Momentum Untuk Mengenang Jasa Presiden RI ke 4, Gus Durian Bekasi Raya Gelar Haul

 
Momentum Untuk Mengenang Jasa Presiden RI ke 4, Gus Durian Bekasi Raya Gelar Haul

Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menerima cindera mata usai menjadi pembicara pada acara FGD Foto: laduni

LADUNI.ID, Bekasi - Gusdurian Bekasi Raya menggelar Haul Gus Dur ke-10 di Pesantren Motivasi Indonesia (PMI), Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, pada Sabtu (25/1).

Hadir pada kesempatan itu istri Presiden Republik Indonesia keempat Ny Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, yang kedatangannya disambut dengan pagelaran budaya Betawi, yakni palang pintu.

Hadir juga sejumlah narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema, “Pesan Perdamaian di Bumi Bekasi”.

Narasumber FGD diantaranya adalah Intelektual Nahdlatul Ulama (NU) Gus Ulil Abshar Abdalla, Mubaligh Ahmadiyah Wilayah Jawa Barat 01 Maulana Ma’mun Ahmad Sahib, dan Tokoh Katolik Bekasi Romo Antonius Suhardi Antara Pr.

Ketua panitia pelaksana, Muhammad Ihsan Yahya mengatakan, tema FGD tersebut diambil karena menjadi kebutuhan bagi keadaan di Bumi Bekasi akhir-akhir ini. Menurut dia, Bekasi selama ini selalu diidentikkan dengan tempat singgah para teroris. Hal tersebut, karena para teroris seringkali tertangkap oleh aparat kepolisian.

“Kami ingin mencari solusi dengan memanggil dan mengundang para tokoh agama se-Bekasi Raya agar Bekasi ini dapat menjadi rumah yang aman dan damai bagi semua," ucap dia kepada laduni.id, Sabtu (25/1/20)

Karena Bekasi ini, jelas dia, penduduknya sangat heterogen dan menjadi penyangga Ibukota Jakarta.

"Sehingga memiliki potensi besar terjadi konflik sektarian," terang pria yang dikenal dengan nama Ihsan Sekupi ini.

Lebih lanjut kata dia, Gusdurian Bekasi Raya sebagai penerus spirit dan nilai-nilai Gus Dur akan senantiasa menjadi garda terdepan dalam menjaga perdamaian dari potensi konflik yang besar itu.

“Sehingga momentum peringatan Haul Gus Dur ke-10 ini tidak hanya sebagai acara yang bersifat seremonial atau monumental saja, tetapi ada sebuah nilai yang harus kami bawa dalam perjalanan kemasyarakatan setelah ini,” tambah dia.

Sementara Koordinator Gusdurian Bekasi Raya M Shofiyulloh mengatakan bahwa peringatan Haul Gus Dur ke-10 yang diadakan bertepatan dengan Hari Raya Imlek ini menjadi momentum untuk mengenang jasa Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid.

“Beliau telah meresmikan Konghucu sebagai agama, memberikan izin perayaan Tahun Baru Imlek, dan menerima etnis Tionghoa sebagai bagian dari perjalanan bangsa Indonesia, yang sebelumnya dilarang oleh Presiden Soeharto,” kata Kang Opi, demikian dia akrab disapa.

Dia menambahkan, Gus Dur adalah sosok yang sulit untuk didefinisikan. Sosok yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta itu, menurut Kang Opi, merupakan seorang budayawan sejati. Beberapa tulisan Gus Dur pun memuat berbagai gagasan bahwa agama dan budaya harus menjadi ruh dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

“Karena dengan budaya, kita bisa menikmati Islam hingga sekarang. Islam masuk dengan pendekatan budaya tanpa peperangan dan tetes darah sedikit pun. Gus Dur kemudian melanjutkan perjuangan para wali penyebar Islam di Bumi Nusantara,” lanjut dia.

Gus Dur juga, ujar Kang Opi melanjutkan, merupakan seorang kiai dan sekaligus politisi. Bahkan, beberapa ulama menobatkan Gus Dur sebagai wali. Hal tersebut, menurutnya, tidak berlebihan lantaran pengakuan itu bisa dibuktikan secara konkret dan ilmiah.

“Maka, peringatan Haul Gus Dur ke-10 yang diadakan di Bekasi ini diharapkan mampu menjadi ruh bagi perjuangan kami untuk meneruskan nilai-nilai Gus Dur itu agar diterapkan di dalam kehidupan bermasyarakat,” ucap dia, tegas.

Dengan demikian, menurut Kang Opi, Gusdurian Bekasi Raya secara tidak langsung telah turut andil dalam melestarikan perjuangan para wali terdahulu dengan menjadi ruang dakwah bagi agama yang ramah terhadap berbagai perbedaan.

“Karena perbedaan itu adalah sunnatullah dan Indonesia ada karena perbedaan. Begitulah Dawuh Gus Dur yang menjadi pegangan kuat saya selama ini,” tutur dia.

Gelaran acara ini pun disambut baik oleh Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia KH Nurul Huda Haem. Dia berpesan, Gus Dur adalah orang mulia yang wajib dimuliakan. Maka, salah satu cara untuk memuliakan Gus Dur sebagai sosok yang mulia itu adalah dengan memuliakan para tamu yang hadir.

“Jangan sampai para tamunya Gus Dur ini kebingungan ketika tiba di lokasi acara. Tamu-tamu yang hadir nanti, yang niatnya adalah mengharap berkah dari Gus Dur itu harus dengan tulus kita layani,” kata kiai alumnus Ploso, Kediri, Jawa Timur, yang akrab disapa Ayah Enha ini.

Selaras dengan itu, Ayah Enha memiliki jargon yang terus-menerus diingatkan kepada panitia acara dan penggerak Gusdurian Bekasi Raya, yakni ‘Love All Serve All’. Artinya mencintai semua, melayani semua.

“Saya kira, itu juga yang menjadi ajaran utama Gus Dur. Bahwa mencintai apa pun dan siapa pun di muka bumi ini sebagai kristalisasi dari kecintaan kepada Allah. Sekaligus juga melayani semua orang sebagai perwujudan kita sebagai hamba yang mengabdi kepada Allah. Itulah kunci segala hal agar hidup kita menjadi ringan seperti Gus Dur,” pungkas Ayah Enha.

Selain para narasumber, Gusdurian Bekasi Raya juga mengundang Kepolisian Resort Metro Bekasi, Pejabat Pemerintahan di Bekasi, organisasi kepemudaan, dan seluruh masyarakat Bekasi secara umum. Juga di undang beberapa pendeta Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Bekasi, yang selama ini telah terjalin ikatan emosional yang cukup kuat. (*)