Pemerhati Lingkungan Riyanni Djangkaru Kritik Pemrov DKI soal Instalasi Batu Gabion

 
Pemerhati Lingkungan Riyanni Djangkaru Kritik Pemrov DKI soal Instalasi Batu Gabion

LADUNI.ID, Jakarta - Pemerhati lingkungan Riyanni Djangkaru menyampaikan kritik terhadap Pemprov DKI Jakarta terkait penggunaan batu karang yang disusun menjadi instalasi Gabion pengganti instalasi Bambu Getah Getih.

Mantan presenter acara Jejak Petualang mengaku mengetahui hal itu setelah mengeceknya langsung ke Bundaran HI.

"Pas saya dekati, kelihatan memang sebagian besar pola-pola skeleton karang itu terlihat cukup jelas. Kalau dilihat langsung, kita langsung ngeh," ujar Riyanni, Sabtu (24/8/19) kemarin.

Dia menyebutkan, batu karang itu digunakan sebagai jalan setapak menuju instalasi Gabion dan susunan bebatuan dalam instalasi Gabion.

"Ada beberapa jenis batu karang yang digunakan, seperti brain coral (karang otak), massive coral, dan ada beberapa jenis lainnya," tuturnya.

Lantas, dia mempertanyakan penggunaan batu karang tersebut. Sebab, menurut dia, konservasi terumbu karang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Terpisah, sementara Kepala Dinas Kehutanan Pemrov DKI Jakarta, Suzi Marsitawati membantah instalansi Gabion menggunakan bahan material adalah batu karang. Menurut Suzi, batu yang di gunakan adalah batu Gamping.

"Menanggapi informasi selama beberapa hari ini viral penggunaan terumbu karang di instalasi Gabion, saya nyatakan itu tidak benar. Yang kami gunakan adalah batu gamping," kata Suzi, Minggu kemarin.

Dia menjelaskan, batu yang digunakan dalam instalasi Gabion bukan batu karang melainkan batu Gamping.

"Dinas Kehutanan mengetahui bahwa itu batu Gamping setelah berdiskusi dan berkoordinasi dengan geolog dan akademisi dari Universitas Indonesia," ujarnya.

Diketahui, instalasi Gabion atau Batu Bronjong menghiasi bekas lokasi tempat instalasi Bambu Getah Getih yang telah dibongkar pada bulan juli 2019 lalu.

Namun karena Bambu Getah Getih itu rapuh Pemrov DKI Jakarta melakukan pembongkaran. (*)