Biografi Nyai Hj. Umi Habibah

 
Biografi Nyai Hj. Umi Habibah

Daftar Isi Biografi Ibu Nyai Hj.Umi Habibah

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Keluarga
  4. Keistimewaan
  5. Pesan

Kelahiran

Ibu Nyai Hj.Umi Habibah dilahirkan di Sidoarjo pada tanggal 22 September 1963. Beliau merupakan putri bungsu dari tiga bersaudara dan satu-satunya putri dari pasangan KH. Musthofa Nur dan Ibu Nyai Hj. Maimunah. Beliau adik dari DR. A. An-Najib Musthofa Nur, MA salah satu dosen di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sejak masih kecil, Ibu Nyai Hj. Umi Habibah terlihat memancarkan tanda-tanda kekharismatikan (penuh daya tarik).

Pendidikan

Sejak kecil Ibu Nyai Hj. Umi Habibah sudah ditanamkan pendidikan agama. Seakan-akan sudah dicetak oleh orang tua beliau sebagai calon penggantinya. Bermula dari sekolah di Madrasah Ibtida’iyah Ma’arif Brebek Wadung Asri Waru Sidoarjo. Sejak kelas 3-4 sudah diajarkan kitab kosongan/gundul oleh Abah beliau. Sejak kelas V MI tahun 1975 beliau sudah dilatih untuk mengetahui kehidupan dipesantren yaitu mondok romadhon pada Ibu Nyai Sa’adah (Alm) Tanggulangin yang sebagai seorang hafidzoh. Disinilah awal Ibu Nyai Hj. Umi Habibah menghafal Al-Qur’an.

Setelah tamat dari Madrasah Ma’arif  Brebek beliau melanjutkan pendidikannya di Singosari Malang. Pada hari Rabu, 28 Desember 1976 beliau mondok di Pondok Pesantren Nurul Huda Singosari Malang yang diasuh oleh KH. Abdul Manan (teman Abi Ibu Nyai). Beliau di pondok sebagai santri tahfidz yang merangkap sekolah Diniyah dan Madrasah Tsanawiyah.

Ketika di Pondok Pesantren Nurul Huda kekharismatikan Ibu Nyai Hj. Umi Habibah muncul kembali dengan dibuktikan kuatnya kualitas hafalan beliau yang tidak diragukan lagi. Demi ketaatanya kepada sang Kiai meski beliau sudah menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya seiring tamatnya sekolah MTs beliau tidak boleh pindah pondok untuk melanjutkan cita-citanya. Maka beliau melanjutkan sekolahnya ke tingkat Madrasah Aliyah di Singosari hanya sampai kelas I MA. Mengingat pondok yang ingin dituju Ibu Nyai Hj. Umi Habibah sesuai dengan harapan KH. Abdul Manan maka Kiai mengizinkan beliau untuk melanjutkan pendidikannya kelas II dan III MA yaitu di Pondok Walisongo Cukir yang di asuh oleh KH. Adlan ‘Ali.

Semasa di pesantren beliau pernah memenangkan lomba baca kitab antar pondok pesantren se-Jombang yang kebetulan perlombaan itu diadakan di Tambakberas pada tanggal 28 April 1983, beliau dipilih sebagai pemenang juara III lomba baca kitab Fathul Mu’in. bahkan beliau terpilih sebagai peserta MHQ se-Jawa Timur yang mewakili kontingen Jombang di Kediri. Sebelum boyong dari Pondok Cukir beliau bernazar, jika Al-Qur’annya lancar beliau ingin pondok romadhon di pondok KH. Abdul Hamid Pasuruan yang terkenal wali itu. Akhrinya suatu kehormatan bagi beliau bisa bertemu dengan KH. Abdul Hamid dengan wajah yang bersinar memancarkan cahaya kemuliaan, yang merupakan suatu firasat baik bagi Ibu Nyai.

Setelah boyong dari Pondok Cukir Jombang pada tanggal 10 Mei 1983 Ibu Nyai melanjutkan pendidikannya di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta karena beliau tertarik dengan Qiro’ah Sab’ah. Beliau merupakan mahasiswi aktifis yang pernah menjabat sebagai KOSMA (ketua kelas) dari berbagai suku di Indonesia. Tahun 1984, pernah mewakili Kab. Tanggerang untuk lomba SHQ di Bandung.

Dua bulan menjadi mahasiswa beliau diutus orang tuanya menikah dan setelah 4 hari pernikahan beliau kembali lagi menamatkan studinya di IIQ hingga mendapat gelar MA.

Keluarga

Ibu Nyai Hj. Umi Habibah menikah dengan KH. Iskandar Umar Abdul Latif (Alm) pada hari Kamis, 27 Oktober 1983 tepat tanggal 20 Muharram 1403 di Wadung Asri Waru Sidoarjo. Beliau diaqadkan oleh Abuya as-Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Maliky (guru Kiai Iskandar saat belajar di Makkah). Beliau dikaruniai 9 anak. Mereka bernama :  Gus Muhammad Baha’us Surur, Gus Ahmad Hamam, Gus Muhammad ‘Alawy, Ning Fatimah (Alm), Ning Zahro, Gus Ahmad Haziq, Gus Muhammad Tamam, Gus Ahmad Athoillah (Alm), Ning Fatimatuz Zahro’. Sama halnya dengan keluarga lainnya Ibu Nyai Hj. Umi Habibah pun pernah merasakan manis, asam dan pahitnya kehidupan, bahkan tidak jarang orang-orang yang mengetahui kebaikan dan ketaatan Kiai dan Ibu Nyai mereka iri hati dan sering sekali ingin menyakiti beliau dan keluarga. Akan tetapi, sebagai hamba yang taat atas perintah dan larangan Allah SWT, maka Allah selalu menyayangi hambanya dengan memberikan keistimewaan tersendiri.

Keistimewaan Ibu Nyai Hj. Umi Habibah

Keistimewaan yang dimiliki Ibu Nyai banyak menarik perhatian para santri dan para alumni yang sudah berkeluarga. Kehadiran ibu nyai dianggap membawa berkah lantaran beliau juga menghafal Al-Qur’an. Tidak jarang Ibu Nyai diminta memberikan solusi untuk menyelesaikan permasalahannya, diminta mengobati orang sakit (santri menyebutnya dengan ‘Syifa’, dari air meneral yang masih kemasan kemudian dido’akan Ibu Nyai).

Kegiatan dan Kiprah

Beliau berdua bersama merintis berdirinya Pondok Pesantren Darul Falah Pusat dari nol seperti yang kita lihat sekarang ini. Berkat perjuangan, pengorbanan, dan do’a beliau berdua mampu mendirikan Madrasah Diniyah mulai dari Sekolah Persiapa Tamhidi, Sekolah Persiapan Ta’hili Diniyah, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah (tingkat Diniyah) Terlebih saat ini setelah Romo Kiai wafat, Ibu Nyailah yang memimpin pesantren. Ibu Nyai juga mempunyai sumbangsih besar terhadap berdirinya pesantren. Beberapa sumbangsih beliau diantaranya: Beliau merintis berdirinya Madrasah Al-Qur’an, Play Group, Roudlotul Athfal, dan Madrasah Ibtidaiyah Plus (formal). Demi meningkatkan pengetahuan santri untuk mempelajari ilmu-ilmu Al-Qur’an Ibu Nyai menciptakan sebuah kitab yang diberi nama Kitab Risalatul Falahiyyah. Kitab ini diterbitkan ada sesuai kebutuhan santri, ada yang digunakan untuk tingkatan dasar (RA), MI, MTs, MA (Madrasah Diniyah) sampai yang sudah dewasa (untuk santri yang hafal Al-Qur’an baik Qiro’ah Sab’ah maupun Qiro’ah ‘Asyaroh).

Sebagai seorang pengasuh yang kharismatik juga ibu bagi santri, beliau selalu memberikan wejangan-wejangan yang membuat santri selalu mengingatnya, bahkan ibu nyai juga dijadikan sebagai inspirasi (suri tauladan) dan nasehat-nasehatnya dijadikan sebagai salah satu motivasi dalam menghafal dan menjaga hafalan Al-Qur’annya. Atas perhatian Ibu Nyai terhadap santri-santrinya agar santri bisa kuat hafalannya maka pada tanggal 31 Juli 2011 Sya’ban terakhir, ijazah yang diberikan salah satu habib waktu beliau di Singosari yang tidak boleh ditulis tersebut, di ijazahkan kepada para pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Cabang dan santri tahfidz pusat putra-putri.

Berkat kharisma yang dimiliki oleh Ibu Nyai Hj. Umi Habibah maka dengan seiring perkembangan pesantren, program pembangunan Pondok Pesantren Darul Falah Pusat berjalan semakin baik. Meskipun jumlah santri yang saat ini tergolong lebih sedikit daripada tahun-tahun yang lalu tetapi Ibu Nyai Hj. Umi Habibah tetap memperhatikan kualitas program-program kegiatan yang ada di pesantren baik dalam hal menejemen pengolahan pesantren agar menjadi pesantren yang mandiri, dalam hal pendidikan Formal, Salafiyah, maupun Al-Qur’an. Sehingga dengan penuh perhatiannya Ibu Nyai mampu mengkader para da’i-da’iah (Qur’ani maupun Salafi) yang saat ini terwujud dengan berdirinya 127 Cabang Pondok Pesantren Darul Falah yang setiap tahunnya akan terus bertambah dan tidak luput dari do’a, bimbingan, serta pengawasan beliau.

Pesan Ibu Nyai Hj. Umi Habibah

Ibu Nyai pernah berpesan kepada segenap santri khususnya santri tahfidz, diantaranya: jangan sampai lupa “NDERES” (moroja’ah hafalan). Jangan sampai terbujuk oleh rayuan dan hasutan syetan. Waspadalah! karena Al-Qur’an itu mu’jizat maka berhati-hatilah dengan berbagaimacam cobaan dan rintangan, jangan dikira setelah khatam sudah termasuk “golongan orang-orang mati tak busuk” justru saat itu beban bertambah berat karena harus bisa mengamalkan dan menyampaikan isi atau ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya, memelihara kelancaran, kesucian dan keasliannya. Latihlah jiwa berjuang kalian dengan ikhlas tanpa pamrih, maju pantang mundur, jangan berangan-angan menjadi Bu Nyai atau Pak Kiai yang ulung kalau masih saja keluar dari rel kebenaran tanpa taubat. Bercita-citalah setinggi mungkin, raihlah prestasi tapi jangan lupa berdo’alah untuk mendapatkan rodlo Alloh, mintalah do’a dan keridloan guru serta orang tua. Karena semua itulah yang Insya Allah bisa mewujudkan cita-cita kita bersama.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya