Prof. Dr. KH. Abdul Mukti Ali lahir pada 23 Agustus 1923 di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Beliau merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara, dari pasangan KH. Idris dan Bu Mutiah.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjabat Menteri Agama
4. Chart Silsilah Sanad
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Prof. Dr. KH. Abdul Mukti Ali lahir pada tanggal 23 Agustus 1923 di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Beliau merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara, dari pasangan KH. Idris atau KH. Abu Ali (nama yang digunakan setelah menunaikan haji) seorang pedagang tembakau yang cukup sukses dengan Mutiah, atau Hj. Khodijah (nama yang digunakan setelah menunaikan haji) seorang saudagar kain.
Kyai Mukti Ali memiliki nama kecil Soedjono (Sujono), namun sumber lain ada yang menyebutkan Boedjono (Bujono). Sedangkan nama Abdul Mukti Ali sendiri didapat dari pemberian KH. Hamid Pasuruan ketika menjadi gurunya.
1.2 Wafat
Prof. Dr. KH. Abdul Mukti Ali meninggal dunia dalam usia 81 tahun pada tanggal 5 Mei 2004, sekitar pukul 17.30 di Rumah Sakit Umum Dr. Sardjito, Yogyakarta. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Keluarga Besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga di Desa Kadisoko, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman.
Beliau meninggalkan seorang istri, tiga orang anak, dan empat orang cucu. Diceritakan bahwa istri beliau, Siti Asmadah menganggap Kyai Mukti sebagai sosok suami yang sangat sabar, dalam sebuah kesempatan ia mengatakan, "bapak itu jarang sekali marah-marah dan sabar sekali."
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Pada usia delapan tahun, Kyai Mukti Ali menempuh pendidikan formalnya dengan masuk HIS (Hollandsch Inlandsche School), sekolah milik Pemerintah Hindia Belanda setingkat Sekolah Dasar. Di samping itu, beliau menyempatkan juga mengaji (belajar agama Islam) di Madrasah Diniyah (Sekolah Islam) di Cepu, yang kegiatan belajarnya berlangsung sore harinya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di HIS dan mendapat sertifikat pegawai pemerintah Belanda (Klein Ambtenar Examen), Kyai Mukti Ali melanjutkan belajarnya ke Pondok Pesantren di Cepu untuk belajar Al-Qur'an kepada KH. Usman. Di bawah asuhan KH. Usman yang terkenal tegas, beliau belajar membaca Al-Qur'an dengan fasih dan tartil menurut kaidah ilmu tajwid.
Pada pertengahan tahun 1940, Kyai Mukti Ali muda dikirim ayahnya untuk belajar di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, di bawah asuhan KH. Dimyati dan putranya KH. Abdul Hamid Dimyati. Di tempat ini, beliau secara intensif mempelajari berbagai kitab, seperti Nahwul Wadlih, Balaghatul Wadhihah, Jurumiyah, Alfiyah, Taqrib, Iqna', Mustalah Hadis, Jam'ul Jawami', dan lain-lain.
Di pesantren tradisional ini, selain mengaji di bawah pengasuh pesantren, Kyai Mukti Ali ju
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

