26 Oct 2020 · 6.430 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta - Gema shalawat terdengar syahdu dari mushalla pesantren kami. Dilantunkan oleh santri-santri dengan perasaan yang dalam. Sehingga saya pun terhanyut dibuatnya meski saya tidak di tengah-tengah mereka.
Saya selalu merasa terharu jika mendengar lantunan shalawat. Saya jadi teringat masa dulu sewaktu di Krapyak, beberapa kali mengikuti acara shalawatan bersama Alm. Gus Kelik. Sering saya menangis sesenggukan ketika bait marhaban dilantunkan.
Ya, saya memang terlena dengan lantunan shalawat dengan kasyahduan-nya yang mampu menggetarkan jiwa melebihi syahdunya lagu syahdu milik Bang Haji Roma Irama.
Kemudian kecintaan saya dengan shalawat, mengantarkan saya di titik sekarang, di mana saya memaknai bahwa yang juga penting dari pembacaan shalawat dengan lisan adalah penghayatan shalawat dengan perbuatan nyata, tidak sekadar kata-kata. Memang meskipun hanya dengan dilafadhkan, lantunan shalawat itu tetap menjadi mengandung keberkahan tersendiri. Tapi ketika kecintaan pada Nabi itu di
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+