Kopi Organik Lahat Berpotensi Saingi Kopi Brazil dan Kolombia

 
Kopi Organik Lahat Berpotensi Saingi Kopi Brazil dan Kolombia

LADUNI.ID, Jakata - Seorang pakar kopi organik asal Belanda dari Programma Uitzending Manajer (PUM) Senior Expert yakni Bernard Gildemacher mengunjungi kebun kopi di Kabupaten Lahat, Desa Sumber Karya, Kecamatan Gumay Ulu, Lahat, pada bulan lalu.

Pada kunjungannya itu, Bernard mengkui bahwa kopi organik Lahat bisa saja mendunia. Hanya saja, kualitasnya harus diperbaiki agar bisa bersaing dengan kopi asal Brazil dan Kolombia. Proses penanaman dan penjemuran harus dilakukan berdasarkan standar yang diinginkan.

“Rasa kopinya lebih nikmat,” kata Bernard saat mencicipi kopi organik Lahat didampingi pemerhati wisata dan budaya Lahat Mario “Maryoto” Andramatik, seperti dikutip Laduni.id dari laman sumateranews.co.id pada Minggu (19/1).

Kunjungan Bernard juga menjadi bukti bahwa kopi organic di Lahat memang mendunia. Bahkan, Bernard mengaku telah berkeliling dunia untuk mencicipi kopi dari berbagai negara. Ia memberikan kesan tersendiri saat meminum kopi organik Lahat jenis Robusta.

Menurut Bernard, kopi organik Lahat cukup nikmat jika dibandingkan kopi organik asal negara lain yang dikunjunginya. Seperti Uganda, Myanmar, dan Ghana.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Lahat Agustia Budiman melalui Kabid Perkebunan Engkos Kosasih menambahkan bahwa untuk jumlah petani kopi Lahat ada 45505 petani dengan luas lahan 54441 ha. Produksi pertahun mencapai 398303 ton/tahun.

”Untuk lahan kebun kopi yang luas di antaranya di kawasan Tanjung Sakti, mencapai 4000 ha lebih, lalu Suka Merindu, Pajar Bulan, yang mencapai hampi 4000 ha,” terang Budiman.

Hal ini juga diperjelas oleh Pendamping Desa Organik sekaligus Penyuluh THL TBPP (Tenaga Harian lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian), Kementrian Pertanian Suharsono. Dia mengaku melakukan pendampingan kebun kopi desa organik ini sejak 2016 lalu.

Menurut Suharsono, hal tersebut berawal dari program Nawacita Presiden untuk melalukan pendataan calon petani kebun kopi organik, kelompok tani Bhineka Tunggal Ika, Desa Sumber Karya, Kecamatan Gumay Ulu, Lahat kemudian diusulkan.

Selanjutnya dilakukan pengecekan oleh pihak Badan Standarisaai Nasional guna menuju sertifikasi kopi organik. “Saat ini ada 21 petani dengan luas lahan 16,75 ha,” ujar Suharsono.

Suharsono juga menjelaskan bahwa pada tahun 2019 akan dilakukan penilaian. Bila berhasil maka akan keluar sertifikat kopi organik. Kebun kopi organik yang dilakukan masyarakat, diceritakannya berawal dari pemanfaatan sumber daya yang ada seperti kotoran ternak serta masalah ekonomi dimana petani tidak mampu membeli pupuk maupun racun, sejak tahun 2002 lalu. Sehingga dilakukan secara organik seperti penyiangan kebun dan lainnya.

Sejauh ini, kebun kopi desa organik telah memproduksi biji kopi untuk dijual ke pasaran. Namun untuk pemesanan masih belum ramai, terutama khusus untuk petik merah kopi organik. Pihaknya sendiri berharap ketika sudah keluar sertifikasi, harga dan pasar kopi organik sudah jelas.

“Karena untuk pembinaan petik merah, cara pengeringan dan lainnya sudah diketahui petani. Hanya saja harus ada pasar yang jelas dan harga yang sesuai,” ungkap Suharsono.