Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Sulaiman Zuhdi Affandi
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Sulaiman Zuhdi Affandi

lahir 1948 M · 16.102 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Sulaiman Zuhdi Affandi adalah ulama NU.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Sulaiman Zuhdi Affandi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pengasuh Pesantren
  4. Belajar Thoriqah
  5. Membangun Masjid
  6. Konsep Dakwah
  7. Mengabdi di Masyarakat

Kelahiran

KH. Sulaiman Zuhdi Affandi dilahirkan Kebonsari, Madiun.

Wafat

KH. Sulaiman Zuhdi Affandi wafat pada bulan September 1948 bersama Bupati Magetan. Mereka berdua meninggal oleh keganasan PKI ketika melakukan petualangan politik di Madiun, yang dikenal dengan Madiun Affair.

Pengasuh Pesantren

Pondok Pesantren Mojopurno-Magetan, adalah tempat kediamanan KH. Sulaiman Zuhdi Affandi dan keluarganya. Pondok tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat masyarakat belajar agama saja, tetapi disana tempat warga masyarakat bekerja meningkatkan taraf ekonominya.

Belajar Thoriqah

Kobonsari merupakan tempat belajar agama dan thoriqah (olah batin melalui dzikir kepada Allah).  Ketika itu sebagaian santri Kebonsari yang berasal dari Magetan meminta kepada keluarga Ndalem Kebonsari supaya mengirimkan salah seorang kiainya ke Magetan.

Maka sekitar antara tahun 1929-1930 ndalem menunjuk Sulaiman untuk ke Magetan. Sebelum benar-benar tinggal di Magetan, Sulaiman terlebih dahulu memohon petunjuk kepada Allah SWT. Setelah melalui istikharah dan pertimbangan yang matang, maka Sulaiman berketetapan hati bertempat tinggal di Desa Mojopurno sebagai tempat dan pusat kegiatan dakwah serta kemasyarakatannya.  

Membangun Masjid

Pertama-tama yang dilakukannya adalah dengan membangun masjid di Mojopurno. Mojopurno pada saat itu adalah tempat maksiat, liar, banyak para pemabuk, tukang judi, perampok, suka datang ke punden, dan keburukan-keburukan lainnya, serta masyarakatnya yang masih banyak hidup dalam kemiskinan.

Tanah tempat dimana masjid dibangun oleh Sulaiman dikenal sebagai tempat yang sangat angker saat itu. Keberhasilan Sulaiman membangun masjid dan menghilangkan keangkeran tempat tersebut mendatangkan nilai tersendiri dan secara tidak langsung membawa pengakuan masyarakat akan keunggulan pribadinya.  

Sedikit demi sedikit masyarakat banyak yang berdatangan ke kediaman Sulaiman. Pertama kali yang datang kepadanya adalah santri-santri Kebonsari yang dari Magetan, kehadiran Sulaiman sedikit memudahkan mereka belajar, sebab mereka tidak perlu jauh-jauh datang ke Madiun.

Didukung dengan tidak hanya terbatas pada keahlian agama dan tarekat saja, tetapi kemampuannya menciptakan peluang dan lapangan ekonomi, Sulaiman tidak butuh waktu yang lama untuk merubah masyarakat Mojopurno menjadi orang-orang yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan agamanya.  

Sempat Sulaiman mengalami kesulitan bagaimana cara mengumpulkan masyarakat ke masjidnya. Di tengah-tengah berpikir mencari cara, ketika itu di tempat lain tidak jauh dari Desa Mojopurno menggelar acara reog yang di datangkan dari Ponorogo.

Saat itu masyarakat Mojopurno keluar dari rumah-rumah mereka beramai-ramai untuk menonton pertunjukan reog di desa tetangga tersebut. Dari sana muncullah ide Sulaiman, bahwa untuk mengumpulkan masyarakat berada di satu tempat harus mengadakan acara besar dan salah satu pertunjukan yang berhasil menyedot perhatian masyarakat adalah reog.

Konsep Dakwah

Sulaiman kemudian mengundang reog Ponorogo kira-kira tahun 1933. Sulaiman mengkonsep reog tersebut dalam rangka untuk hari-hari besar Islam semisal peringatan Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi Muhammad SAW

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+