Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Ahmad Rukyat (Mbah Rukyat Kaliwungu)
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Ahmad Rukyat (Mbah Rukyat Kaliwungu)

lahir 1885 M · 31.621 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Di bawah kepemimpinan KH. Ahmad Rukyat, Pondok Pesantren APIK berkembang pesat. Saat itu, bangsa Indonesia tengah berjuang melawan penjajah, dan rumah pendiri pondok dijadikan Posko Palang Merah.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi
1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mengasuh Pesantren
4.2  Karomah

5.   Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Ahmad Rukyat lahir pada tahun 1305 H/1885 M di Kampung Pungkuran, Kutoharjo, Kaliwungu. Ayahnya, Abdullah bin Musa, merupakan saudara dari KH. Irfan bin Musa, pendiri Pondok Pesantren Salaf APIK. Ibunya bernama Sujatmi. Sejak kecil, KH. Ahmad Rukyat sudah menunjukkan ketekunan dalam menuntut ilmu agama.

1.2 Wafat
KH. Ahmad Rukyat wafat pada malam Jum’at tanggal 9 Robi’ul Akhir 1388 H/4 Juli 1968 M. Meskipun beliau tidak meninggalkan keturunan, jasa dan pengabdiannya dikenang oleh ribuan santri dan masyarakat Kaliwungu.

Haul beliau diperingati setiap tanggal 9 Robi’ul Akhir, yang juga menjadi haul akbar para masyayih Kaliwungu. Nasihat dari sahabat karibnya, Kyai Syarbini, terbukti benar, meski tanpa anak biologis, KH. Ahmad Rukyat memiliki ribuan anak spiritual yang terus mendoakannya dan mengingat jasa-jasanya.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Sejak kecil, KH. Ahmad Rukyat sudah menunjukkan ketekunan dalam menuntut ilmu agama. Beliau memulai pendidikannya dengan mengaji Al-Qur’an kepada KH. Abdul Karim di kampung Petekan. Selain itu, beliau juga mempelajari kitab Tashrifan dan Jurumiyah kepada Kyai Barmawi, seorang wali Allah yang dikenal di Kaliwungu.

KH. Ahmad Rukyat melanjutkan pendidikannya dengan mengaji kepada KH. Ahmad bin Al-Allamah Kyai Abdul Karim bin Rifa’i di Pesantren Petekan. Di sini, beliau mempelajari kitab Hasiyah al Bajuri Ala Fathil Qorib. Selain itu, beliau juga memperdalam ilmu syariah dan perangkatnya seperti Fathul Wahhab, Qotrun Nada, dan Taqribul Ushul kepada pamannya, Kyai Irfan bin Musa.

Pendidikan formal beliau dilanjutkan dengan mondok di luar Kaliwungu, yaitu di Pondok Pesantren Jamsaren, Solo, di bawah bimbingan Kyai Idris selama kurang lebih 12 tahun (1908-1920 M).

2.2 Guru-Guru:

  1. KH. Abdul Karim  di kampung Petekan - Mengajarkan Al-Qur’an.
  2. Kyai Barmawi di belakang Pondok Kauman - Mengajarkan kitab Tashrifan dan Jurumiyah.
  3. KH. Ahmad bin Al-Allamah Kyai Abdul Karim bin Rifa’i di Pesantren Petekan - Mengajarkan kitab Hasiyah al Bajuri Ala Fathil Qorib.
  4. Kyai Irfan bin Musa (Pamannya) - Mengajarkan ilmu syariah dan kitab-kitab seperti Fathul Wahhab, Qotrun Nada, dan Taqribul Ushul.
  5. Kyai Idris di Pondok Pesantren Jamsaren, Solo - Membimbing selama mondok 12 tahun (1908-1920 M).

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
Setelah pulang dari mondok, KH. Ahmad Rukyat menikah dan merintis berbagai usaha seperti bekerja di perusahaan batik pamannya, bertani, serta berjualan jamu dan kitab. Namun, semua profesi tersebut dijalani dengan niat untuk menunjang dakwahnya. Setiap hari, beliau aktif mengajar ngaji mulai dari subuh hingga malam, mengajarkan berbagai kitab seperti Tafsir Jalalain, Fathul Wahhab, Ihya’Ulumiddin, Shohih Bukhori, Syarah Mahalli

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+