Satria Dharma: Gerakan Khilafahisme Gunakan Kedok Agama untuk Menipu Umat Islam

 
Satria Dharma: Gerakan Khilafahisme Gunakan Kedok Agama untuk Menipu Umat Islam

LADUNI.ID, Jakarta - Penulis buku Mitos Khilafah Ajaran Islam, Satria Dharma, mengatakan bahwa gerakan khilafahisme dari Hizbut Tahrir sangat berbahaya. Sebab, kelompok HT akan terus memprovokasi umat Islam untuk pemerintahnya.

Gerakan HT di Indonesia selalu menuduh pemerintah-pemerintah Indonesia sebagai thagut. Bahkan, kata Satria, umat Islam diajaknya untuk melawan pemerintahnya sendiri. Dengan demikian, sama saja HTI mengajak umat Islam untuk kufur nikmat atas kemerdekaan Indonesia.

“Kita telah merdeka selama 75 tahun, tapi bagi mereka itu tidak ada artinya karena dianggap sebagai pemerintahan thagut. Mereka mengajak umat Islam untuk berkhianat kepada negaranya untuk berpindah ke pemerintahan khilafah yang mereka sendiri tidak tahu,” kata Satria, sebagaimana rilis yang diterima Laduni.id, Senin (12/10).

Satria menyampaikan hal tersebut dalam Webinar Series-21 bertajuk ‘Membaca Kembali Sejarah Khilafahisme dan Penataan Ormas Radikal’, yang diselenggarakan oleh Media Sang Khalifah dan disiarkan langsung melalui Kanal Youtube Sang Khalifah, Sabtu (10/10) siang.

Menurut Satria, HTI selalu melawan pemerintah dengan selalu mendiskreditkan secara terus menerus. Lebih jauh, HTI juga gemar menyebarkan keburukan yang ada dalam pemerintah Indonesia.

“Mereka selalu menunjukkan hal-hal buruk dari pemertintah. Bagi mereka, pemerintah itu tidak ada yang bagus sama sekali,” katanya.

Parahnya, ia mengimbuhkan, HTI selalu menggunakan kedok agama dan dakwah dalam setiap gerakannya. Jadi seolah-olah, segala yang dilakukan oleh mereka adalah ajaran agama. Padahal menurut Satria, yang dilakukan HTI itu adalah kegiatan yang bermuatan politik.

“Sama sekali bukan dakwah agama itu. Dakwah agama hanya kedok mereka saja. Supaya umat Islam tertarik. Karena kita tahu umat Islam itu selalu ingin datang kepada agamanya dan mereka menggunakan kedok agama itu untuk mendiskreditkan pemerintah,” tegasnya.

Mengapa HT bisa menarik hati umat Islam dan bisa menjadikan pengikutnya begitu sangat fanatik?

Satria menjelaskan, ia sudah mengikuti kegiatan HTI sejak 2003 sehingga sudah sangat memahami bagaimana fanatisme anggota HTI.

“Sangat sulit kita mengubah mereka kalau sudah keracunan virus khilafahisme dari HTI. Mereka akan sangat fanatik dan menggunakan berbagai dalih untuk membantah apa yang kita sampaikan,” lanjutnya.

Jika pemikiran dan gerakan HTI itu tidak di-counter maka tidak ada yang bisa melawan mereka. Sebab, anggota-anggota HTI itu sangat fanatik dan merasa paling benar, sehingga pernyataan orang atau pihak lain tidak akan pernah didengarkan.

“Untuk itu perlu sekali kita bersama-sama melawan gerakan HTI ini. Kita perlu mengajak kembali mereka yang sudah tertipu untuk kembali dan setia kepada NKRI,” jelas Satria, berharap.

Siapakah seharusnya yang bertanggung jawab dan berwenang untuk mengatasi masalah indoktrinasi ini?

“Apakah Polisi, MUI, atau TNI? Tidak ada yang bertanggung jawab. Ini yang perlu kita lakukan bahasan bagaimana caranya kita menghadapi gempuran indoktrinasi tersebut,” tambah Satria.

Menurutnya, khilafah sebagai ajaran Islam sebenarnya hanya mitos. Sebab sejak Nabi Muhammad wafat, para sahabat kebingungan soal siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan.

“Sahabat bingung karena Nabi tidak pernah sama sekali menyampaikan amanat atau wasiat kepada satu pun sahabatnya. Karena itu, para sahabat bertengkar dan saling berebut untuk menentukan pengganti Nabi,” ungkap Satria.

Dari perseteruan dan pertengkaran yang terjadi, akhirnya muncul kesepakatan yang dijadikan khalifah selanjutnya pasca-Nabi wafat adalah Abu Bakar. Naiknya Abu Bakar sebagai khalifah itu bukanlah atas keinginan atau wasiat, perintah, dan amanat Nabi. Namun hanya kesepakatan umat Islam sendiri ketika itu.

Jadi, tambah Satria, tidak ada sekali perintah dari Al-Quran dan Nabi, soal berdirinya kekhilafahan pada waktu itu. Berdirinya khilafah itu adalah benar-benar hanya kesepakatan antarumat. Dari situ dapat disimpulkan bahwa semua pemerintahan adalah kesepakatan antarumat.

Dengan demikian, tidak ada satu pun petunjuk dari Nabi Muhammad seperti apa sistem pemerintahannya. Jadi, pernyataan HTI yang harus mendirikan khilafah di Indonesia itu keliru. Karena bangsa Indonesia, kata Satria telah memiliki khilafah sejak 1945.

“Kita kan sudah punya khilafah. Khilafah kita adalah khilafah NKRI yang sudah berdiri sejak 1945 sudah 75 tahun berdiri. Justru yang aneh, orang-orang HTI dari awal sampai sekarang belum ada satu pun kekhilafahan yang mereka dirikan. Jadi umat sendiri sudah punya khalifah, tapi mereka belum punya,” jelas Satria.

Terakhir, dengan tegas, Satria menegaskan bahwa semua yang dikatakan HTI terkait pendirian khilafah, sama sekali tidak bersumber dari Al-Quran karena tidak ada ketentuan di Al-Quran tentang mendirikan kekhilafahan.

“Nabi pun tidak memberikan wasiat soal khilafah. Bahkan sahabat juga tidak,” tutupnya.