Syekh Ahmad Nahrawi Mukhtarom al-Banyumasi adalah ulama Nahdlatul Ulama
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil Syekh Ahmad Nahrawi Mukhtarom al-Banyumasi
- Kelahiran
- Wafat
- Pendidikan
- Kisah Sang Kakak
- Menjadi Guru di Makkah
- Menjadi Mursyid Thariqah
- Chart Silsilah Sanad
Kelahiran
Ahmad Nahrawi Mukhtarom Al Banyumasi lahir di Banyumas sekitar pada 1800 M. Beliau adalah putra pasangan KH. Hardja Muhammad dan Nyai Salamah. Ayah beliau merupakan generasi ketiga Imam Masjid Darussalam (Masjid Kauman Purbalingga).
Wafat
Syekh Nahrawi Mukhtarom Al Makki Al Banyumasi wafat pada tahun 1926 M pada usia 125 tahun dan dimakamkan Ma’la di Makkah. Meski demikian kiprah dakwahnya di tanah air tidak pernah terputus. Dakwah terus bersambung dilanjutkan keluarganya di Purbalingga.
Pendidikan
Masa kecil Nahrowi dilewatinya dengan belajar al-Qur’an dan ilmu agama kepada ayahnya, KH. Harja Muhammad yang juga dikenal Imam Masjid Darussalam Purbalingga
Sebagaimana ulama Jawa kebanyakan Nahrowi Mukhtarom dan kakak beliau Abu ‘Ammar belajar ke Makkah. Saat itu bertepatan dengan puncak geger Perang Diponegoro (1825-1830 M) yang membuat banyak sekali santri dan kalangan terpelajar dari tanah Jawa pergi ke luar negeri untuk mempelajari agama sambil lalu menunggu suasana tanah air tenang.
Saat itu juga Makkah menjadi pusat peradaban ilmu dengan guru-guru ulama yang sangat mumpuni seperti Syekh Muhammad al-Maqri a-Mishri al-Makki, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti madzab Syafi’iyah di Makkah, Syekh Ahmad An-Nahrawi al-Mishri al-Makki, Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, salah seorang guru di Masjid Nabawi dan lain-lain.
Kisah Sang Kakak
Sejak itu, Syekh Nahrowi tidak kembali ke Nusantara. Beliau memilih berkarier di Makkah dan guru yang ulung. Berbeda dengan sang Kakak, Abu ‘Ammar. Abu ‘Ammar pulang ke tanah air dan menjadi Imam Masjid Agung Purbalingga.
KH. Abu ‘Ammar pulang dari Makkah langsung menghidupkan dan memakmurkan Masjid Agung Purbalingga. Masjid tersebut merupakan peninggalan Mbah Abu ‘Ammar dan keluarganya. Sebab, tanah wakaf itu atas nama KH. Hardja Muhammad yang tidak lain adalah ayah Mbah Abu ‘Ammar .
KH. Abu ‘Ammar juga dikenal dengan kelapangan dan luwes dalam bergaul. Hal itu dibuktikan dengan kedekatan Mbah Abu ‘Ammar dengan tokoh lintas organisasi, seperti KH. Hasyim Asy’ari (NU) dan Kiai Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) pernah datang dan berdiskusi di Masjid Kauman semasa Mbah Abu ‘Ammar. Bahkan Syekh Syurkati, pendiri Al Irsyad Al Islamiyah dari Makkah dikabarkan juga pernah bertandang.
KH. Abu ‘Ammar adalah seorang intelektual muslim yang sangat disegani tidak saja pada regional Banyumas akan tetapi juga nasional. Kancah KH. Abu ‘Ammar di tingkat nasional bisa ditelusur ketika berteman akrab dengan seorang hakim Belanda yang sangat terkenal yaitu Prof. Terrhar.
Diskusi yang intens KH. Abu ‘Ammar ini dengan Terrhar ini kemudian memunculkan perlunya sebuah peradilan bagi kaum inderland tersendiri yang terpisah dengan landrat yang ada ketika itu. Peradilan ini hanya diberlakukan buat kaum inderlands yang berhubungan dengan hukum-hukum perdata (Begerlijc Wetbook).
Sektor yang diurus oleh peradilan ini meliputi pernikahan, perceraian, hukum waris. Peradilan ini kemudian dikenal dengan Pengadilan Agama. Peradilan agama ini t
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

