memberi bantuan hukum bagi masyarakat Betawi sebagai tenaga Pokrol Bambu, pengacara tanpa latar belakang pendidikan hukum namun menguasai Bahasa Belanda.

Selain itu, beliau pun aktif kembali dalam kegiatan seni sandiwara musikal tradisional Betawi yang berasal dari tradisi Melayu, yakni Samrah. Beliau sempat mendirikan kelompok Samrah bernama Tonil Zainul. Dari kegiatan kesenian ini, beliau berkenalan dan bersahabat dengan tokoh perfilman nasional, seperti Jamaluddin Malik, yang juga aktif dalam kegiatan Samrah. Mereka kemudian bergabung dengan Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Pengetahuan agama dan keterampilan berdakwahnya sebagai mubalig muda semakin meningkat selama menjadi Anggota GP Ansor, terutama melalui pelatihan-pelatihan khas Ansor.

Kepiawaian Kyai Zainul dalam berpidato, berdebat, dan berdakwah menarik perhatian tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU), seperti KH. Wahid Hasyim, KH. Mahfudz Shiddiq, KH. Muhammad Ilyas, dan KH. Abdullah Ubaid. Hanya dalam beberapa tahun, KH. Z

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+