Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Tuntunan Ibadah · Sosial Budaya

Sebuah Refleksi tentang NU dan Kewalian Para Pendirinya

26 Jan 2021 Β· 3.363 dibaca · Sosial Budaya

Laduni.ID, Jakarta - Semakin banyak yang memusuhi Nahdlatul Uluma (NU), maka ia akan semakin besar dan pihak-pihak yang memusuhinya pasti akan hancur. Demikian perjalanan sejarah membuktikan. Pada era 1950-an, NU menjadi bulan-bulanan Masyumi. Sikap su’ul adab Masyumi ini berujung pada mufaraqah-nya (memisahkan diri) NU dari Masyumi. Apa yang terjadi setelah itu? NU semakin besar dengan raihan 45 kursi di parlemen pada pemilu 1955. Padahal sebelumnya hanya mendapat jatah 8 kursi saat NU masih bersama Masyumi. Beberapa tahun kemudian, Masyumi dibubarkan oleh pemerintah (Orla) karena keterlibatannya dalam aksi makar di beberapa daerah di Indonesia.

Hal yang sama juga dialami oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan ideologi komunisnya dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dengan ideologi khilafahnya. Sikap permusuhan keduanya atas NU telah jamak diketahui. Nasib keduanya pun tidak jauh berbeda dengan Masyumi, dibubarkan dan dicatat sebagai organisasi terlarang di Indonesia.

Apa yang membuat NU demikian sakti? Banyak faktor. Salah satunya ada

πŸ”’
Lanjutkan membaca dengan Laduni+

Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β€” tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+
← Kembali ke Tuntunan Baca di situs utama →